Gaethje: Mengapa Aku Tidak KO Pimblett di UFC 324?

Diposting pada

Justin Gaethje, petarung kelas ringan yang dikenal dengan gaya bertarungnya yang eksplosif, memberikan penjelasan mengenai keputusannya untuk tidak langsung mengalahkan Paddy Pimblett dalam pertarungan mereka di UFC 324. Meskipun mendominasi jalannya pertandingan, Gaethje memilih untuk memberikan pelajaran kepada lawannya daripada meraih kemenangan cepat.

Pertarungan yang berlangsung di T-Mobile Arena, Nevada, pada hari Minggu (25/1/2026) tersebut, mempertemukan Gaethje dan Pimblett dalam perebutan sabuk interim kelas ringan UFC. Sejak ronde pertama, Gaethje menunjukkan keunggulannya. Pukulan-pukulan jab dan hook-nya berulang kali mendarat telak di tubuh Pimblett, membuatnya terhuyung.

Bahkan, Pimblett sendiri mengakui bahwa ia hampir kalah KO di ronde pertama. “Sejujurnya, dia memukul saya dengan pukulan ke badan di ronde pertama, tepat mengenai ulu hati saya, dan itu bisa membuat saya KO,” ungkap Pimblett setelah pertandingan.

Dalam dua ronde awal, Gaethje memiliki beberapa kesempatan untuk mengakhiri pertarungan lebih cepat, terutama saat ia berhasil melakukan ground-and-pound. Namun, alih-alih langsung menghabisi lawannya, Gaethje memilih untuk menahan diri.

“Saya tahu dia tidak akan menyerah. Dia bukan tipe orang yang mudah menyerah,” kata Gaethje dalam konferensi pers setelah pertarungan. “Dan untungnya, saya meraih beberapa keberhasilan di awal. Saya harus merebut momentumnya, dan dia sangat percaya diri. Saya harus mengambil kesempatan itu sejak awal,” jelasnya.

Lantas, apa alasan di balik keputusan Gaethje untuk menunda kemenangannya? Berikut adalah beberapa poin penting yang diungkapkan oleh Gaethje:

  • Memberi Pelajaran: Gaethje secara terang-terangan menyatakan bahwa ia ingin memberikan pelajaran kepada Pimblett. Ia merasa bahwa Pimblett terlalu percaya diri dan sering meremehkan lawan-lawannya sebelum bertanding. Gaethje ingin membungkam khayalan Pimblett dan membuatnya belajar dari kekalahan ini.
    “Aku sebenarnya ingin menghabisinya, tetapi aku senang memberinya pelajaran,” kata Gaethje. “Dia bilang wajahku tidak akan terlihat sama setelah pertarungan, dan wajahnya akan terlihat persis sama. Jadi begitu selesai, aku langsung berkata, ‘Lihat wajahmu, wajahmu tidak terlihat sama.'”

  • Pengalaman Pribadi: Gaethje menceritakan bahwa ia teringat pada pengalamannya sendiri di masa lalu, saat ia masih muda dan terlalu percaya diri. Ia merasa bahwa Pimblett saat ini berada di posisi yang sama seperti dirinya dulu. Gaethje ingin memberikan Pimblett pelajaran berharga yang akan membantunya menjadi petarung yang lebih baik.
    “Saat saya masuk ke sana, dia tidak mengalihkan pandangannya dari saya,” ucap Gaethje. “Itu seperti saya belum lama ini, dan saya adalah Eddie Alvarez, di sini untuk memberinya pelajaran. Hal yang sama (Alvarez) lakukan kepada saya,” paparnya.

  • Mentalitas yang Salah: Gaethje mengkritik mentalitas Pimblett yang terlalu percaya diri dan meremehkan lawan. Ia berpendapat bahwa mentalitas seperti itu dapat membahayakan seorang petarung. Gaethje menekankan pentingnya menerima kemungkinan terburuk dan bertaruh pada diri sendiri.
    “Dia akan belajar dari ini. Anda tidak bisa memiliki mentalitas seperti itu ketika datang ke sini. Dia perlu menerima hasil terburuk yang mungkin terjadi, dan itulah cara Anda tampil terbaik ketika tekanan paling tinggi. Saya belajar itu sejak awal, dan ini adalah olahraga yang sangat gila. Apa pun bisa terjadi kapan saja. Anda hanya perlu bertaruh pada diri sendiri,” tutur Gaethje.

  • Kepercayaan Diri yang Palsu: Gaethje menyoroti cara Pimblett mengolok-olok lawan sebelum pertarungan. Menurutnya, hal tersebut tidak bagus bagi seorang petarung tangguh seperti Pimblett.
    “Anda harus belajar dari pelajaran ini,” ucap Gaethje. “Pola pikirnya menjelang pertarungan itu tidak bagus. Anda tidak bisa melakukan itu seperti ini. Kepercayaan diri yang palsu itu mengerikan. Itu akan membunuh Anda setiap saat, dan itulah yang dia miliki.”

Gaethje berharap bahwa Pimblett dapat belajar dari kekalahan ini dan menjadi petarung yang lebih baik di masa depan. Ia mengakui bahwa Pimblett memiliki potensi yang besar, namun ia perlu mengubah mentalitasnya agar dapat mencapai puncak kesuksesan.

“Dia benar-benar bagus, dia punya nyali baja, tidak bisa dikalahkan, jelas. (tetapi) Saya telah mengalahkannya,” pungkas Gaethje.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan