Analisis Mendalam: Penyebab Longsor Gunung Burangrang yang Kompleks
Longsor dahsyat yang melanda lereng kaki Gunung Burangrang di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah memicu perdebatan mengenai faktor penyebabnya. Pihak Badan Geologi memberikan pandangan yang komprehensif, menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah semata-mata akibat alih fungsi lahan, melainkan kombinasi kompleks dari beberapa faktor geologi, kondisi kemiringan lereng, dan intensitas curah hujan yang tinggi.
Kondisi Geologi yang Rentan
Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Edy Slameto, menjelaskan bahwa fondasi geologi di lokasi longsor memainkan peran krusial. Wilayah tersebut didominasi oleh batuan vulkanik yang telah mengalami proses pelapukan intensif.
“Secara geologi, wilayah ini didominasi batuan vulkanik yang sudah mengalami pelapukan intensif. Material hasil lapukan inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya longsor, bukan batuan utamanya,” ujar Edy saat ditemui di posko pengungsian Desa Psirlangu. Material hasil pelapukan ini, yang seringkali berupa tanah gembur dan rapuh, menjadi lebih mudah bergerak ketika jenuh oleh air, terutama saat curah hujan tinggi.
Kemiringan Lereng yang Curam: Faktor Risiko Tambahan
Selain kondisi geologi, kemiringan lereng yang terjal di kawasan tersebut turut memperbesar potensi terjadinya longsor. Lereng yang curam secara inheren memiliki stabilitas yang lebih rendah.
Peristiwa longsoran yang telah terjadi ini secara signifikan mengubah morfologi lereng. Perubahan ini memerlukan upaya pemetaan ulang yang cermat untuk memahami kondisi topografi terkini dan mengidentifikasi potensi bahaya susulan.
“Kondisi lerengnya sangat curam. Setelah terjadi longsor, morfologi pasti berubah. Ini perlu waktu untuk dipetakan ulang agar diketahui posisi lereng dan sebaran endapan vulkaniknya,” jelas Edy. Pemetaan ulang ini penting untuk mendapatkan gambaran yang akurat mengenai kontur tanah, arah aliran material, dan area yang paling berisiko untuk longsor susulan.
Peran Krusial Curah Hujan Tinggi
Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah intensitas curah hujan yang tinggi dan berlangsung secara terus-menerus. Curah hujan merupakan parameter dinamis yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia, namun memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas lereng.
Ketika tanah di lereng jenuh oleh air hujan, beban yang ditanggung oleh lapisan tanah di bawahnya akan meningkat drastis. Air juga bertindak sebagai pelumas, mengurangi gesekan antarpartikel tanah, sehingga memudahkan pergerakan massa tanah ke bawah.
Edy menekankan bahwa ketiga faktor ini—kondisi geologi, kemiringan lereng, dan curah hujan—tidak bekerja secara terpisah.
“Tiga parameter ini, geologi, kemiringan lereng, dan curah hujan, tidak berdiri sendiri. Semuanya saling berkaitan dan memperbesar risiko longsor,” tegasnya. Interaksi antara material geologi yang rapuh, lereng yang curam, dan beban air yang berlebih menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap bencana longsor.
Alih Fungsi Lahan: Perlu Kajian Lebih Lanjut
Terkait dugaan bahwa alih fungsi lahan turut berkontribusi terhadap bencana ini, Badan Geologi menyatakan bahwa mereka belum dapat memberikan pernyataan definitif tanpa melakukan kajian mendalam.
Edy menegaskan bahwa bencana alam jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Jika ada pihak yang mengaitkan alih fungsi lahan sebagai salah satu penyebab, hal tersebut mungkin saja terjadi, namun memerlukan penelitian lebih lanjut.
“Kalau ada pihak yang menyebut alih fungsi lahan sebagai salah satu faktor, itu mungkin saja. Tapi perlu kajian lebih lanjut. Yang jelas, tidak ada bencana yang terjadi hanya karena faktor tunggal atau satu penyebab,” ujarnya. Alih fungsi lahan, misalnya perubahan dari hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman, dapat mengubah pola drainase air dan mengurangi daya dukung tanah, yang pada akhirnya bisa memperbesar risiko longsor, namun ini harus dibuktikan melalui studi ilmiah.
Skala dan Karakteristik Longsor di Cisarua
Berdasarkan pemetaan awal yang dilakukan oleh tim Badan Geologi, longsor di Cisarua memiliki skala yang cukup besar. Panjang longsoran diperkirakan mencapai sekitar 2,5 kilometer, sementara lebarnya mengikuti alur sungai yang berada di bagian bawah lereng.
Volume material yang bergerak akibat longsor ini diperkirakan sangat signifikan, berkisar antara 500.000 hingga 1 juta meter kubik.
“Longsor ini mengikuti pola aliran sungai karena di bagian bawah terdapat sungai. Material bergerak mengikuti jalur tersebut,” kata Edy, menjelaskan bagaimana topografi dan keberadaan sungai mempengaruhi arah dan jangkauan pergerakan material longsor.
Langkah Pencegahan dan Rekomendasi Teknis
Untuk meminimalkan risiko bencana lanjutan dan melindungi masyarakat, tim Badan Geologi akan terus berada di lokasi longsor setiap hari. Tugas utama mereka adalah mengumpulkan data terkini, memantau pergerakan tanah, dan memperbarui informasi mengenai kondisi geologi dan potensi bahaya.
Hasil kajian yang mendalam ini akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis. Rekomendasi tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari penentuan zona aman, kebutuhan relokasi bagi warga yang terdampak, hingga langkah-langkah mitigasi struktural dan non-struktural.
“Kami berupaya secepat mungkin memberikan rekomendasi teknis agar jika terjadi pergerakan susulan, tidak sampai menimbulkan korban,” pungkas Edy, menekankan urgensi dan komitmen Badan Geologi dalam upaya penanggulangan bencana ini.




















