Perahu: Inovasi Pendidikan dari Tepian Rawa untuk Generasi Berkarakter
Di Desa Muning Dalam, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, sebuah perahu bukan sekadar alat transportasi. Bagi Syihabuddin S.Pd, seorang Guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Muning Dalam, perahu adalah simbol dedikasi dan pengabdian yang tak kenal lelah. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 kilometer melintasi sungai kecil dan hamparan rawa menggunakan perahu bermesin untuk mencapai sekolahnya. Perjalanan ini adalah bagian tak terpisahkan dari tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di daerah yang terpencil.
Kondisi geografis yang unik ini justru menginspirasi Syihabuddin untuk menciptakan sebuah metode pembelajaran inovatif yang ia namai “Perahu”. Nama ini merupakan akronim dari Pembiasaan Religius dan Holistik Unplugged. Metode ini lahir dari sebuah gerakan sederhana yang bertujuan untuk menumbuhkan tiga pilar utama pada diri murid: keimanan, logika berpikir, dan kemandirian. Melalui kegiatan-kegiatan yang menyentuh aspek agama, pembentukan karakter, dan pemanfaatan teknologi dasar secara bijak, Syihabuddin berupaya membekali anak didiknya menghadapi tantangan zaman.
“Pendekatan ini saya terapkan agar anak-anak di daerah rawa, meski jauh dari fasilitas teknologi, tetap dapat belajar berpikir kritis, kreatif, religius, dan beretika dalam dunia digital,” jelas Syihabuddin. Ia menekankan pentingnya membimbing dan mendampingi murid dalam keseharian, tidak hanya di dalam kelas, untuk memastikan pembiasaan religius berjalan dengan baik. Kehadirannya menjadi sangat berarti ketika murid membutuhkan bimbingan, baik dalam urusan akademis maupun pembentukan karakter.
Perahu: Mengukir Prestasi Melalui Dedikasi Tanpa Batas
Berkat metode “Perahu” yang inovatif dan dedikasinya yang luar biasa, Syihabuddin berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi. Pada ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tahun 2025 Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK), ia dinobatkan sebagai Terbaik II Kategori GTK Dedikatif Guru SD.
Lebih dari sekadar mengajar di ruang kelas, Syihabuddin memahami bahwa mendidik anak-anak di daerah rawa memerlukan pendekatan yang lebih mendalam. Ia kerap kali harus menginap di sekolah, mendampingi anak-anak mengaji di malam hari, berbagi makanan, dan melaksanakan salat berjamaah. Pengalaman-pengalaman ini mengajarkannya bahwa karakter sejati tidak dibentuk hanya dengan kata-kata, melainkan melalui kehadiran yang nyata dan keteladanan yang konsisten. “Kadang kami belajar di tepi sungai sambil berdiskusi ringan. Kebersamaan itulah saya belajar bahwa karakter tidak dibangun dengan kata, tapi melalui kehadiran dan keteladanan,” ungkapnya.
Prestasi Syihabuddin tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024, ia kembali meraih penghargaan serupa, yaitu Terbaik II pada ajang Jambore GTK Hebat 2024 Provinsi Kalsel Program GTK Dedikatif Kategori Guru SD.
Tidak hanya itu, inovasinya juga diakui di tingkat nasional. Syihabuddin meraih Terbaik III Guru Inovatif dan Berdedikasi Tingkat SD/MI pada ajang lomba guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan inovatif dan berdedikasi di daerah 3T, yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Jakarta. Penghargaan ini juga mencakup apresiasi dalam admin keanggotaan PGRI dan special performance dalam pembelajaran.
Pendidikan Sejati Lahir dari Ketulusan dan Kolaborasi
Pengalaman panjang bertugas di daerah rawa telah menggoreskan pelajaran berharga bagi Syihabuddin. Ia menyadari bahwa pendidikan yang sesungguhnya tidak pernah menunggu kesempurnaan fasilitas, melainkan tumbuh dari ketulusan hati seorang pendidik. Metode “Perahu” menjadi wujud nyata dari keyakinannya bahwa nilai-nilai agama yang kuat, kemampuan berpikir logis yang tajam, dan semangat kolaborasi dapat berkembang subur bahkan di tengah keterbatasan.
Melalui pendekatan “Pembiasaan Religius dan Holistik Unplugged”, Syihabuddin tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang akan membentuk generasi penerus yang beriman, berkarakter, dan mampu beradaptasi di era digital, meskipun berasal dari lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk teknologi. Perahu yang membawanya ke sekolah setiap hari kini telah menjelma menjadi simbol perjalanan pengabdian yang menginspirasi banyak pihak.






