Kapasitas Pertahanan Israel Menipis di Tengah Serangan Iran dan Dukungan Hizbullah
Pekan ini, Israel menyampaikan kekhawatiran mendesak kepada Amerika Serikat mengenai kondisi stok pencegat rudal balistiknya yang kian menipis. Situasi ini diperparah oleh serangan berkelanjutan dari Iran, yang semakin diintensifkan dengan bantuan dari kelompok Hizbullah di Lebanon. Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi laporan ini, menggarisbawahi bahwa Israel memasuki fase konflik saat ini dengan jumlah pencegat yang sudah rendah, akibat penggunaan yang signifikan selama perang musim panas lalu melawan Iran.
Sistem pertahanan jarak jauh Israel dilaporkan menghadapi kewalahan yang luar biasa akibat intensitas serangan Iran. Laporan lain menyebutkan bahwa Iran bahkan menambahkan munisi tandan ke dalam rudalnya, sebuah taktik yang berpotensi mempercepat penipisan stok pencegat milik Israel.
Amerika Serikat telah menyadari potensi penipisan kapasitas pertahanan Israel ini selama berbulan-bulan. Seorang pejabat AS menyatakan, “Ini adalah sesuatu yang kami perkirakan dan antisipasi.” Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas di kalangan AS mengenai berkurangnya jumlah pencegat akibat keterlibatan militer yang berkepanjangan di berbagai front, yang secara tidak langsung menempatkan Amerika Serikat dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Penampakan peluncur Iron Dome yang hancur dirudal Hizbullah di utara Israel, Rabu (5/6/2024). – (Telegram)
Tantangan Pasokan dan Solusi Pertahanan
Muncul pertanyaan krusial mengenai kemungkinan Amerika Serikat akan menjual atau membagikan alat pencegat buatannya kepada Israel. Keputusan semacam itu tentu akan memberikan tekanan tambahan pada pasokan domestik AS. Namun, perlu dicatat bahwa Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam menyertakan aset pertahanan rudal dalam paket bantuan militer yang diberikan kepada Israel di masa lalu.
Pejabat AS tersebut lebih lanjut menekankan, “Kami memiliki semua yang kami perlukan untuk melindungi pangkalan dan personel kami di kawasan dan kepentingan kami.” Namun, ia juga menegaskan bahwa Israel harus “menemukan solusi untuk mengatasi” kekurangan yang mereka hadapi.
Selain mengandalkan pencegat rudal, Israel memiliki metode pertahanan lain untuk melawan rudal Iran selama perang, termasuk penggunaan jet tempur. Namun, pencegat rudal tetap menjadi salah satu senjata pertahanan paling efektif melawan tembakan jarak jauh. Berbeda dengan sistem pertahanan rudal Iron Dome, yang dirancang khusus untuk menangkis ancaman tembakan jarak pendek.
Persediaan Amunisi AS dan Peningkatan Produksi
Di sisi lain, mantan Presiden Donald Trump pernah menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi yang “hampir tidak terbatas.” Meskipun demikian, para analis pertahanan telah lama berpendapat bahwa persediaan amunisi AS sebenarnya lebih rendah dari yang diinginkan oleh kalangan militer.
Sebagai gambaran, pada Juni 2025, Amerika Serikat dilaporkan menembakkan lebih dari 150 pencegat THAAD selama perang 12 hari melawan Iran. Angka ini, menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional, diperkirakan setara dengan seperempat dari total persediaan AS pada saat itu. Selain itu, laporan lain menyebutkan bahwa AS diyakini telah menghabiskan pencegat Patriot senilai sekitar 2,4 miliar dolar AS hanya dalam lima hari pertama perang tersebut.
Menyadari potensi dampak dari penggunaan pencegat yang intensif, Pentagon mengambil langkah proaktif pada bulan Januari lalu untuk mulai meningkatkan produksi sistem pertahanan rudal THAAD secara substansial. Pejabat AS menyatakan bahwa pemerintah memiliki stok THAAD dan jet tempur yang memadai, serta pencegat tingkat menengah.
Juru bicara Kepala Pentagon, Sean Parnell, dalam pernyataannya kepada media, menegaskan bahwa departemen tersebut “memiliki semua yang diperlukan untuk melaksanakan misi apapun pada waktu dan tempat” yang dipilih oleh Presiden. Hal ini menunjukkan kesiapan Pentagon untuk merespons berbagai skenario yang mungkin timbul.



















