Beberapa peristiwa dan informasi terkini di kota dan kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi sorotan utama dalam 24 jam terakhir. Mulai dari insiden terbaru yang menimpa Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Samarinda, hingga masalah krusial terkait pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk angkutan sungai Mahakam. Selain itu, kabar baik datang dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dengan dimulainya perbaikan jalan rusak Muara Lawa-Bentian Besar.
Jembatan Mahulu Kembali Tertabrak Tongkang
Jembatan Mahulu, ikon Kota Samarinda, kembali mengalami insiden tabrakan oleh kapal ponton batu bara pada Minggu (25/1/2026) pagi. Menurut informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa terjadi sekitar pukul 06.00 WITA. Kapal dengan nama Lambung Tugboat (TB) Marina 1631, yang menarik tongkang BG Marine Power 3306 bermuatan ratusan ton, terlihat mendekat ke pilar jembatan.
Akibatnya, pilar jembatan di sisi Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, tepatnya di pilar 8 dan 9, terhantam buritan tongkang. Fender pelindung Jembatan Mahulu Samarinda juga turut terkena dampak. Tongkang batu bara tersebut sempat melintang sebelum akhirnya ditarik menjauh oleh dua hingga tiga tugboat.
Teddy, seorang warga Loa Buah yang tinggal di bantaran Sungai Mahakam, sekitar 700 meter dari Jembatan Mahulu, menuturkan bahwa ia mendengar suara benturan keras. “Saya waktu kejadian, sedang aktivitas di rumah, tiba suara nyaring itu, Duar, ngiiikk begitu, tertabrak, lalu digeseknya pilar beton itu sama buritan kapal. Waktu dilihat, ternyata tertabrak lagi jembatan,” jelas Teddy.
Pada pukul 11.45 WITA, tongkang tersebut sudah dievakuasi dan ditambatkan agak jauh dari jembatan. Lalu lintas di atas dan bawah jembatan Mahulu tampak lengang. Meskipun demikian, truk-truk bertonase besar melintas dengan kecepatan rendah, begitu pula kendaraan roda dua dan empat.
Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Perhubungan (Dishub) telah mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelayaran (KSOP) Samarinda untuk menghentikan sementara alur pelayaran di Sungai Mahakam. Kepala Dishub Kaltim, Yusliando, menegaskan bahwa pihaknya telah mengetahui insiden ini dan segera bertindak.
Terkait kondisi kapal tugboat dan tongkang, Yusliando menyerahkan penyelidikan lebih lanjut kepada Sat Polairud Polresta Samarinda dan KSOP.
Krisis BBM Ancam Lumpuhkan Angkutan Sungai Mahakam
Transportasi sungai di Kaltim, khususnya di Sungai Mahakam, mengalami kelumpuhan akibat krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Sejak Jumat (23/1/2026), sedikitnya 28 kapal pengangkut barang dan penumpang yang melayani rute di tiga kabupaten, yaitu Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar), dan Mahakam Ulu (Mahulu), terpaksa berhenti beroperasi.
Kapal-kapal yang berlayar hingga daerah hulu Sungai Mahakam tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran karena stok BBM bersubsidi kosong. Kondisi ini diperparah oleh belum terbitnya rekomendasi baru dari instansi terkait, yang menjadi syarat pengajuan BBM bagi kapal rakyat. Akibatnya, penumpang dan barang menumpuk di dermaga Pelabuhan Sungai Kunjang, Samarinda.
Husaini, seorang pengurus kapal, mengatakan bahwa penghentian operasional ini berdampak besar pada mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Transportasi sungai selama ini menjadi pilihan utama karena biayanya terjangkau. Mahyuni, seorang nakhoda kapal, menambahkan bahwa selisih harga yang jauh antara BBM subsidi dan non-subsidi menjadi beban berat bagi pengusaha kapal.
Krisis BBM ini juga mengancam kenaikan harga sembako di wilayah pedalaman. Kapal-kapal sungai merupakan tulang punggung distribusi bahan pokok ke tiga kabupaten tersebut. Sadil, seorang pedagang BBM di Long Bagun, Mahakam Ulu, menjelaskan bahwa harga BBM di tingkat pengecer sudah mulai terpengaruh.
Husaini Anwar, pengurus kapal lainnya, mengungkapkan bahwa masalah utama terletak pada berakhirnya masa berlaku surat rekomendasi untuk memperoleh BBM bersubsidi. Perpanjangan terhambat karena aturan baru yang membuat Dinas Perhubungan Kota Samarinda tidak lagi berwenang mengeluarkan rekomendasi.
Gubernur Kaltim, Rudy Masud, telah turun tangan menindaklanjuti keluhan ini dengan berkoordinasi langsung dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Sementara itu, Kepala Bidang Pelayaran Dishub Kaltim, Ahmad Maslihuddin, menjelaskan bahwa pihaknya telah menggelar pertemuan dengan para pemangku kepentingan.
Syahrudin, seorang buruh di Pelabuhan Sungai Kunjang, mengungkapkan kekhawatirannya akan kehilangan penghasilan jika masalah ini berlarut-larut. Ia berharap agar masalah BBM ini segera teratasi agar aktivitas pelabuhan kembali normal.
Perbaikan Jalan Rusak Muara Lawa–Bentian Besar Dimulai
Setelah bertahun-tahun dikeluhkan warga, perbaikan jalan Muara Lawa–Bentian Besar akhirnya mulai direalisasikan pada 2026. Ruas jalan nasional yang terletak di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) ini akan ditangani melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan total alokasi anggaran sebesar Rp183 miliar.
Kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat Kecamatan Bentian Besar yang selama ini harus menghadapi kondisi jalan rusak parah. Jalan ini merupakan jalur lintas provinsi yang vital, menghubungkan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah melalui jalur darat.
Lubang menganga, genangan lumpur, dan debu tebal kerap memicu kecelakaan lalu lintas dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat. Truk-truk pengangkut buah sawit atau CPO yang sering melintas juga memperparah kondisi jalan.
Pada Minggu (25/1/2026), terlihat sejumlah alat berat bekerja menutup lubang dan melakukan perbaikan. Syamsul Wathoni, Kabag Teknik PT Bumi Karsa, menjelaskan bahwa proyek peningkatan jalan ini akan dikerjakan oleh PT Bumi Karsa, dimulai dari Simpang Kalteng hingga STA 40 atau sepanjang kurang lebih 40 kilometer.
Metode pengerjaan jalan disesuaikan dengan kondisi jalan. Di beberapa titik dilakukan pengaspalan, sebagian menggunakan cor beton (rigid), sementara ruas lainnya masih dalam tahap pengerasan hingga agregat. Selain peningkatan jalan, proyek ini juga masuk dalam program preservasi jalan nasional yang berlanjut hingga tahun berjalan.
Curah hujan tinggi serta aktivitas kendaraan berat kerap mempercepat kerusakan jalan. Beberapa titik ruas jalan yang mengalami kerusakan parah di antaranya di Kilometer 7, Kilometer 11 atau di daerah Gunung Odang, Kilometer 12 dan di daerah pancuran atau Kilometer 13.
Sebagai langkah antisipasi, pihak terkait berencana memasang rambu lalu lintas dan pembatasan tonase kendaraan, dengan batas maksimal 8 ton untuk kendaraan yang melintas.



















