Margaret Aliyatul Maimunah, Pimpinan Vokal Fatayat NU, Berpulang ke Rahmatullah
Dunia pergerakan perempuan Indonesia berduka. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) masa khidmah 2022–2027, dikabarkan telah menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 1 Maret 2026. Beliau berpulang di Rumah Sakit Fatmawati, meninggalkan jejak perjuangan yang mendalam, terutama dalam advokasi hak perempuan dan anak.
Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh Eli Rosyidah, salah satu perwakilan dari PP Fatayat NU, melalui pesan singkat WhatsApp pada Ahad, 1 Maret 2026. Pesan tersebut berbunyi, “Innalillahi wa Inna ilaihi Rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Sahabat Ketum tercinta.. Hj Margareth Aliyatul Maimunah binti KH. Faruq* di RS Fatmawati, hari ini Ahad 1 Maret 2026 jam 08.25. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha. Dari RS Fatmawati akan disemayamkan di PBNU setelah itu langsung di bawa ke Jombang.” Kepergian beliau yang mendadak menyisakan kesedihan yang mendalam bagi keluarga besar NU dan seluruh elemen masyarakat yang mengenal dedikasinya.
Margaret Aliyatul Maimunah, yang akrab disapa Liya, dikenal tidak hanya sebagai seorang pemimpin organisasi perempuan yang tangguh, tetapi juga sebagai pribadi yang ramah, rendah hati, dan konsisten dalam memperjuangkan isu-isu krusial. Sejak usia muda, beliau telah menunjukkan semangat juang yang tinggi dan komitmen untuk memberdayakan perempuan serta melindungi hak-hak anak.
Profil dan Latar Belakang Pendidikan yang Kuat
Lahir pada tanggal 11 Mei 1979, Margaret Aliyatul Maimunah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan nuansa spiritual dan intelektual. Beliau adalah putri dari pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah. Menariknya, beliau merupakan cucu buyut dari KH M Bisri Syansuri, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang juga dikenal sebagai ahli fiqih terkemuka dari Jombang dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.
Pendidikan dasar Margaret ditempuh di lingkungan Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, yang memberikan fondasi agama dan moral yang kuat. Semangat belajarnya yang tak pernah padam kemudian membawanya merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).
Tidak berhenti di jenjang sarjana, Margaret melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil Program Studi Kajian Wanita. Pilihan studi ini mencerminkan ketertarikannya yang mendalam pada isu-isu perempuan dan upaya pemberdayaannya.
Rekam Jejak Organisasi yang Panjang dan Berpengaruh
Dunia organisasi seolah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri Margaret sejak ia masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar. Bakat kepemimpinannya semakin terasah dan berkembang seiring dengan keterlibatannya yang aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur.
Perjalanan karier Margaret di dalam struktur organisasi perempuan NU terbilang sangat lengkap dan mengesankan. Beberapa posisi penting yang pernah dijabatnya antara lain:
- Sekretaris Umum PP IPPNU (2006–2009): Pada periode ini, beliau telah menunjukkan kemampuan organisasinya dalam mengelola berbagai program dan kegiatan.
- Ketua Umum PP IPPNU (2009–2012): Kepemimpinannya di IPPNU semakin mengukuhkan posisinya sebagai tokoh muda yang potensial dalam gerakan perempuan.
- Sekretaris Umum PP Fatayat NU (2015–2020): Pengalamannya di IPPNU membawanya ke jenjang yang lebih tinggi di Fatayat NU, organisasi perempuan dewasa di bawah NU.
- Ketua Umum PP Fatayat NU (terpilih secara aklamasi pada Kongres ke-16 di Palembang, Juli 2022): Puncak kariernya di organisasi ini adalah saat beliau terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum PP Fatayat NU, sebuah amanah besar yang diemban hingga akhir hayatnya.
Selama masa kepemimpinannya di Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah dikenal sangat vokal dalam menyuarakan isu-isu krusial yang dihadapi perempuan dan anak. Beliau aktif memperjuangkan perlindungan pelajar dari ancaman narkoba dan radikalisme, serta gigih dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya.
Pejuang Hak Perempuan dan Anak Serta Penggiat Kebijakan Publik
Di luar kiprahnya di organisasi, Margaret Aliyatul Maimunah juga merupakan seorang peneliti yang kritis dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Beliau pernah bergabung dengan Women Research Institute (WRI), di mana beliau aktif melakukan kajian mendalam terhadap berbagai persoalan sosial yang membelit kaum perempuan. Topik-topik yang dibedahnya meliputi nasib buruh migran perempuan, dampak poligami terhadap tumbuh kembang anak, hingga isu HIV/AIDS pada kalangan remaja.
Keahliannya dalam melakukan riset dan analisis sosial juga membawanya merambah ke ranah kebijakan publik. Margaret tercatat pernah menjadi Tenaga Ahli di berbagai Komisi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Beliau berkontribusi di Komisi IX (yang membidangi kesehatan dan tenaga kerja), Komisi VIII (yang membidangi agama dan sosial), serta Komisi X (yang membidangi pendidikan dan pariwisata). Melalui peran ini, beliau berupaya memasukkan perspektif perempuan dan anak dalam perumusan kebijakan negara.
Di sela-sela kesibukan yang luar biasa, Margaret juga menyempatkan diri untuk berbagi ilmu dengan menjadi pengajar di almamaternya, Universitas Indonesia. Dedikasinya dalam dunia pendidikan dan riset menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa.
Warisan Karya Melalui Tulisan
Margaret Aliyatul Maimunah juga dikenal sebagai sosok yang gemar menulis dan berbagi pemikirannya melalui karya tulis. Beliau telah melahirkan beberapa buku dan artikel ilmiah yang sarat makna. Salah satu karyanya yang patut dicatat adalah buku berjudul “Perempuan Berdaya Nusantara Jaya”. Melalui tulisan-tulisannya, beliau senantiasa menekankan pentingnya kemandirian perempuan, penguatan kapasitas, serta perlindungan hak-hak dasar bagi ibu dan anak.
Kepergian sosok yang akrab disapa Ning Denanyar ini tentu meninggalkan lubang yang sulit tergantikan. Namun, semangat juang, pemikiran kritis, dan fondasi perjuangan yang telah ia letakkan di Fatayat NU dan berbagai lini kehidupan lainnya, akan terus menjadi inspirasi berharga bagi generasi muda Nahdliyin di seluruh penjuru negeri. Warisan pemikirannya akan terus hidup dan menginspirasi upaya pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak di Indonesia.




