Perang Terbuka di Timur Tengah: Operasi “Epic Fury” Meluluhlantakkan Iran, Khamenei Diklaim Tewas
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan “Operasi Epic Fury”, sebuah serangan gabungan yang menandai konflik terbuka terbesar di kawasan tersebut sejak invasi Irak pada tahun 2003. Serangan ini tidak hanya mengguncang peta geopolitik, tetapi juga memicu klaim dramatis mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dibantah keras oleh Teheran.
Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Sabtu, 28 Februari, bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel. Pernyataan ini datang hanya berselang satu jam setelah sumber dari Israel mengonfirmasi kematian Khamenei kepada media internasional. Kantor berita terkemuka seperti Reuters dan CNN juga melaporkan hal serupa, menegaskan bahwa Khamenei menjadi sasaran utama dalam operasi gabungan tersebut.
Trump secara tegas menyatakan di platform media sosialnya, “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati.” Ia melanjutkan, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang luar biasa, dan orang-orang dari berbagai negara di dunia yang telah dibunuh atau cacat akibat ulah Khamenei dan geng preman haus darahnya.” Trump menambahkan bahwa peristiwa ini merupakan “kesempatan tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Bantahan Tegas dari Teheran
Namun, klaim kematian Khamenei segera dibantah oleh otoritas Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman dan sehat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup dan semua pejabat tinggi berada di posisinya masing-masing. “Semua pejabat tinggi masih hidup,” katanya. “Jadi semua orang sekarang berada di posisinya, kami menangani situasi ini, dan semuanya baik-baik saja,” tambah Araqchi. Ia juga menyebutkan bahwa negara mungkin kehilangan ‘satu atau dua komandan, tapi itu bukan masalah besar’.
Latar Belakang Operasi “Epic Fury”
Operasi gabungan AS dan Israel ini diluncurkan setelah pengerahan kekuatan Amerika terbesar di Timur Tengah sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2003. Presiden Trump menyerukan agar rakyat Iran menggulingkan pemerintah mereka. Bersamaan dengan pengumuman Trump, ledakan terlihat di Teheran dan setidaknya lima kota lain di seluruh Iran. Militer Iran dilaporkan mulai membalas serangan terhadap Israel, menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Ledakan dan sirene peringatan juga dilaporkan di beberapa negara Timur Tengah tempat AS memiliki pangkalan militer. Pentagon menamai operasi terhadap Iran sebagai “Epic Fury”, sementara militer Israel memberikannya sandi “Roaring Lion”. Israel awalnya meluncurkan operasi tersebut dan kemudian bergabung dengan AS.
Dampak Global dan Ancaman Krisis
Serangan besar-besaran ini memicu kekhawatiran global mengenai stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. Balasan rudal dari Iran ke pangkalan AS dan ancaman krisis ekonomi menjadi perhatian utama.
Ledakan di Teheran dilaporkan terjadi pada dini hari waktu Timur AS pada 28 Februari, yang berarti pertengahan pagi di Iran. Dalam hitungan jam, Iran mulai mengirimkan rudal ke arah Israel dan muncul laporan tentang upaya serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara menyatakan rudal-rudal tersebut berhasil dicegat.
Jumlah korban dari serangan dan aksi balasan belum segera diketahui secara pasti. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan satu warga sipil tewas akibat reruntuhan yang jatuh. Media pemerintah Iran melaporkan 36 anak, seluruhnya perempuan, tewas ketika sebuah rudal menghantam sekolah di Minab, di Iran bagian barat.
Masa Depan Iran dan Sosok Khamenei
Kematian atau cedera serius pada Pemimpin Tertinggi Iran akan menjadi peristiwa monumental. Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989. Ia merupakan sekutu dekat Ayatollah Ruhollah Khomeini dan memainkan peran penting dalam membentuk Republik Islam Iran. Khamenei juga dikenal sebagai sosok yang memberikan kekuasaan besar kepada Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi setelah kematian Ruhollah Khomeini pada Juni 1989. Ia menjadi penerus favorit setelah Khomeini mendepak Ayatollah Agung Hossein-Ali Montazeri.
Menurut memorandum perencanaan kontinjensi yang dikeluarkan oleh Dewan Hubungan Luar Negeri (Council on Foreign Relations) pada Februari 2026, kematian Khamenei akan menjadi perubahan kepemimpinan kedua di Iran sejak pendirian rezim tersebut hampir 50 tahun yang lalu. Dampaknya diperkirakan akan bergema di seluruh Timur Tengah dan dunia.
Latar Belakang dan Pengaruh Khamenei
Khamenei lahir dari keluarga ulama pada tahun 1939. Ia menemukan panggilannya sebagai pemimpin agama saat menjadi oposisi politik terhadap Pahlavi. Menurut biografi resminya, Khamenei pernah disiksa pada usia 24 tahun saat menjalani masa penjara pertamanya karena aktivitas politik di bawah kekuasaan Shah.
Setelah revolusi, posisi Khamenei naik dengan cepat hingga menjadi Wakil Menteri Pertahanan, yang membuatnya dekat dengan IRGC. Pada tahun 1981, dengan dukungan Khomeini, ia menjadi Presiden Iran. Di usia 50 tahun, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.
Ia memegang otoritas penuh atas program nuklir Iran dan menafsirkan bagaimana hukum serta kode agama diterapkan. Sejak saat itu, ia menjadi jantung strategi Iran di Timur Tengah melalui jaringan kelompok militan yang membentang dari Gaza hingga Yaman.
Tujuan di Balik Serangan
Gedung Putih telah meningkatkan tekanan terhadap Iran selama berbulan-bulan. Trump beberapa kali menyatakan ketidakpuasannya terhadap cara otoritas Iran menindak keras para demonstran dan keinginannya agar Iran menyetujui kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Pada 27 Februari, Trump dilaporkan tidak senang dengan perkembangan upaya penyelesaian masalah secara diplomatik.
Meskipun demikian, sejumlah pakar keamanan nasional mempertanyakan logika strategis Trump dalam menyerang Iran. Bagi Israel, alasannya mungkin lebih jelas: negara itu sejak lama memandang Iran sebagai ancaman eksistensial karena ancaman berulang untuk melenyapkan Israel. Namun, langkah AS ini menimbulkan pertanyaan strategis yang kompleks, terutama mengingat klaim Trump sebelumnya bahwa serangan sebelumnya terhadap Iran telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran.



















