Warga Kampung Umang Aceh Tengah Menanti Hunian Baru Pasca Bencana
ACEH TENGAH – Peristiwa banjir dan longsor yang melanda Kampung Umang, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah pada akhir November lalu, meninggalkan luka mendalam bagi para warganya. Permukiman lama yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini tidak lagi aman untuk dihuni. Akibatnya, puluhan keluarga terpaksa mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian, menantikan pembangunan hunian baru.
Situasi darurat ini memaksa warga Kampung Umang untuk merelokasi diri ke lahan milik Tusam Hutani Lestari (THL). Menurut Reje Kampung Umang, Wahyu Putra, kondisi perbukitan di sekitar kampung telah mengalami keretakan parah, bahkan rumah-rumah warga pun tak luput dari dampak bencana. Untuk sementara waktu, warga terpaksa mendirikan tenda bantuan di Simpang Gelampang, Kecamatan Linge, sembari menunggu proses relokasi yang lebih permanen.
Permohonan Mendesak untuk Huntara dan Huntap
Kondisi hidup di pengungsian dirasakan sangat tidak nyaman oleh warga. Wahyu Putra mengungkapkan, permintaan utama dari masyarakat saat ini adalah percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). “Kondisi mereka tidak nyaman tinggal di pengungsian,” tegas Wahyu saat ditemui di lokasi pengungsian di Simpang Gelampang, Sabtu (24/1/2026).
Ada dua alasan utama yang mendasari desakan warga untuk segera memiliki tempat tinggal yang layak. Pertama, mendekatnya bulan suci Ramadhan. “Mereka sudah merasa resah, mengingat pertama, mau menyambut bulan Ramadhan,” ujar Wahyu. Perasaan gelisah ini semakin bertambah mengingat kondisi cuaca yang mulai memasuki musim kemarau. Panas terik matahari membuat warga semakin gerah dan tidak betah berada di tenda pengungsian.
“Tadi pagi saya tanyakan, masyarakat ini sudah kurang nyaman di sini. Jadi mohon kepada Bapak BNPB, Bapak bupati dan dinas terkait, agar segera dipercepat buat perumahan Huntaranya dan Huntapnya,” pinta Wahyu dengan nada memohon. Ia berharap agar pihak terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat proses pembangunan hunian bagi warganya.
Menanti Perbaikan Lokasi dan Pembangunan Fisik
Wahyu Putra mengakui bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan terkait pembangunan huntara dan huntap dengan pihak-pihak terkait. Namun, proses tersebut masih terhambat oleh perbaikan lokasi relokasi yang sedang dilakukan. “Kemarin ada beberapa dinas terkait (yang mengatakan) akan segera diratakan tempat (relokasi) dengan alat berat. Jadi kita sekarang menunggu kedatangan alat dan bangunannya,” jelasnya.
Proses persiapan lokasi relokasi menjadi kunci utama sebelum pembangunan fisik dapat dimulai. Ketersediaan alat berat dan kelancaran proses perataan lahan sangat menentukan seberapa cepat warga dapat menempati hunian baru mereka.
Lokasi Relokasi Strategis di Lahan THL
Lokasi yang telah disediakan untuk permukiman baru warga Kampung Umang adalah seluas 2 hektar. Lahan ini merupakan milik Tusam Hutani Lestari (THL). THL sendiri merupakan perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan unik, di mana 60 persen sahamnya dimiliki oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, dan 40 persen sisanya dimiliki oleh Industri Hasil Hutan (Inhutani). “Lahan yang sudah ada milik Bapak Prabowo, ataupun tanah THL,” tutur Wahyu.
Lokasi lahan relokasi ini memiliki keunggulan tersendiri, yaitu bersebelahan langsung dengan titik pengungsian warga Umang saat ini. Hal ini tentu memudahkan mobilitas warga dan meminimalkan dampak psikologis akibat perpindahan yang terlalu jauh.
Di sisi lain, kondisi di camp pengungsian Kampung Umang saat ini menunjukkan adanya puluhan bangunan papan yang didirikan oleh warga secara mandiri. Bangunan-bangunan darurat ini memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari 3×4 meter persegi, 6×4 meter persegi, hingga 6×6 meter persegi. Keberadaan bangunan darurat ini menjadi saksi bisu perjuangan warga dalam bertahan hidup pasca bencana, sambil terus berharap akan pembangunan hunian yang lebih layak dan permanen.
Lokasi pengungsian yang kini menjadi tempat tinggal sementara bagi puluhan keluarga ini berada di sepanjang Jalan Takengon-Blang Kejeren, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Harapan besar kini tertuju pada pemerintah dan pihak terkait agar dapat segera merealisasikan pembangunan huntara dan huntap, sehingga warga Kampung Umang dapat kembali menata kehidupan mereka di tempat yang lebih aman dan nyaman.





















