Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Melanda Lembata, Harga Eceran Meroket
Beberapa hari terakhir, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama para pekerja yang bergantung pada ketersediaan BBM.
Dampak Kelangkaan BBM Terhadap Masyarakat
- Kenaikan Harga Eceran: Kelangkaan ini menyebabkan harga BBM eceran melonjak drastis. Masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli BBM, dengan harga per botol mencapai Rp 50.000.
- Gangguan Aktivitas Ekonomi: Para tukang ojek, seperti Remigius (35), merasakan dampak yang sangat besar. Mereka kesulitan mendapatkan BBM, sehingga banyak orderan pelanggan terpaksa dibatalkan. Hal ini tentu saja mengurangi pendapatan mereka.
- “Dapat BBM sekarang sangat susah, orderan pelanggan terpaksa batal,” keluh Remigius, seorang tukang ojek di Lembata.
- Antrean Panjang di SPBU: Stok BBM yang terbatas di SPBU memicu antrean panjang. Warga rela mengantre berjam-jam, namun seringkali pulang dengan tangan kosong.
- “Kadang antre lama di SPBU, tetapi sama saja, kadang tidak dapat BBM. Terpaksa beli BBM eceran, meskipun harga mahal,” ujar seorang warga yang kecewa.
- Dampak pada Aktivitas Warga: Alfons Tokan (45), warga Kota Lewoleba, juga merasakan dampak kelangkaan BBM. Aktivitas warga terganggu, terutama dalam situasi mendesak. Mereka terpaksa membeli BBM eceran dengan harga yang sangat mahal.
- “Harga BBM eceran bervariasi, mulai Rp 35.000 sampai Rp 50.000 per botol. Mau tidak mau kita harus beli,” kata Alfons.
Harapan Masyarakat
Masyarakat Lembata berharap pemerintah dan Pertamina segera menyelesaikan persoalan kelangkaan BBM ini. Mereka berharap pemerintah belajar dari pengalaman sebelumnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Penyebab Kelangkaan BBM Menurut Pertamina
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa distribusi BBM ke Lembata terhambat akibat cuaca buruk sejak 19 Januari 2025.
- Kendala Cuaca: Penyeberangan kapal pengangkut BBM dari Pelabuhan Larantuka ke Pulau Adonara dan Pulau Lembata tidak dapat dilaksanakan karena kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi di Selat Solor dan Selat Lembata. Hal ini sesuai dengan arahan Otoritas Pelabuhan Larantuka.
Upaya Pertamina Mengatasi Kelangkaan
Pertamina telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kelangkaan BBM di Lembata dan sekitarnya.
- Koordinasi dengan Pemerintah Daerah: Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan pihak terkait untuk mempercepat dan memitigasi distribusi BBM di Larantuka dan sekitarnya.
- Pengaturan Penjualan BBM: Sebagai mitigasi, Pertamina mengatur penjualan BBM sampai suplai selanjutnya diterima.
- Permohonan Rekomendasi Bongkar Muat: Pertamina mengajukan permohonan kepada KUPP Larantuka terkait rekomendasi proses bongkar muat kapal BBM.
- Koordinasi dengan Bupati: Koordinasi juga dilakukan dengan Bupati Lembata dan Bupati Flores Timur untuk proses muat kapal BBM pada jam operasional pelabuhan umum dan pengaturan sementara penjualan BBM.
- Distribusi Bertahap: Ahad mengungkapkan bahwa kondisi sudah mulai normal. BBM sudah bisa terkirim pada hari berikutnya, pada Selasa, 20 Januari 2026, ke Pulau Lembata dan Adonara dengan rata-rata distribusi sebanyak 25-35 kilo liter per hari.
- Mitigasi Lanjutan: Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) setempat untuk meminimalisir potensi penyalahgunaan seperti pelangsir dan melakukan blokir nomor polisi (nopoll) bagi kendaraan yang terindikasi pelangsir.
- Arahan kepada SPBU: Seluruh SPBU telah diarahkan untuk menyalurkan BBM sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengutamakan penjualan kepada kendaraan.
Kondisi Terkini dan Himbauan
Ahad menyampaikan bahwa saat ini kondisi sudah mulai normal. Namun demikian, masyarakat diharapkan melakukan pembelian secara bijak sesuai kebutuhan.




















