Bencana Alam Melanda Majalengka: Longsor, Banjir, dan Jembatan Ambruk Akibat Hujan Deras
Kabupaten Majalengka dilanda serangkaian bencana alam yang cukup parah pada Senin malam, 23 Maret 2026, menyusul hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayahnya. Longsor, pergerakan tanah, dan banjir bandang dilaporkan terjadi di berbagai titik, sementara sebuah jembatan penting dilaporkan ambruk. Kejadian ini menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas warga dan akses transportasi di beberapa kecamatan.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, total terdapat dua belas titik lokasi bencana yang teridentifikasi akibat hujan deras yang berlangsung sejak Senin sore hingga malam hari. Bencana longsor dilaporkan terjadi di beberapa desa, antara lain Desa Sukamaju, Desa Sinargalih, Desa Cibulan, Desa Lemahputih, dan Desa Girimukti.
Sementara itu, pergerakan tanah dilaporkan melanda Desa Gunung Seureuh. Banjir bandang menerjang Desa Margajaya, menyebabkan kerusakan dan gangguan aktivitas warga. Di Kecamatan Talaga, longsor tebing terjadi di Blok Cigondok, Desa Margamukti. Peristiwa ini sempat menghentikan akses jalan dari Talaga menuju Desa Ciranca, karena timbunan material tanah dari tebing setinggi puluhan meter menutup ruas jalan.
Longsor di Talaga dan Dampaknya pada Akses Jalan
Longsor di Blok Cigondok, Desa Margamukti, Kecamatan Talaga, bukan kali pertama terjadi. Pada Rabu, 5 Maret 2025, tebing yang sama pernah longsor, bahkan menyebabkan sebagian badan jalan anjlok. Kondisi tanah yang terus bergerak membuat perbaikan memakan waktu yang cukup lama.
Ruas jalan yang terdampak ini memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif. Banyak warga memanfaatkan jalan ini untuk menghubungkan Kecamatan Talaga dengan Kecamatan Malausma, serta menuju Sukamantri, Kabupaten Ciamis, atau sebaliknya.
Pada Selasa siang, akses jalan tersebut mulai dapat dilalui kendaraan roda dua. Namun, pengendara diimbau untuk ekstra hati-hati karena permukaan jalan masih dipenuhi lumpur. Pihak berwenang menyarankan pengguna jalan untuk menghindari jalur ini saat hujan deras, guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan. Hingga kini, longsoran-longsoran kecil masih terus dilaporkan terjadi di area tersebut.
Penilaian dan Penanganan Bencana oleh BPBD dan PUTR
Menanggapi situasi darurat ini, Agus Tamim menjelaskan bahwa pihaknya bersama tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) tengah melakukan asesmen menyeluruh di seluruh lokasi bencana. Pendataan ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kerusakan dan merencanakan langkah-langkah penanganan yang paling efektif, baik untuk korban terdampak maupun untuk penanganan fisik bencana itu sendiri. Prioritas utama adalah tanggap darurat dan pemulihan infrastruktur yang rusak.
Ambruknya Jembatan Cijurey di Bantarujeg
Di Kecamatan Bantarujeg, kabar buruk datang dari ambruknya Jembatan Cijurey. Kepala Dinas PUTR Kabupaten Majalengka, Agus Permana, membenarkan kejadian tersebut. Jembatan yang menghubungkan ruas Jalan Sindanghurip dan Cimangguhilir ini dilaporkan ambruk pada Senin malam, sekitar pukul 23.00 WIB.
Penyebab utama ambruknya jembatan ini adalah tingginya curah hujan yang menyebabkan aliran Sungai Cijurey menjadi sangat deras. Arus sungai yang kuat tersebut mengakibatkan tergerusnya landhoof (penyangga jembatan) di sisi barat, tepatnya dari arah Cimanggu.
“Kejadian hari Senin kurang lebih jam 23.00. Penyebabnya intensitas curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan arus sungai kuat dan meluap. Akibatnya, salah satu landhoof roboh karena tergerus air, tidak kuat menahan beban arus sungai,” ujar Agus Permana.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan lebih lanjut, pihak Dinas PUTR telah memasang rambu-rambu penutupan jalan. Jembatan tersebut kini tidak dapat dilintasi oleh kendaraan maupun pejalan kaki demi keselamatan bersama.
Dampak Ambruknya Jembatan terhadap Mobilitas Warga
Ambruknya Jembatan Cijurey menimbulkan konsekuensi serius bagi mobilitas warga setempat. Warga Desa Cimanggu yang hendak bepergian ke luar desa atau menuju ibu kota kecamatan kini terpaksa menggunakan jalur alternatif. Jalur alternatif yang tersedia adalah melintasi Desa Salawangi, yang memiliki jarak tempuh lebih jauh dan memakan waktu lebih lama.
Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi pasti mengenai kapan Jembatan Cijurey akan diperbaiki. Terdapat informasi bahwa jembatan ini baru saja menjalani perbaikan sekitar dua tahun lalu, namun kembali runtuh akibat peristiwa alam kali ini. Kondisi ini menyoroti pentingnya evaluasi dan penguatan infrastruktur jembatan di daerah rawan bencana.
Pemerintah daerah terus berupaya memantau situasi dan mengerahkan sumber daya yang ada untuk penanganan bencana dan pemulihan pascabencana. Koordinasi antara BPBD, Dinas PUTR, dan elemen terkait lainnya menjadi kunci dalam menghadapi dampak bencana alam yang terjadi.



















