Muhasabah 10: Akar Kata, Puncak Makna

Diposting pada

Perumpamaan Kalimat Baik: Akar yang Kuat, Cabang Menjulang, dan Buah yang Berlimpah

Berkendara di jalan raya sering kali menjadi momen refleksi. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas, terutama saat cuaca buruk melanda, pikiran kerap tertuju pada keselamatan. Hujan deras dan angin kencang dapat merobohkan pohon yang akarnya rapuh atau telah melemah. Fenomena alam ini mengingatkan kita pada sebuah metafora mendalam yang diajarkan dalam Al-Qur’an, yaitu tentang pohon dan kalimat.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kata “As Syajarah,” yang berarti pohon dalam bahasa Arab, memiliki makna yang kuat. Pengalaman masa lalu, ketika seorang guru menunjuk pohon mangga besar di depan pesantren dan meneriakkan “As syajarah” berulang kali, meninggalkan jejak ingatan yang mendalam. Kalimat tersebut, sederhana namun sarat makna, terus terngiang.

Kalimat Baik: Pohon yang Berakar Kuat dan Berbuah Sepanjang Waktu

Allah SWT dalam Surah Ibrahim telah menyajikan sebuah perumpamaan yang sederhana namun tak pernah habis untuk direnungkan:

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Ayat ini menggambarkan kalimat yang baik bagaikan pohon yang kokoh. Akarnya tertanam kuat di dalam bumi, cabangnya menjulang tinggi ke angkasa, dan ia senantiasa berbuah tanpa henti atas izin Tuhannya. Perumpamaan ini terasa seperti bisikan lembut yang mengajak kita untuk merenung, bukan sebuah perintah yang memaksa.

Ramadhan: Musim Ujian Akar dan Lisan

Setiap tahun, datangnya bulan Ramadhan bagaikan musim yang menguji keteguhan akar pohon diri kita. Ujian puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi seringkali tantangan yang lebih besar terletak pada pengendalian lisan. Rasa lapar hanya berdiam di perut, namun kata-kata terperangkap di tenggorokan, selalu ingin terlepas. Terlebih lagi ketika tubuh lelah, terjebak macet, atau menerima pesan bernada menyinggung.

Kita mungkin seringkali tidak menyadari betapa rapuhnya lisan dalam merangkai kata. Sekecil apapun ucapan itu, ia memiliki potensi untuk menjatuhkan martabat seseorang. Ringan diucapkan, namun dapat meninggalkan luka yang dalam dan berat.

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Ajaran Islam

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Hal ini menegaskan bahwa puasa tidak hanya menyangkut penolakan terhadap makanan, minuman, dan hawa nafsu, melainkan juga latihan bagi lisan untuk membisu, atau setidaknya hanya mengeluarkan ucapan yang baik.

Menjaga lisan bukanlah bentuk kepasrahan, melainkan kesadaran. Kalimat yang baik, layaknya pohon yang subur, tidak lahir dari luapan emosi sesaat. Ia tumbuh dari fondasi yang lebih dalam: keimanan, atau kesadaran bahwa setiap kata yang terucap meninggalkan jejak.

Akar yang menghunjam kuat melambangkan keyakinan yang kokoh, yang tidak mudah goyah oleh badai kehidupan. Seseorang yang lisannya terjaga bukanlah karena ia tidak memiliki amarah, melainkan karena ia tahu betul ke mana harus menyalurkan dan mengendalikan amarah tersebut.

Kalimat Buruk: Pohon yang Tercabut Akarnya

Di sisi lain, bulan Ramadhan juga mengingatkan kita pada keberadaan pohon-pohon lain: kalimat-kalimat buruk yang telah tercabut dari akarnya. Ucapan semacam ini mungkin terdengar keras, meyakinkan, bahkan provokatif, namun sebenarnya tidak memiliki pijakan yang kokoh. Ia cepat menyebar, namun juga cepat layu dan menghilang tanpa makna.

Baik itu di meja makan keluarga, dalam forum rapat profesional, maupun di jagat maya media sosial, kata-kata dapat berubah menjadi serpihan tajam yang beterbangan, tidak menghasilkan buah kebaikan, justru melukai banyak pihak.

Ramadhan: Bulan Menanam dan Merawat

Oleh karena itu, Ramadhan bukan sekadar bulan untuk menahan diri dari berbagai hal, tetapi juga merupakan bulan untuk menanam dan merawat. Kita diajak untuk menanam kembali akar-akar keyakinan melalui dzikir, melalui kesadaran bahwa Allah Maha Mendengar, bahkan bisikan hati yang terdalam.

Kita belajar bahwa tidak semua yang ingin diucapkan harus terucap. Bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan, bahkan dalam sebuah tulisan sekalipun.

Membentuk Lisan yang Baik: Proses yang Berkelanjutan

Sebuah pohon tidak tumbuh dalam semalam. Ia memerlukan musim, curahan hujan, dan kesabaran yang tak terhingga. Demikian pula, lisan yang baik terbentuk melalui proses yang panjang. Ia dibentuk oleh latihan yang konsisten, oleh kesadaran atas kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi, dan oleh penyesalan yang tidak dibiarkan berlalu begitu saja.

Ketika Ramadhan berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia meninggalkan benih-benih pohon kecil dalam diri kita. Akarnya mulai menghunjam lebih dalam, cabangnya mulai merangkai harapan untuk menjulang ke langit. Buahnya mungkin belum lebat, namun ia sudah mulai ada, siap untuk dipetik dan dibagikan kepada sesama.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan