Senin pagi, 29 Juni 2026, Auditorium Kampus II Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di Romangpolong, Gowa, menjadi saksi perjalanan panjang yang dimulai lebih dari setengah abad lalu di sebuah kampung sejauh 1.120-an kilo dari Kota Makassar.
Di atas mimbar akademik tertinggi itu, Prof Dr Hj Nurlaelah Abbas Lc MA, menerima pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap UIN Alauddin Makassar dalam bidang Kepakaran Teologi Islam Minoritas.
Bagi sebagian orang, pengukuhan profesor mungkin sekadar seremoni akademik. Namun bagi Nurlaelah Abbas, momen itu merupakan puncak dari perjalanan seorang anak petani Bugis yang lahir di rumah sederhana di tepi sungai, tumbuh di tengah keterbatasan, lalu menembus ruang-ruang ilmu dari Bangkir, Parepare, Kairo, Malaysia hingga Makassar.
Yang berdiri saat penyematan toga profesor di Auditorium UIN Alauddin, Makassar, Senin 29 Juni 2026, bukan hanya seorang akademisi. Di sana ikut berdiri bayangan petani Bugis bernama Abbas, penenun bernama Jawariah, para guru di Pondok Pesantren Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), dosen di Kairo dan Malaysia, serta sebuah kampung kecil bernama Bangkir yang pernah mengajarkan bahwa kesederhanaan tidak pernah menjadi penghalang bagi mimpi-mimpi besar.
Perantau dari Wajo
Sejarah selalu membuktikan, jalan menuju guru besar tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Kadang-kadang ia berawal dari tepi sungai, dari rumah panggung sederhana, dan dari seorang anak kampung yang memilih untuk tidak berhenti belajar.
Bangkir, apalagi Dusun Puse, mungkin masih sangat asing bagi sebagian besar pembaca berita ini. Tapi bagi Prof Nurlaelah Abbas, Puse dan Bangkir adalah jiwa dan hatinya. Bukan sekadar nama dusun dan desa di Toli-toli, Sulawesi Tengah.
“Kedua orangtua saya lahir di Wajo. Saya dan adik-adik saya lahir di Dusun Puse, Bangkir, Sulawesi Tengah,” kata Prof Nurlaelah Abbas menjawab pertanyaan Tribun Timur.
Retina matanya kadang membasah ketika Prof Nuelaelah menjelaskan tentang kampung halaman dan kedua orangtuanya. Penulis pun kadang merinding mendengarnya. Ikut terharu.
Prof Nurlaelah sebelas bersaudara. Enam lahir di Wajo, dan lima lahir di Bangkir, termasuk Nurlaelah.
Ayah Prof Nulaelah, Abbas Daeng Mabbara Pung Base lahir di Tempe, Wajo, Sulawesi Selatan. Ibu Prof Nurlaelah, Jawariah, lahir di Desa Liu Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo.
Demi meningkatkan taraf hidup keluarga dan memenuhi gejolak jiwa passompe dalam dirinya, Abbas merantau ke Bangkir.
Jarak darat dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, ke Desa Bangkir Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Tolitoli di Sulawesi Tengah sekitar 950 km.
“Selama masa perantauan di Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Buol Tolitoli, lahirlah seorang bayi perempuan pada Selasa malam, 9 Desember 1962, diberi nama Nurlaelah. Itulah saya,” kata Prof Nurlaelah.
Dia lancar menghafap timeline hidupnya dan kedua orangtuanya. Prof Nurlaelah telaten mencatat hal-hal penting dalam hidup. Bahkan dia sudah menulis otobiografi berjudul Jejak Langkah Menuju Guru Besar.
“Rumah orang tua tempat kami bersaudara tinggal dan dibesarkan sangat rawan banjir. Letaknya di tepi sungai dan dikelilingi petak sawah di Dusun Puse, Desa Bangkir, yang kini telah menjadi desa tersendiri dan terpisah dari Bangkir,” kata Prof Nurlaelah.
Sungai Puse, Sekolah Pertama Seorang Profesor
Sebelum mengenal ruang kuliah, jurnal ilmiah, dan mimbar profesor, Nurlaelah Abbas lebih dahulu mengenal Sungai Puse. Bergelut dengan ular piton.
Sungai itu mengalir di samping rumah panggung sederhana milik orang tuanya di Dusun Puse, Desa Bangkir, Tolitoli. Rumah tersebut berdiri di tepi sungai dan dikelilingi hamparan sawah yang setiap musim hujan berubah menjadi kawasan rawan banjir. Ketika air meluap, ular sawa kerap mendekati rumah. Namun kedua orang tuanya memiliki cara sederhana menghadapi keadaan. Mereka memelihara ayam dan bebek di kandang dekat rumah sehingga perhatian ular lebih tertuju kepada ternak daripada naik ke rumah.
Di tempat itulah Nurlaelah kecil tumbuh. “Saya masih teringat, setiap kali sungai meluap, kerap muncul ular sawa yang mendekati rumah. Beruntung, orang tua memiliki kecerdasan dalam menyiasati keadaan; mereka memelihara ayam dan bebek di dalam kandang, sehingga perhatian ular lebih tertuju pada ternak tersebut dan tidak naik ke dalam rumah,” jelas Prof Nurlaelah menambahkan.
Dia berusaha tersenyum. Mendongak. Seakan menerawang ke masa lampau, puluhan tahun silam.
“Kini, tempat itu tinggal menjadi kenangan, dengan sisa sisa pohon kelapa, bambu, dan pisang yang dahulu tumbuh subur sebagai penanda jejak kehidupan kami di masa lalu,” ujarnya.
Sungai Puse bukan sekadar bentang alam. Ia menjadi ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang pembentukan karakter. Bersama teman-temannya, Nurlaelah bermain rumah-rumahan, memasak, mandi di sungai, melompat dari tepi sungai, hingga menangkap udang menggunakan tudung saji yang dalam bahasa setempat disebut mattanggo. Sesekali ia ikut kakak-kakaknya memancing di rawa-rawa pinggir sawah. Dari kegiatan sederhana itu, ia belajar kesabaran menunggu umpan disambar ikan, sekaligus memahami bahwa hasil sering kali lahir dari proses yang panjang.
Masa kecilnya juga diwarnai tradisi maddongi, menjaga burung agar tidak memakan gabah yang dijemur saat musim panen. Kehidupan pedesaan mengajarkannya arti kerja, tanggung jawab, dan keterhubungan manusia dengan alam.
Namun pelajaran terpenting justru datang dari ibunya.
Suatu hari ketika hendak bermain, sang ibu berpesan, “Jika di jalan kamu menemukan sesuatu, sekecil jarum sekalipun, jangan diambil, karena itu bukan milikmu dan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.”
Kalimat sederhana itu tertanam kuat dalam ingatannya. Pesan tersebut menjadi fondasi kejujuran yang kelak mengiringi perjalanan panjangnya sebagai akademisi, pendidik, dan pemimpin.
Menariknya, kedua orang tuanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Mereka memperoleh pengetahuan dari tradisi keluarga, pengalaman hidup, serta pengajian para ulama yang mereka dengarkan di Sengkang. Namun dari rumah sederhana itu lahir pendidikan karakter yang dalam banyak hal justru lebih kuat dibanding pelajaran di ruang kelas.
Rumah yang Tidak Pernah Menolak Tamu
Rumah keluarga Abbas dan Jawariah bukan rumah orang kaya.
Mereka hidup dari sawah, kebun kelapa, kopi, dan hasil ternak. Namun rumah itu memiliki sesuatu yang kini semakin jarang ditemukan: pintu yang selalu terbuka bagi orang lain.
Perantau dari Wajo, Soppeng, hingga Enrekang sering singgah bahkan tinggal berbulan-bulan di rumah tersebut. Mereka datang mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di tanah rantau. Tak ada pungutan. Tak ada syarat. Mereka makan bersama keluarga dan diperlakukan sebagai saudara sendiri.
Bahkan menjelang Idul Fitri, sang ibu biasa menyiapkan 10 hingga 20 liter beras ketan untuk membuat tumbu’, makanan khas Bugis yang disajikan kepada keluarga dan para tamu.
Perahu Layar Tiga Belas Hari
Ada satu perjalanan yang tampaknya sederhana, tetapi sangat menentukan arah hidup Nurlaelah Abbas.
Tahun 1969, ketika usianya baru sekitar enam tahun, ia ikut bersama orang tua dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan dari Tolitoli menuju tanah leluhur keluarganya di Wajo, Sulawesi Selatan. Perjalanan itu bukan menggunakan pesawat, bukan pula kapal penumpang modern. Mereka menumpang perahu layar tradisional.
Perjalanan yang dalam kondisi normal mungkin hanya membutuhkan beberapa hari berubah menjadi petualangan selama tiga belas hari tiga belas malam. Angin timur yang berhembus berlawanan arah membuat layar kapal sering terdorong mundur.
“Perjalanan itu berlangsung tiga belas hari dan tiga belas malam. Jalur yang ditempuh ternyata berlawanan arah dengan hembusan angin laut, sehingga layar kapal sering kali mengembang ke arah sebaliknya. Kapal pun terdorong mundur, seolah enggan meninggalkan lautan yang ganas di tengah musim angin timur. Hari demi hari berlalu di tengah lautan,” jelas Prof Nurlaelah.
Ombak, panas matahari, dan keterbatasan logistik menjadi bagian dari keseharian para penumpang. Bahkan bekal makanan sempat habis sebelum kapal mencapai tujuan. Untuk bertahan hidup, sebagian penumpang menukar barang bawaan dengan bahan makanan dari nelayan yang ditemui di tengah laut. Sebagian lainnya memancing langsung dari atas kapal.
Bagi seorang anak kecil, pengalaman itu tentu menegangkan.
Namun puluhan tahun kemudian, pengalaman tersebut justru dikenangnya sebagai pelajaran tentang ketabahan, kesabaran, dan kemampuan bertahan dalam keadaan sulit.
Mungkin dari sanalah lahir salah satu karakter yang kemudian membawanya bertahan menghadapi berbagai ujian akademik dan kehidupan.
Ibu yang Tak Pernah Menyalahkan
Saat kembali ke kampung leluhur ibunya di Bila Ugi, Wajo, Nurlaelah kecil harus beradaptasi dengan kehidupan yang berbeda.
Ia mengenal nasi jagung, pisang muda yang dicampur beras, ikan gabus, bale cambang, dan rontok. Rontok adalah makanan khas Bugis, udang kecil yang ditumbuk bersama garam dan cabai. Sebagai anak yang terbiasa dengan pola makan berbeda di Bangkir, Nurlaelah sempat mengeluh kepada ibunya dan meminta pulang ke kampung.
Namun di desa itulah ia mulai mengenal dunia sekolah. Pagi hari belajar di SD Negeri Bila Ugi. Sore hari berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), cikal bakal As’adiyah. Di sana ia belajar bahasa Arab, mengaji, dan mengenal aksara Lontara Bugis.
Sebuah peristiwa kecil kemudian menjadi pelajaran besar.
Suatu sore, sepulang dari Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Nurlaelah kecil tidak langsung bermain sebagaimana biasanya. Ia duduk di tangga rumah panggung sambil menangis. Air mata terus mengalir. Di kelas, ia baru saja menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena salah membaca satu huruf Lontara.
Huruf “ta” dibacanya “dal”. Kesalahan kecil itu membuat harga dirinya sebagai seorang anak terguncang.
Jawariah, keluar rumah. Bukannya memarahi atau menyalahkan, ia justru duduk di samping putrinya, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, lalu berkata pelan “Nak, tidak ada ilmu yang mudah pada awalnya. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kalau belajar sungguh-sungguh, Insya Allah pasti bisa.”
Kalimat itu sederhana. Namun justru kalimat seperti itulah yang sering menentukan masa depan seorang anak.
Jawariah tidak berhenti pada nasihat. Ia segera memanggil keponakannya, Nursati, yang lebih dahulu belajar di MAI, agar setiap sore membimbing Nurlaelah membaca dan menulis aksara Lontara.
Sejak saat itu, ketakutan berubah menjadi latihan. Latihan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi kemampuan.
Ironisnya, huruf Lontara yang dahulu membuatnya menangis justru kelak menjadi mata pelajaran yang diajarkannya ketika mondok di Pesantren Putri DDI Ujung Lare Parepare. Ia bahkan dipercaya mengajar bahasa daerah dalam mata pelajaran muatan lokal.
Kembali ke Rantau Demi Pendidikan
Setelah hampir dua tahun menetap di Desa Bila Ugi, Wajo, kehidupan keluarga berjalan sebagaimana keluarga-keluarga Bugis pada umumnya: sederhana, bersahaja, tetapi penuh harapan. Anak-anak mulai bersekolah. Nurlaelah telah duduk di kelas II SD, kakaknya Maryam di kelas V, sementara Syamsul Alam melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Salojampu.
Namun perlahan, kenyataan ekonomi berbicara lain. Lahan pertanian yang digarap di Wajo tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah. Biaya hidup meningkat, sementara tiga anak masih membutuhkan biaya pendidikan. Bagi Abbas, persoalan itu bukan sekadar soal ekonomi. Ia adalah ujian tentang bagaimana mempertahankan mimpi agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah.
Di titik itulah ia mengambil sebuah keputusan yang tidak mudah. Abbas memilih kembali merantau ke Tolitoli.
Bagi Abbas, perantauan kali ini bukan lagi untuk membangun dirinya sendiri. Ia merantau demi memastikan pendidikan anak-anaknya tidak berhenti di tengah jalan.
Di Tolitoli masih tersisa kebun kelapa, kopi, dan sawah yang pernah menjadi sumber penghidupan keluarga. Abbas percaya, bila lahan itu kembali dikelola, hasilnya bukan hanya cukup untuk menghidupi keluarga, tetapi juga menjadi modal untuk membangun masa depan anak-anaknya. Keputusan itu menunjukkan satu prinsip yang jarang diucapkan, tetapi nyata dipraktikkan: pendidikan membutuhkan keberanian berkorban.
Tiga tahun kemudian, penantian panjang itu berakhir. Nurlaelah kini telah duduk di kelas III SD. Kepercayaan dirinya tumbuh, semangat belajarnya semakin kuat, dan kehidupan keluarga perlahan menemukan arah baru. Saat itulah Jawariah mengurus surat pindah sekolah melalui adiknya, Siti Aisyah, yang juga menjadi guru Nurlaelah.
Pada tahun 1973, keluarga besar itu akhirnya meninggalkan Bila Ugi menuju Bangkir, menyusul Abbas dan Muhammad Arsyad yang telah lebih dahulu menyiapkan segalanya. Berbeda dengan perjalanan pertama yang ditempuh menggunakan perahu layar selama hampir dua pekan, kali ini mereka menggunakan kapal bermotor. Kemajuan teknologi memang mempersingkat waktu tempuh menjadi tiga hingga empat hari.
Sesampainya di Bangkir, rumah lama telah berganti menjadi rumah baru yang dibangun Abbas bersama putranya. Lokasinya sengaja dipilih di depan Pasar Bangkir agar keluarga lebih mudah menjalankan usaha kecil sekaligus mengakses berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
SDN 2 Bangkir Menemukan Murid
Nurlaelah kecil segera didaftarkan di Sekolah Dasar Negeri Nomor 2 Bangkir. Sekolah itu sederhana, sebagaimana kebanyakan sekolah dasar di daerah pada awal 1970-an. Ruang kelas berdinding papan, halaman sekolah menjadi tempat upacara sekaligus arena bermain, sementara para guru mengajar dengan semangat yang jauh melampaui keterbatasan fasilitas.
“SDN No 2 Bangkir waktu itu dipimpin kepala sekolah yang dikenal disiplin dan berdedikasi tnggi, Bapak Salim Mahmud. Meskipun saya baru beradaptasi lagi dengan teman-teman baru dan lingkungan yang berbeda sebelumnya, saya tetap menikmati karena selain diajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, juga dibekali berbagai keterampilan seperti menari, menyanyi, masak memasak, dan tata cara melayani tamu melalu buku PKK yang dibagikan,” jelas Nurlaelah.
Seperti hari-harinya di Wajo, pagi diisi dengan pendidikan umum. Namun sore hari kembali diisi dengan pendidikan agama di Madrasah Ibtidaiyah Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Bangkir di bawah bimbingan Ustaz Abdul Latief Nashar, seorang ulama yang disegani masyarakat. Ritme itu berlangsung hampir setiap hari: pagi belajar ilmu pengetahuan, sore memperdalam ilmu agama, malam kembali ke rumah untuk menerima didikan orang tua.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Nurlaelah hampir selalu menempati peringkat pertama di kelas. Prestasinya bukan hanya dikenal di sekolah, tetapi juga menarik perhatian para guru. Kepala Sekolah Salim Mahmud kemudian mengambil keputusan yang tidak lazim.
Meski Nurlaelah masih duduk di kelas V, ia dipercaya mewakili Kecamatan Dampal Selatan dalam Ujian Teladan tingkat Kabupaten Tolitoli, sebuah ajang yang biasanya hanya diikuti siswa-siswa kelas VI.
Nurlaelah berhasil meraih Juara III tingkat Kabupaten Tolitoli. Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan keluarga Abbas dan Jawariah, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Bangkir. Dari sebuah desa kecil di pesisir Tolitoli, lahir seorang anak perempuan yang mampu bersaing dengan siswa-siswa terbaik dari berbagai kecamatan.
Memilih Pesantren dari Dua Pilihan
Prestasi tersebut membawa konsekuensi yang lebih besar. Karena kemampuan akademiknya dinilai melampaui rata-rata, pihak sekolah memutuskan meluluskannya lebih cepat untuk mengikuti ujian akhir bersama siswa kelas VI. Hasilnya kembali membuktikan bahwa keputusan para guru tidak keliru.
Nurlaelah lulus dengan peringkat pertama. Pada acara perpisahan sekolah, ia dipercaya menyampaikan pidato mewakili seluruh lulusan. Di hadapan guru, orang tua, dan masyarakat, gadis kecil dari Bangkir itu berdiri bukan hanya sebagai murid terbaik, tetapi juga sebagai simbol harapan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk meraih prestasi.
Namun justru setelah semua keberhasilan itu, keluarga Abbas menghadapi sebuah pilihan yang jauh lebih menentukan dibandingkan semua ujian di sekolah.
Ke mana Nurlaelah harus melanjutkan pendidikan? Salim Mahmud menginginkan murid terbaiknya melanjutkan ke SMP agar kemampuan ilmu pengetahuan dan matematikanya terus berkembang. Sementara Ustaz Abdul Latief Nashar melihat kekuatan lain. Menurutnya, Nurlaelah memiliki bakat yang menonjol dalam ilmu agama dan bahasa Arab. Tempat terbaik untuk mengembangkannya adalah Pondok Pesantren DDI Putri Ujung Lare Parepare.
Yang menarik, Abbas dan Jawariah tidak memaksakan pilihan. Setelah melalui perenungan, Nurlaelah memilih jalan pesantren. Pilihan itu sesungguhnya adalah titik awal perjalanan yang kelak membawanya meninggalkan Bangkir, menyeberangi lautan menuju Parepare, melanjutkan studi ke Kairo dan Malaysia, hingga akhirnya kembali ke tanah air sebagai Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.(*)




