Patung Soekarno ‘Mendidik Anak’ Diresmikan di Gianyar, Simbol Komitmen Pendidikan dan Nasionalisme
Gianyar, Bali – Sebuah monumen monumental yang sarat makna baru saja diresmikan di Gianyar, Bali. Bupati Made Mahayastra secara resmi membuka selubung Patung Soekarno yang menggambarkan Sang Proklamator tengah mendidik anak-anak. Patung ini kini berdiri gagah di lingkungan Gedung Perpustakaan Daerah Nawaksara, Gianyar, menandai sebuah komitmen kuat dari pemerintah daerah dalam menanamkan nilai-nilai fundamental seperti pendidikan, literasi, dan nasionalisme kepada generasi muda.
Peresmian patung yang sarat filosofi ini dilaksanakan bertepatan dengan momentum Upacara Piodalan di Gedung Perpustakaan Nawaksara Gianyar. Acara sakral tersebut diawali dengan prosesi melaspas dan dilanjutkan dengan dendem pedagingan yang dilakukan di bawah kaki Patung Soekarno yang sedang membimbing anak-anak. Ritual ini semakin memperkuat nuansa spiritual dan budaya dalam peresmian sebuah karya seni yang memiliki pesan mendalam.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gianyar, Ida Ayu Putu Eka Susanti, menjelaskan bahwa sosok Soekarno jauh melampaui perannya sebagai Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau juga dikenal sebagai seorang negarawan yang memiliki kepedulian luar biasa terhadap sektor pendidikan dan upaya pembentukan karakter bangsa. Melalui karya seni patung ini, diharapkan semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan terus bergelora, terutama di lingkungan perpustakaan yang merupakan jantung literasi bagi masyarakat.
“Ide pembuatan patung ini terinspirasi dari sebuah kisah sejarah yang sangat mengharukan, yaitu ketika Bung Karno menjalani masa pengasingan,” ungkap Ida Ayu Putu Eka Susanti. Beliau menambahkan, “Dalam situasi yang serba terbatas dan di bawah tekanan penjajahan yang berat, beliau tidak pernah berhenti berpikir untuk bangsanya. Bahkan, dalam keterbatasan itu, beliau masih meluangkan waktu berharga untuk mengajarkan anak-anak di sekitarnya. Beliau menanamkan semangat kebangsaan, membuka wawasan, serta menumbuhkan rasa percaya diri sebagai bangsa yang merdeka.”
Selama periode pengasingan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial, Soekarno menunjukkan ketangguhan dan dedikasinya yang tak tergoyahkan. Ia secara aktif terlibat dalam berbagai diskusi, memberikan pengajaran, dan berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan di tengah masyarakat yang hidup di bawah kungkungan penjajah. Nilai-nilai luhur inilah yang kini diabadikan melalui visualisasi patung yang menggambarkan Soekarno dengan penuh kasih sedang mendampingi dan membimbing sekelompok anak. Kehadiran anak-anak dalam patung ini merupakan representasi simbolis dari generasi penerus bangsa yang kelak akan melanjutkan estafet perjuangan.
Perpustakaan Nawaksara sebagai Pusat Inspirasi dan Literasi
Kehadiran Patung Soekarno di Gedung Perpustakaan Daerah Nawaksara tidak hanya sekadar menambah estetika, tetapi juga diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas. Ida Ayu Putu Eka Susanti menyampaikan harapannya bahwa Gedung Perpustakaan Daerah Nawaksara dapat bertransformasi menjadi sebuah ruang yang tidak hanya edukatif, tetapi juga inspiratif dan inklusif bagi seluruh elemen masyarakat.
“Dengan hadirnya ikon baru yang memiliki makna historis dan filosofis mendalam ini,” ujar Ida Ayu Putu Eka Susanti, “kami optimis perpustakaan akan semakin mampu menarik minat kunjung masyarakat. Terutama bagi kalangan pelajar dan generasi muda, kami berharap mereka akan semakin antusias untuk datang, belajar, dan menggali ilmu di perpustakaan.”
Perpustakaan, sebagai garda terdepan dalam penyediaan akses informasi dan pengetahuan, memegang peranan krusial dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Patung Soekarno yang menampilkan sosoknya yang sedang berbagi ilmu dengan anak-anak menjadi pengingat abadi akan pentingnya pendidikan dan peran para pendahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan serta membangun karakter bangsa.
Keberadaan patung ini diharapkan dapat menjadi titik awal untuk berbagai kegiatan edukatif dan literasi di perpustakaan. Program-program seperti diskusi buku, pelatihan menulis, seminar tentang sejarah kebangsaan, serta kegiatan peningkatan minat baca bagi anak-anak dan remaja dapat lebih digalakkan. Dengan demikian, Gedung Perpustakaan Daerah Nawaksara tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi pusat pengembangan diri dan penanaman nilai-nilai kebangsaan yang kuat.
Komitmen Gianyar dalam memperkaya fasilitas literasi dan menanamkan nilai-nilai luhur melalui seni visual patut diapresiasi. Patung Soekarno mendidik anak ini menjadi bukti nyata bahwa sejarah dan pendidikan dapat diintegrasikan dalam bentuk yang inspiratif, sehingga dapat terus relevan dan membekas di hati generasi penerus.



















