Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu: Menghidupkan Kembali Jantung Maritim Bangka
Di pesisir Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berdiri deretan gudang tak jauh dari bibir Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu. Bangunan-bangunan ini, meski tampak menyatu dengan lanskap pelabuhan yang selama bertahun-tahun lebih dikenal sunyi daripada hiruk-pikuk aktivitas, menyimpan harapan besar. Harapan agar Belinyu kembali bangkit menjadi simpul vital aktivitas maritim di Pulau Bangka.
Di tengah kesunyian itu, sosok Raharja Pantja, yang akrab disapa Afuk, seorang pengusaha lokal, melangkah menyusuri area pelabuhan. Ia menunjuk tiga bangunan gudang yang telah ia bangun di sekitar kawasan pelabuhan. Fasilitas-fasilitas ini disiapkan sebagai tempat transit barang, sebuah langkah antisipatif jauh sebelum wacana pengembangan pelabuhan bertaraf internasional mengemuka.
“Itu gudang sudah saya bikin untuk transit barang. Pertama kali alasannya karena belum ada gudang. Sekarang sudah ada gudang, sudah memenuhi persyaratan kan. Saya dukung untuk memajukan Belinyu,” ujar Afuk dengan penuh semangat saat berkeliling di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu.
Afuk meyakini, Belinyu memiliki keunggulan alamiah yang langka dimiliki pelabuhan lain di Bangka. Perairan di kawasan ini memiliki kedalaman yang memadai, memungkinkan kapal-kapal untuk bersandar kapan saja tanpa terkendala pasang surut air laut.
“Kapanpun bisa langsung bongkar muat, langsung bisa pergi,” jelasnya.
Ia membandingkan kondisi ini dengan pengalamannya di Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Pengalaman menunggu kapal untuk bersandar di pelabuhan tersebut masih lekat dalam ingatannya, seringkali memakan waktu berminggu-minggu.
“Dia datang (kapal), tapi parkirnya di Pasir Padi itu dua minggu tiga minggu. Jangkar dulu, nunggu pasang surut, baru antrian, kalau enggak antrian enggak bisa, karena bongkar muat cuma satu disitu,” tuturnya, menggambarkan lamanya proses menunggu.
Waktu tunggu yang panjang ini tentu saja berdampak signifikan pada biaya logistik. Kontainer yang tertahan berpotensi menimbulkan beban tambahan berupa biaya demurrage, yaitu denda akibat keterlambatan proses bongkar muat.
Saat ini, Afuk menjalankan usaha bongkar muat bahan bakar minyak (BBM) cair di dermaga yang berdekatan langsung dengan Pelabuhan Tanjung Gudang.
“Cuma BBM cair saja di sini. Karena kalau di Pangkalbalam kan terbatas, masuknya cuma 700 ton, 800 ton per kapal. Mereka (Pelabuhan Pangkalbalam) kan enggak bisa di atas seribu, karena nyangkut, kandas,” jelasnya.
Kondisi perairan Belinyu yang dalam memungkinkan kapal dengan muatan yang jauh lebih besar untuk bersandar dengan aman.
“Di sini alami punya, enggak pernah dikeruk. Makanya dari zaman Belanda dulu itu Belinyu ini punya PLTU terbesar di Asia Tenggara,” ungkapnya, merujuk pada sejarah panjang dan potensi maritim kawasan tersebut.
Teluk alami yang luas di perairan Belinyu juga menyediakan ruang labuh yang memadai bagi kapal-kapal besar, tanpa perlu khawatir akan keterbatasan ruang.
Afuk sangat berharap, peningkatan lalu lintas barang di pelabuhan ini akan memberikan dampak positif langsung pada perekonomian masyarakat sekitar.
“Setidaknya ada ratusan orang ikut bekerja, lapangan kerja pasti terbuka,” katanya optimis.
Ia menambahkan bahwa perputaran uang di Belinyu saat ini tergolong kecil. Kehadiran pelabuhan bertaraf internasional diyakini akan mampu mengubah dinamika ekonomi kawasan secara signifikan.
“Belinyu kan sekarang perputaran uangnya kecil, kalau ada kayak gitu (pelabuhan bertaraf internasional), kita happy dong. Anak cucu kita bisa jalanin. Kalau kita lihat sekarang Belinyu kan sepi banget, mau diapain sepi ini,” tuturnya dengan penuh harap.
Selain aktivitas bongkar muat, Afuk juga berharap peningkatan status pelabuhan akan diikuti dengan bertambahnya frekuensi kapal penumpang yang singgah di Belinyu.
“Misalnya kalau ada kapal Bukit Raya seminggu ada dua kali atau tiga kali, di sini juga happy kan, bisa ada penginapan juga, bisa dapat duit, orang nginep sini (Belinyu), berjalan lah semuanya,” harapnya.
Pengelolaan Pelindo: Menuju Pengembangan Strategis
Harapan untuk menghidupkan kembali Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu juga datang dari pihak pengelola. General Manager Pelindo Regional 2 Pangkalbalam, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Achmad Yoga Suryadarma, menjelaskan bahwa Pelindo telah memiliki Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang menjadi acuan pengembangan strategis. RIP ini disusun secara bertahap.
Untuk Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, pengembangan tahap pertama telah berhasil dilaksanakan.
“Ada dermaga cukup baru, tahun 2022. Itu sebenarnya salah satu pengembangan Pelabuhan Belinyu,” ujar Yoga saat ditemui di dermaga Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu.
Ke depannya, Pelindo akan terus mengevaluasi peningkatan lalu lintas kapal dan barang. Selain itu, studi kelayakan akan dilakukan untuk menghidupkan kembali pasar Pelabuhan Belinyu, yang diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
Saat ini, seluruh aset dan pengelolaan pelabuhan berada di bawah naungan Pelindo. Hal ini mencakup operasional dermaga, area pendukung, hingga kegiatan bongkar muat untuk berbagai jenis kargo, termasuk barang cair, kargo umum, dan penumpang.
“Termasuk juga melakukan kegiatan bongkar muat, barang-barang cair, ada juga kargo maupun penumpang,” jelasnya.
Yoga menegaskan komitmen Pelindo untuk membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari kalangan pengusaha swasta maupun pemerintah daerah.
“Dalam koridor kerja sama yang saling menguntungkan bagi Pelindo sekaligus dapat memberikan dampak dalam pengembangan Pelabuhan Belinyu dan juga memberikan dampak bagi kawasan Kabupaten Bangka ini. Nanti kita bisa men-trigger (memicu) pengembangan wilayah dengan masuknya kapal-kapal dan barang-barang melalui Pelabuhan Belinyu ini,” pungkasnya, menandakan kesiapan untuk berkolaborasi demi kemajuan bersama.



















