JAKARTA — Keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun menuai kritik tajam dari kalangan industri. Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) menilai langkah ini bertentangan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan kemandirian.
Kontradiksi dengan Agenda Nasional
Ketua Umum Gamma, Dadang Asikin, menyatakan kekecewaannya atas kebijakan impor tersebut. Menurutnya, langkah ini tidak sejalan dengan prioritas pemerintah yang tengah gencar mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), substitusi impor, dan keberpihakan pada produk-produk buatan anak bangsa.
“Di saat pemerintah mendorong penguatan TKDN, substitusi impor, serta keberpihakan terhadap produk dalam negeri, justru BUMN mengambil langkah yang berlawanan dengan arah kebijakan strategis nasional,” ujar Dadang.
Lebih lanjut, Dadang menyoroti inkonsistensi kebijakan ini dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang telah mendorong penggunaan kendaraan nasional, termasuk Maung produksi PT Pindad, di lingkungan pejabat dan institusi pemerintah. Ia berpendapat bahwa ketidakseragaman kebijakan semacam ini dapat mengikis semangat substitusi impor dan melemahkan upaya penguatan TKDN.
Dampak Terhadap Kepercayaan dan Daya Saing
Kebijakan impor kendaraan niaga ini juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam mendukung industri nasional. Selain itu, langkah ini dapat menurunkan daya saing sektor otomotif dan manufaktur dalam negeri. Industri otomotif sendiri memegang peranan penting sebagai salah satu pemicu pertumbuhan industri pengerjaan logam dan mesin, yang merupakan tulang punggung dari rantai pasok manufaktur.
Dadang menekankan pentingnya transparansi dalam pengambilan keputusan semacam ini. Jika alasan impor didasarkan pada keunggulan spesifikasi teknis, PT Agrinas seharusnya membuka kajian teknis dan pertimbangan ekonomi secara transparan kepada publik. Tanpa keterbukaan tersebut, keputusan ini patut dipertanyakan dan berisiko mencederai semangat nasionalisme industri.
Industri Permesinan: Jantung Industrialisasi
Industri permesinan memiliki efek pengganda ekonomi yang sangat luas. Dampaknya merambah ke berbagai sektor, mulai dari industri baja dan logam dasar, produsen komponen kecil dan menengah, sektor pendidikan vokasi dan teknik, hingga penyerapan tenaga kerja terampil.
“Industri permesinan adalah jantung industrialisasi otomotif nasional. Sehingga jika ada situasi atau kebijakan untuk melemahkan industri otomotif akan berdampak langsung pada penguatan industri penyokongnya seperti industri pengerjaan logam dan mesin,” tegas Dadang.
Latar Belakang Program Kopdes Merah Putih
Sebagai informasi, PT Agrinas Pangan Nusantara ditunjuk oleh pemerintah sebagai pelaksana pembangunan fisik program Kopdes Merah Putih. Penunjukan ini dilakukan melalui Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan dan pengembangan koperasi tersebut.
Dalam rangka menjalankan program ini, PT Agrinas Pangan Nusantara merealisasikan impor 105.000 unit kendaraan dari India. Rincian impor tersebut meliputi:
- 35.000 unit pikap 4×4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd.
- 35.000 unit pikap 4×4 dari Tata Motors.
- 35.000 unit truk roda enam dari produsen yang sama.
Pengiriman kendaraan ini dijadwalkan akan dilakukan secara bertahap sepanjang tahun 2026. Sebanyak 200 unit pikap Mahindra dilaporkan telah tiba di Indonesia.
Pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara menyebutkan beberapa pertimbangan dalam mengambil keputusan impor ini, di antaranya adalah:
- Kapasitas produksi pikap domestik yang diperkirakan sekitar 70.000 unit per tahun.
- Potensi gangguan terhadap kebutuhan logistik lain jika seluruh kebutuhan diserap dari pasar lokal.
- Aspek harga dan spesifikasi yang dinilai lebih kompetitif dari kendaraan impor.
Meskipun demikian, kritik dari Gamma menunjukkan adanya kekhawatiran mendalam mengenai dampak jangka panjang dari kebijakan impor ini terhadap kemandirian dan daya saing industri otomotif serta sektor pendukungnya di Indonesia.












