🔥 TERKINI

Perbaikan gizi nasional, Ngabila Salama tekankan prioritas bagi anak keluarga rentan

Hendra Oleh: Hendra
2 dilihat
Selasa, 09 Juni 2026 - 19:35 WIB • Waktu baca: 3 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Ringkasan Berita:

  • Ngabila menyarankan program perbaikan gizi diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga rentan dan miskin yang paling membutuhkan intervensi.
  • Langkah tersebut dinilai penting agar bantuan gizi tepat sasaran dan mampu menekan risiko stunting serta masalah kesehatan anak.
  • Menurutnya, keterbatasan anggaran harus diimbangi dengan penentuan kelompok penerima manfaat yang jelas dan terukur

 

Laporan Wartawan Batampena.com, Miftahul Munir

Batampena.com, CIRACAS – Praktisi Kesehatan dr Ngabila Salama telah menyampaikan evaluasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sosial medianya.

Ia menilai, MBG memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Ada sekira 10 point yang ia sampaikan sebagai bahan evaluasi agar program MBG berjalan aman dan tercapai dalam pemenuhan gizi.

“Namun, pelaksanaannya perlu terus dievaluasi agar manfaat yang diberikan lebih tepat sasaran dan berdampak signifikan terhadap upaya pencegahan stunting,” kata Ngabila, Minggu (7/6/2026).

Ngabila mengakui, ada sekira 10 usulan agar progam MBG bisa diperbaiki untuk memperkuat efektivitas penanganan stunting.

Usulan pertama Ngabila adalah memfokuskan intervensi gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak berusia dua tahun. 

Kelompok ini dinilai Nganila menjadi kunci utama dalam pencegahan stunting terhadap anak-anak yang lahir.

“Kita harus memastikan kelompok 1.000 HPK mendapatkan perhatian utama karena di fase inilah fondasi tumbuh kembang anak dibentuk,” jelasnya.

Kedua, pemberian MBG kepada anak sekolah juga perlu diprioritaskan berdasarkan pemetaan data yang akurat. 

Ngabila menyarankan agar mengutamakan anak-anak dari keluarga rentan atau miskin yang butuh perbaikan gizi.

“Ketiga adalah membentuk representasi atau perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) hingga tingkat kecamatan. Kehadiran BGN di daerah dinilai penting untuk memperkuat koordinasi, pengawasan, dan evaluasi program,” terang ibu tiga anak.

Keempat, Ngabila meminta agar memangkas anggaran operasional atau administratif, dan pemberian tempat alat makan kepada penerima manfaat MBG.

Setiap anggaran yang keluar harus mementingkan protein hewani supaya gizi anak-anak terpenuhi.

“Buat panduan menu seragam di tiap kecamatan dengan masukan ahli gizi sesuai konsep isi piringku Kemenkes RI. Keenam Setiap SPPG harus punya sertifikat layak hygiene sehat dari Puskesmas, bukti mutu dan SOP pasti terlaksana harian,” ucap Ngabila.

Ketujuh, Ngabila menyarankan agar pengawasan melalui surveilans berjalan aktif guna mencegah keracunan dan porsi yang diberikan sesuai takaran anak-anak.

“Yang ke delapan saya usulkan libatkan kantin sekolah dan orang tua murid minimal dalam evaluasi,” ucap Ngabila.

Kesembilan, Ngabila meminta agar ada studi berbasis data manfaat MBG anak sekolah untuk cegah stunting. 

Kemudian, ia yakin jangka panjang dari MBG adalah untuk menyiapkan fisik dan mental.

“Terakhir, MBG ini sejalan dengan cegah stunting ABCDE (Aktif minum Tablet Tambah Darah, Bumil teratur periksa, Cukupi konsumsi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, Eksklusif ASI 6 bulan), dan guru setiap hari bisa memberi edukasi harian ke anak sekolah sebelum memulai makan bersama,” tandasnya. (m26)

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →