Jejak Diplomasi Prabowo: Kunjungan Luar Negeri Hasilkan Buah Konkret
Selama satu setengah tahun terakhir, serangkaian kunjungan luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil yang signifikan dan terukur. Lawatan ke berbagai negara serta partisipasi dalam forum internasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah strategi diplomatik yang jitu untuk membangun kedekatan antarpemimpin dunia dan mempererat hubungan antarnegara.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kunjungan kenegaraan ini adalah untuk membangun fondasi emosional yang kuat antar kepala negara. “Hal ini krusial mengingat dinamika global yang penuh tantangan saat ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga krisis yang melanda Timur Tengah,” ungkap Teddy. Ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, kemampuan sebuah negara untuk meminta bantuan dari negara lain sangat bergantung pada kedekatan emosional yang telah terjalin sebelumnya. Oleh karena itu, anggapan bahwa kunjungan ini hanya sekadar pencitraan atau kegiatan seremonial adalah keliru. “Kita harus melihat apa yang telah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” tegasnya.
Kunjungan Presiden Prabowo telah menghasilkan sejumlah capaian konkret yang patut diapresiasi:
-
Indonesia Bergabung dengan BRICS:
Salah satu pencapaian monumental adalah diterimanya Indonesia sebagai anggota blok BRICS. Blok ekonomi yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia ini memberikan keuntungan strategis.
Manfaatnya terasa nyata, terutama di tengah gejolak geopolitik. Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional terjamin, harga BBM bersubsidi pun stabil, dan ketahanan pangan negara turut terjaga. -
Perjanjian Tarif Nol Persen di Uni Eropa:
Indonesia berhasil merealisasikan perjanjian tarif nol persen dengan Uni Eropa, yang beranggotakan 25 negara. Perjanjian ini, yang telah diupayakan selama bertahun-tahun, akhirnya terwujud pada tahun 2025 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Hal ini membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk-produk Indonesia ke pasar Eropa. -
Lonjakan Investasi Asing:
Dalam kurun waktu 1,5 tahun, Indonesia berhasil menarik total investasi sebesar Rp 2.430 triliun, berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sebagai contoh nyata, kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan sebelumnya langsung menghasilkan komitmen investasi senilai sekitar Rp 575 triliun. Angka ini menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. -
Penguatan Alutsista Pertahanan:
Indonesia kini memiliki akses ke berbagai jenis alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang modern dan kuat dari berbagai negara. Kerjasama pertahanan terjalin dengan negara-negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, serta negara-negara Eropa lainnya. Penguatan sektor pertahanan ini penting untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. -
Kelancaran Pelaksanaan Ibadah Haji:
Program ibadah haji tahun 2025 dan khususnya tahun ini berjalan dengan sangat lancar, minim kendala signifikan. Selain itu, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki perkampungan haji di Arab Saudi. Hal ini dimungkinkan berkat perubahan undang-undang di Arab Saudi yang mengizinkan negara lain untuk memiliki lahan di sana yang dapat dimanfaatkan oleh jemaah haji mereka. -
Peran Aktif dalam Isu Palestina:
Presiden Prabowo menunjukkan peran aktif dan kepedulian yang tinggi terhadap isu Palestina. Indonesia telah beberapa kali melakukan pengiriman logistik melalui jalur udara ke Palestina. Aksi ini membutuhkan diplomasi intensif dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilalui oleh pesawat pengangkut logistik tersebut.
Selain itu, Indonesia juga mengirimkan kapal rumah sakit ke Palestina. Pemerintah juga memberikan kesempatan bagi anak-anak Palestina untuk menempuh pendidikan di universitas-universitas di Indonesia, dengan saat ini tercatat sekitar 100 orang yang telah menempuh pendidikan di tanah air. -
Pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI):
Baru-baru ini, melalui diplomasi yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, seorang WNI yang diamankan oleh pihak Israel di laut bebas berhasil dibebaskan dan dikembalikan ke Indonesia dalam beberapa hari. Upaya diplomasi ini mencakup jalur yang dipublikasikan maupun yang bersifat tertutup.
Teddy menegaskan bahwa semua capaian ini adalah hasil konkret dari diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo melalui berbagai cara, baik yang dipublikasikan maupun tidak. Fokus utamanya adalah pada hasil yang terukur dan bermanfaat bagi bangsa Indonesia.
Selanjutnya, terkait dengan pertemuan Presiden dengan kepala negara lain dalam berbagai acara internasional, Teddy menjelaskan bahwa penentuan prioritas pertemuan sepenuhnya berada di tangan Presiden dan saran dari Menteri Luar Negeri. Mereka yang memiliki pemahaman mendalam mengenai mana pertemuan yang harus diutamakan, mana yang bisa dilakukan secara langsung, melalui sambungan telepon, atau bahkan tidak perlu diberitakan.
“Saya rasa semua diplomat hebat tahu itu. Jadi kurang elok kalau itu masih dipermasalahkan. Jadi ruang untuk setiap masukan kita terima tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” tutup Teddy, menekankan pentingnya melihat fakta dan pencapaian nyata yang telah diraih.



















