Banjir Susulan Landa Jakarta Barat, Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi
Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta pada tanggal 7 dan 8 Maret 2026 lalu meninggalkan dampak signifikan, khususnya di Jakarta Barat. Hingga Senin pagi, 9 Maret 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat masih ada 439 orang yang terpaksa mengungsi di berbagai lokasi akibat genangan air yang belum surut. Ratusan pengungsi ini tersebar di empat kelurahan yang terdampak paling parah.
Distribusi Pengungsi di Jakarta Barat
Kepala Pelaksana BPBD Jakarta, Isnawa Adji, merinci sebaran para pengungsi tersebut. Kondisi ini menunjukkan betapa luasnya area yang terdampak banjir kali ini.
Kelurahan Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat:
Tiga masjid di kawasan ini difungsikan sebagai tempat penampungan sementara bagi warga yang rumahnya terendam banjir. Sebanyak 138 orang dari 44 kepala keluarga terpaksa meninggalkan kediaman mereka dan mencari perlindungan di tempat ibadah ini.Kelurahan Kembangan Selatan, Jakarta Barat:
Di kelurahan ini, tercatat sebanyak 130 jiwa yang mengungsi. Mereka ditempatkan di Masjid At Taqwa dan Majelis Darul Muhyi, memberikan tempat berlindung yang aman bagi mereka.Kelurahan Kembangan Utara, Jakarta Barat:
Masjid Jami Al Ikhlas dan Musala At Tihanah menjadi lokasi pengungsian bagi 108 orang. Selain itu, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05/08 juga turut menampung 33 jiwa yang kehilangan tempat tinggal sementara akibat banjir.Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat:
Meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kelurahan lain, Kelurahan Jelambar juga masih memiliki pengungsi. Sebanyak 30 orang dari 10 kepala keluarga masih bertahan di Musala At Taqwa karena rumah mereka masih tergenang air dan belum aman untuk ditinggali.
Titik Banjir yang Masih Tersisa
Menurut Isnawa Adji, pada Senin pagi, 9 Maret 2026, masih terdapat beberapa titik di Jakarta yang tergenang banjir. “Saat ini terdapat 16 RT dan 2 jalan tergenang,” ungkapnya dalam keterangan tertulis. Seluruh titik banjir yang masih tersisa ini seluruhnya berlokasi di wilayah Jakarta Barat, menunjukkan konsentrasi dampak banjir di satu area.
Titik banjir terbanyak ditemukan di Kelurahan Rawa Buaya, dengan 7 Rukun Tetangga (RT) yang masih tergenang air. Ketinggian air di kawasan ini bervariasi antara 60 hingga 90 sentimeter, menjadikannya salah satu area yang paling parah terdampak.
Selanjutnya, empat RT di Kelurahan Duri Kosambi juga masih dilanda banjir dengan ketinggian air antara 30 hingga 80 sentimeter. Satu RT di Kelurahan Jelambar tergenang air setinggi 30 sentimeter. Sementara itu, di Kelurahan Kembangan Selatan dan Kembangan Utara, masing-masing terdapat dua RT yang masih tergenang air dengan ketinggian berkisar antara 40 hingga 60 sentimeter.
Penyebab dan Upaya Penanganan
Isnawa Adji menjelaskan bahwa penyebab utama banjir yang terjadi adalah kombinasi antara curah hujan yang tinggi dan luapan air dari kali atau sungai. Fenomena alam ini seringkali menjadi tantangan besar bagi kota metropolitan seperti Jakarta.
Menyikapi kondisi ini, jajaran BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan personelnya untuk memantau secara intensif kondisi banjir di setiap wilayah yang terdampak. Selain itu, koordinasi dengan unsur terkait lainnya juga terus dilakukan untuk mempercepat penanganan. Upaya-upaya seperti penyedotan genangan air dan memastikan fungsi tali-tali air berjalan dengan baik menjadi prioritas utama.
“Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat. Kami mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada potensi genangan,” tegas Isnawa Adji. Imbauan ini penting untuk menjaga keselamatan warga dan meminimalkan risiko kerugian lebih lanjut akibat banjir susulan atau genangan yang belum surut.




