Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi dan Pesan Kebangkitan Yesus
Minggu Kerahiman Ilahi adalah momen penting dalam perayaan Gereja Katolik, yang bertujuan untuk mensyukuri dan menghormati Yesus sebagai Raja Kerahiman Ilahi. Dalam perayaan ini, umat diajak untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas, yang telah membawa-Nya ke salib demi keselamatan umat manusia yang penuh dosa.
Yesus, yang mengasihi sampai akhir, tidak hanya mati di salib tetapi juga bangkit dari kematian. Kebangkitan-Nya menjadi tanda bahwa maut telah dikalahkan oleh cahaya kemuliaan. Meskipun pada awalnya para rasul, terutama Rasul Thomas, meragukan kebangkitan-Nya, Yesus tetap hadir dan menampakkan diri kepada mereka dengan cara-cara yang dapat dikenali.
Ia datang untuk menyapa, memberikan peneguhan, dan menegaskan bahwa Ia benar-benar telah bangkit. Di tengah ketakutan dan keragu-raguan, Yesus hadir untuk memberikan damai sejahtera dan menghembuskan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya. Roh Kudus ini memberikan hikmat dan keberanian bagi para murid dalam memberi kesaksian tentang kebangkitan, pengampunan dosa, serta warta gembira ke seluruh dunia.
Dalam Injil Yohanes 20:19, Yesus berkata, “Damai bagi kamu.” Saat para murid berada dalam ketakutan karena takut terhadap para pemuka Yahudi, Yesus datang di tengah-tengah mereka dan menyampaikan pesan damai. Para murid bersukacita setelah melihat tangan dan lambung-Nya. Yesus lalu menghembuskan Roh Kudus dan mengutus mereka untuk bersaksi tentang kabar gembira kebangkitan dan pengampunan dosa.
Pernyataan Yesus dalam Yohanes 20:23, “Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada,” menunjukkan pentingnya kerahiman dan pengampunan dalam kehidupan iman. Kerahiman Ilahi yang kita rayakan ini sangat berkaitan erat dengan belaskasih dan pengampunan Tuhan atas dosa umat manusia.
Dalam doa kerahiman ilahi, kita memohon “Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belaskasih-Mu kepada kami dan kepada seluruh dunia.” Seperti para murid yang telah mendapatkan pengampunan dari Tuhan, kita juga diutus untuk mewartakan belaskasih kerahiman dan pengampunan dosa bagi sesama.
Dalam praktik pelayanan gereja Katolik, pesan Yesus ini diimplementasikan melalui Sakramen Rekonsiliasi. Menjelang perayaan Kerahiman Ilahi, para devosan diundang untuk menerima sakramen ini sebagai bentuk pengakuan dan pertobatan.
Perayaan ini juga menghadirkan bacaan tentang Rasul Thomas, yang tidak percaya pada kesaksian para rasul lainnya tentang kebangkitan Tuhan. Ia mengatakan, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya” (Yoh 20:25). Namun, ketika Yesus datang kembali dan menampakkan diri kepada semua rasul, termasuk Thomas, ia akhirnya percaya dan berseru, “Ya Tuhanku dan Allah-Ku” (Yoh 20:28).
Yesus mengapresiasi para rasul dan kita semua yang percaya kepada-Nya, dengan berkata, “Berbahagialah yang percaya karena melihat, namun lebih berbahagia yang percaya sekalipun tidak melihat.”
Yesus mengucapkan “Damai bagi kamu” tiga kali, baik kepada para rasul yang penuh ketakutan maupun kepada Thomas yang ragu-ragu. Damai sejahtera yang ditawarkan oleh Yesus tidak hanya untuk mereka yang sudah percaya, tetapi juga untuk mereka yang ragu atau bahkan tidak percaya. Pertanyaannya adalah apakah kita terbuka untuk menerima tawaran dan sapaan Yesus “Damai bagi kamu”?
Jika kita menerima, maka kita diutus untuk menjadi pembawa damai dan kabar sukacita kebangkitan. Sementara yang tidak percaya, tentu saja sukacita damai akan kembali kepada Tuhan, sumber damai dan sukacita.
Dari perayaan Minggu Kerahiman Ilahi, kita belajar beberapa hal. Pertama, tentang sikap orang beriman yang mengalami belaskasih dan pengampunan dari Tuhan, lalu diutus untuk melakukan hal yang sama kepada sesama. Kedua, berserah diri dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Ketiga, belajar bersikap kritis dan obyektif seperti Rasul Thomas, yang mencari kebenaran, lalu percaya dan berserah diri kepada Tuhan. Keempat, kita belajar menjadi murid-murid yang diutus untuk hadirkan belaskasih dan kerahiman Allah dalam tindakan-tindakan kebajikan, seperti mengunjungi yang sakit, orang di penjara, serta berdoa bagi perdamaian dunia.
Semoga kita dirahmati menjadi saksi-saksi damai yang hidup, siap sedia menjadi agen yang mempromosikan dan menghidupi spirit damai dengan kata-kata khas Yesus, “Damai bagi kamu; Pax Vobis!”



















