Merajut Kebersamaan Menyambut Ramadan: Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak di Sakra Timur
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat di tiga desa Kecamatan Sakra Timur, Nusa Tenggara Barat, menggelar sebuah tradisi unik dan sarat makna, yaitu Roah 1001 Tebolak Beak. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi, merenungi nilai-nilai spiritual melalui ziarah dan zikir, serta berbagi kebahagiaan melalui jamuan makan bersama.
Rangkaian kegiatan adat ini secara resmi dibuka dengan sebuah prosesi yang menarik perhatian. Puluhan perempuan tampak berbaris rapi, masing-masing membawa dulang yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah menyala. Arak-arakan dulang ini diarak menuju Pemakaman Batu Ngereng, menandai dimulainya serangkaian ritual yang rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadan.
Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak merupakan inisiatif bersama dari tiga desa, yaitu Desa Gelanggang, Desa Lepak, dan Desa Sakra Timur. Warga dari ketiga wilayah ini berkumpul dan berpartisipasi aktif dalam ritual yang telah mengakar kuat dalam budaya mereka.
Warisan Leluhur yang Terjaga
Ketua Panitia Penyelenggara, Ibrahim, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Roah 1001 Tebolak Beak memang sudah menjadi kebiasaan secara turun-temurun masyarakat di sini, yang dilaksanakan menjelang tibanya bulan suci Ramadhan,” ujarnya. Beliau menegaskan komitmen masyarakat untuk terus menjaga kelestarian tradisi ini setiap tahunnya.
Lebih dari sekadar pelestarian adat, tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai sarana untuk mempererat ikatan persaudaraan di antara warga ketiga desa. Kebersamaan ini divisualisasikan melalui kegiatan “begibung”, yaitu tradisi makan bersama dengan cara duduk melingkar atau berdekatan, berbagi hidangan yang telah disiapkan.
Makna di Balik Nama dan Prosesi
Istilah “1001” dalam nama tradisi ini bukanlah merujuk pada jumlah dulang yang spesifik. Sebaliknya, angka tersebut digunakan untuk menggambarkan banyaknya dulang yang dibawa oleh warga, yang semuanya ditutup dengan “tebolak” atau penutup dulang berwarna merah. “Untuk itulah kita sebut sebagai Roah 1001 Tebolak Beak, karena tebolak (penutup dulang) yang berwarna merah,” jelas Ibrahim.
Prosesi Roah 1001 Tebolak Beak diawali dengan kegiatan silaturahmi antarwarga, yang kemudian dilanjutkan dengan tausiah atau ceramah agama yang disampaikan oleh tokoh agama setempat. Ziarah kubur ke makam para leluhur menjadi bagian penting dari ritual ini, disusul dengan pembacaan zikir dan doa bersama. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan memegang peranan sentral dalam seluruh rangkaian tradisi ini.
“Di dalam filosofi Roah 1001 Tebolak Beak ini adalah semangat kebersamaan, kekeluargaan, silaturahmi, dan pengajian agama, serta zikir dan doa,” ungkap Ibrahim.
Pemilihan Pemakaman Batu Ngereng sebagai lokasi pelaksanaan tradisi ini juga memiliki alasan kuat. Lokasi ini merupakan area pemakaman sentral bagi masyarakat ketiga desa, tempat peristirahatan terakhir para leluhur dan pendahulu mereka. “Tempat ini sentral pemakaman yang ada di wilayah tiga desa. Di sini juga tempat pemakaman para orang tua dan pendahulu kami,” tuturnya.
Salah seorang warga Desa Gelanggang, Suburiah, menyambut baik tradisi ini dan menganggapnya sebagai ruang silaturahmi yang sangat berharga dan perlu dijaga keberlangsungannya. “Kita makan bersama, kita duduk bersama. Itulah cara-cara untuk menghubungkan kita dengan masyarakat lainnya,” pungkas Ibrahim, menekankan esensi dari tradisi yang telah mengakar ini.
Melalui Roah 1001 Tebolak Beak, masyarakat Sakra Timur tidak hanya menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan penuh khidmat, tetapi juga meneguhkan kembali nilai-nilai luhur persaudaraan, kekeluargaan, dan spiritualitas yang menjadi pondasi kehidupan mereka. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah modal utama dalam menghadapi setiap tantangan, termasuk dalam menyambut bulan penuh berkah.



















