Ancaman Gagal Tanam dan Rawan Pangan: Saluran Irigasi Ambruk di Muara Enim
Muara Enim – Nasib puluhan petani di Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, kini berada di ujung tanduk. Sebuah saluran irigasi vital, Lubuk Genting I Ayek Lemutu, dilaporkan ambruk, mengancam gagal tanam pada lahan seluas 63 hektare. Situasi ini tidak hanya berdampak pada mata pencaharian para petani, tetapi juga berpotensi menciptakan kerawanan pangan bagi ratusan jiwa di wilayah tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan kontras yang mencolok antara dua kawasan persawahan yang seharusnya terairi oleh sistem irigasi yang sama. Di Lubuk Genting I, hamparan sawah tampak terbengkalai, ditumbuhi ilalang liar dan sebagian tergenang oleh air hujan. Para petani yang mencoba mengolah lahan dengan mesin pembajak menghadapi kendala serius; tanah yang lengket akibat minimnya pasokan air irigasi membuat pekerjaan mereka tidak optimal. Kondisi ini sangat berbeda dengan sawah di Lubuk Genting II, yang terletak di dataran lebih rendah dan masih menerima aliran air irigasi. Di sana, tanaman padi berusia dua bulan tumbuh subur dan menghijau, menjadi saksi bisu kegagalan sistem irigasi di kawasan yang lebih tinggi.
Akar Permasalahan: Proyek yang Tak Tuntas
Kepala Desa Tanjung Bulan, Tarzanudin, menjelaskan bahwa permasalahan ini berawal dari proyek pembangunan irigasi di dataran Lubuk Genting I Ayek Lemutu yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Muara Enim pada tahun 2025. Sayangnya, proyek tersebut tidak terselesaikan dengan baik. Akibatnya, aliran air tidak dapat tersalurkan secara optimal ke lahan-lahan pertanian yang berada di dataran yang lebih tinggi.
“Kemarin kami sudah bergotong royong melakukan perbaikan agar air bisa mengalir, tapi belum optimal. Rencananya mau gotong royong lagi, namun kalau irigasinya sudah ambruk kami tidak sanggup karena membutuhkan biaya besar,” ujar Tarzanudin dengan nada prihatin.
Sebelum kerusakan terjadi, masyarakat sangat bergantung pada sistem irigasi ini. Dengan pasokan air yang lancar, para petani mampu menggarap sawah mereka dan bahkan memanen hasil dua kali dalam setahun. Namun, sejak saluran irigasi mengalami kerusakan, aktivitas pertanian terhenti.
Dampak Gagal Tanam dan Ancaman Rawan Pangan
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi para petani. Seharusnya, tanaman padi di lahan seluas 63 hektare tersebut sudah berusia dua bulan dan siap panen setelah Hari Raya Idul Fitri. Namun, dengan kondisi irigasi yang ambruk, harapan untuk panen tersebut pupus.
“Jika kekeringan terus terjadi, dipastikan gagal tanam dan ratusan jiwa bisa terdampak rawan pangan,” tegas Tarzanudin.
Ancaman gagal tanam ini tidak hanya berarti kerugian materiil bagi para petani, tetapi juga dapat berdampak luas pada ketersediaan pangan di wilayah tersebut. Ketergantungan yang tinggi pada hasil pertanian membuat ratusan jiwa berisiko mengalami kekurangan pangan apabila lahan sawah tidak dapat menghasilkan panen.
Upaya Perbaikan dan Kebutuhan Mendesak
Meskipun masyarakat telah berupaya melakukan perbaikan secara swadaya melalui kegiatan gotong royong, upaya tersebut belum mampu mengatasi akar permasalahan yang lebih besar, yaitu ambruknya struktur irigasi. Perbaikan yang bersifat sementara tidak dapat menjamin aliran air yang stabil dan optimal.
Kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Perbaikan total terhadap saluran irigasi Lubuk Genting I Ayek Lemutu menjadi sebuah keharusan. Investasi yang lebih besar diperlukan untuk memulihkan fungsi irigasi ini, tidak hanya untuk menyelamatkan mata pencaharian para petani, tetapi juga untuk memastikan ketahanan pangan di Desa Tanjung Bulan dan sekitarnya.
Para petani berharap agar pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki saluran irigasi yang ambruk. Kelangsungan hidup mereka dan ketahanan pangan masyarakat bergantung pada pemulihan sistem irigasi yang vital ini. Tanpa adanya solusi yang memadai, ancaman gagal tanam dan kerawanan pangan akan terus menghantui Desa Tanjung Bulan.












