Alun-alun Purwokerto Kembali Dibuka untuk Warga Setelah 7 Tahun
Setelah hampir tujuh tahun tertutup dari aktivitas warga, area rumput Alun-alun Purwokerto kini kembali bisa diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bersantai. Keputusan ini menjadi angin segar bagi warga yang selama ini merindukan ruang terbuka di tengah pusat kota.
Sejak Sabtu (18/4/2026), masyarakat diperbolehkan duduk dan bersantai di atas hamparan rumput Alun-alun Purwokerto. Namun, kebebasan ini tidak datang tanpa syarat. Pemerintah Kabupaten Banyumas menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan keasrian area tersebut.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan bahwa kebijakan ini diambil sebagai bentuk respons terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan fungsi alun-alun dikembalikan sebagai ruang publik yang nyaman. “Ini juga karena aspirasi masyarakat, mulai Sabtu kemarin area rumput Alun-alun sudah bisa diakses,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini keterbatasan area berlantai keramik kerap membuat pengunjung kesulitan mencari tempat duduk. Dengan dibukanya area rumput, masyarakat memiliki ruang lebih luas bersantai, rekreasi, hingga sekadar nongkrong menikmati suasana kota. “Ketika datang ke alun-alun, mereka ingin bersantai, rekreasi, dan nongkrong. Jadi mengembalikan makna alun-alun sebagai ruang publik bagi masyarakat,” tambahnya.
Meski demikian, Sadewo mengingatkan kebijakan ini harus diimbangi dengan kesadaran bersama. “Tapi, ada tapinya, harus mau bersama-sama menjaga keasrian dan kebersihan. Baik pengunjung maupun para pedagang,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, menjelaskan bahwa sebelumnya area rumput tidak bisa diakses karena kondisi rumput yang cepat rusak, sementara biaya perawatannya cukup tinggi. “Alun-alun bisa diakses kembali oleh warga atas perintah Pak Bupati setelah memperhatikan aspirasi masyarakat, mengakomodasi kebutuhan ruang publik bagi warga,” katanya.
Ia menegaskan, meskipun area rumput kini dibuka, tetap ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi. Salah satunya, pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan tikar di atas rumput karena dapat mempercepat kerusakan. “Kami menekankan beberapa larangan, seperti tidak diperbolehkan membawa tikar ke dalam area dan pengunjung wajib menjaga kebersihan,” ujar Sugiri.
Selain itu, keberadaan pedagang juga diatur secara ketat. Area dalam Alun-alun harus tetap steril dari aktivitas jual beli. Para pedagang diminta tetap berada di area berlantai keramik di bagian luar. Sugiri menyebut bahwa pihaknya telah melakukan pendekatan persuasif dengan menggelar dialog bersama para pedagang. “Kami sudah berembug dengan para pedagang agar tidak masuk ke area dalam Alun-alun dan mereka menyatakan setuju. Ini demi menjaga kebersihan bersama. Justru dengan dibukanya akses masuk bagi warga, kami optimis omzet pedagang yang berjualan di sekitar area luar akan meningkat karena volume pengunjung bertambah,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap uji coba. Tidak menutup kemungkinan area rumput akan ditutup sementara sewaktu-waktu untuk keperluan perawatan. “Saat ini masih tahap ujicoba, kita lihat seperti apa beberapa bulan ke depan. Baru kita temukan ritmenya dan tentukan penjadwalan untuk masa perawatan,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung Alun-alun Purwokerto, Bening Berliana, mengaku sangat menyambut antusias dibukanya kembali rumput Alun-alun Purwokerto. “Sangat senang, karena bisa santai dan duduk-duduk, karena kalau hanya di bagian depan sana itu kadang sudah terlalu penuh, apalagi sabtu-minggu,” katanya kepada Tribunbanyumas.com, Minggu (19/4/2026).
Terkait dengan aturan yang diberlakukan, Kasih sendiri sangat tidak mempermasalahkan. “Ya baguslah kita juga ikut menjaga, lagian kan cuma duduk, bukan mau merusak, dan baiknya juga disediakan tempat sampah yang representatif yang mudah dijangkau,” tambahnya.
Ia juga berharap dengan dibukanya lagi area lapangan untuk umum dapat memberi pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung untuk bersantai. Dengan dibukanya kembali akses ke area rumput, diharapkan Alun-alun Purwokerto kembali hidup sebagai ruang interaksi sosial warga, tanpa mengabaikan aspek ketertiban dan keberlanjutan lingkungan.



















