Misteri Kematian A (57) di Boyolali: Sate Ayam Misterius dan Ayam yang Ikut Mati
Keluarga seorang wanita berinisial A (57) di Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, memiliki keyakinan kuat bahwa kematian A pada 19 Mei 2026 bukanlah peristiwa biasa. Mereka meyakini A meninggal akibat mengonsumsi sate ayam yang diduga telah dicampur dengan racun. Keyakinan ini semakin menguat setelah pihak keluarga mendapatkan keterangan dari seorang pengemudi ojek online (ojol) yang mengantarkan paket sate ayam tersebut kepada korban.
Kesaksian Pengemudi Ojol Menguatkan Kecurigaan
Menurut keterangan dari Widodo, kakak korban A, pengemudi ojol tersebut telah diperiksa oleh pihak kepolisian dan menyatakan kesiapannya untuk memberikan kesaksian lebih lanjut demi penegakan hukum. “Saya apabila dibutuhkan setiap saat, saya siap, pak. Saya setiap saat dipanggil demi penegakan hukum, saya siap untuk datang, pak,” ujar Widodo menirukan ucapan pengemudi ojol tersebut.
Kesaksian pengemudi ojol ini menjadi pilar penting bagi dugaan keluarga bahwa menantu korban, yang berinisial P, adalah pelaku di balik peristiwa tragis ini. Diduga, P mencampurkan racun ke dalam sate ayam sebelum mengirimkannya melalui jasa ojek online. Lebih lanjut, Widodo mengungkapkan bahwa P menggunakan akun atas nama anak kedua korban, Luriyanti, untuk memesan sate tersebut.
Pesan khusus pun disampaikan oleh P kepada pengemudi ojol. “Tolong mas, ini antar ke ibu Aminah, tapi jangan bilang kalau dari saya, saya anaknya,” kata Widodo, mengutip instruksi yang diberikan P kepada pengemudi ojol.
Keanehan semakin terasa ketika sate ayam tiba di rumah korban. A sempat menghubungi Luriyanti untuk memastikan pengiriman makanan tersebut. Namun, Luriyanti justru membantah telah mengirim sate ayam dan memperingatkan ibunya untuk tidak memakannya. “Wis ojo mbok pangan bu, ojo mbok pangan bu (Sudah jangan dimakan bu, jangan dimakan bu),” demikian ucapan Luriyanti yang disampaikan oleh Widodo.
P sendiri telah menjalani pemeriksaan oleh kepolisian. Namun, ia membantah tuduhan telah memasukkan racun ke dalam sate ayam. Bahkan, P sempat meminta keluarga untuk tidak melaporkan kematian A kepada pihak kepolisian, dengan alasan yang terkesan meremehkan, “Alah wis usah wae, mboke bu wis nek kono uripe kepenak (Alah sudah tidak usah saja, ibu di sana hidupnya sudah enak).”
Lima Ekor Ayam Ikut Mati Tragis
Kecurigaan keluarga terhadap sate ayam yang mengandung zat beracun semakin terkonfirmasi oleh kejadian yang tak kalah menggegerkan. Lima ekor ayam milik korban ditemukan mati mendadak setelah mematuk sisa bumbu sate yang dibuang oleh korban.
Widodo (61), kakak kandung korban, membenarkan peristiwa kematian massal hewan ternak tersebut. Sebagai bagian dari upaya penyelidikan, pihak keluarga menyimpan salah satu bangkai ayam untuk dijadikan sampel. “Ada lima ekor ayam yang memakan sisa sate korban. Untuk sampel, satu ekor ayam yang mati kami simpan,” jelas Widodo.
Penyidik Satreskrim Polres Boyolali telah mengamankan bangkai ayam tersebut bersama dengan pakaian terakhir yang dikenakan korban sebagai barang bukti formal. “Selain barang bukti berupa pakaian korban yang terkena muntahan, penyidik juga telah mengamankan satu ekor ayam yang mati setelah memakan sisa sate tersebut,” ungkap seorang petugas kepolisian.
Polisi Masih Menunggu Hasil Autopsi dan Pemeriksaan Laboratorium
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi autopsi jenazah korban untuk dapat memastikan penyebab pasti kematian A yang terjadi pada 19 Mei 2026. Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, menjelaskan bahwa proses pemeriksaan di Dokpol Polda Jateng masih berlangsung. Pihak kepolisian belum menerima kesimpulan mengenai apakah ada indikasi kekerasan atau faktor lain yang menyebabkan kematian korban.
“Apakah ada indikasi tanda-tanda kekerasan atau hal lain terkait penyebab meninggalnya itu,” ujar AKBP Indra. Ia menegaskan bahwa polisi belum dapat menyimpulkan apakah kematian korban wajar atau tidak wajar. “Kan indikasinya banyak. Apakah karena sakit, apakah karena serangan jantung, atau penyebab lain. Kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.
Mengenai isu yang beredar tentang konsumsi sate ayam yang dikirim melalui ojek online, Kapolres menekankan bahwa hal tersebut masih sebatas dugaan. Terlebih lagi, terdapat jeda waktu sekitar seminggu antara waktu kejadian dengan laporan ke kepolisian. Oleh karena itu, satu-satunya petunjuk yang akurat saat ini adalah hasil autopsi.
“Karena rumah pun sudah dibersihkan sama keluarga, sudah bersih dan semuanya. Sehingga kita menunggu hasil dari Dokpol saja,” tutur AKBP Indra.
Terkait bangkai ayam yang diamankan karena diduga mati setelah mematuk sisa sate, AKBP Indra menyatakan bahwa barang bukti tersebut masih dalam proses pemeriksaan laboratorium. Namun, ia juga memberikan catatan bahwa ayam yang mati tersebut tidak dapat dijadikan petunjuk akurat untuk menduga sate ayam itu beracun atau tidak. “Pasalnya, ayam yang mati tersebut merupakan ayam liar. Bisa saja ayam itu sudah makan di mana, terus makan itu (sisa sate). Indikasinya kan sangat banyak. Namanya ayam liar itu makannya apa saja,” terangnya.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi lebih lanjut, mengingat ayam liar memiliki pola makan yang beragam dan bisa mati akibat mengonsumsi berbagai jenis makanan di luar lingkungan rumah korban. Polres Boyolali berkomitmen untuk terus mengikuti prosedur dan Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku, serta menunggu hasil resmi dari Dokpol Polda Jateng untuk memastikan penyebab utama kematian almarhumah.
AKBP Indra menambahkan bahwa almarhumah ditemukan meninggal di kediamannya pada 19 Mei 2026. Karena tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan seperti pencurian, keluarga memutuskan untuk segera memakamkan jenazah sesuai dengan kaidah agama. “Satu minggu setelah pemakaman, tepatnya 25 Mei, pihak keluarga terutama anak pelapor merasa ada kejanggalan terkait kematian ibunya. Pihak keluarga memutuskan untuk mencari tahu penyebab pasti kematian almarhumah dan secara resmi membuat laporan ke Polres Boyolali pada tanggal tersebut,” pungkasnya.



















