Tragedi di Surabaya: ART Diduga Bunuh Bayi Baru Lahir Akibat Ketakutan
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di kawasan Pesapen, Surabaya, di mana seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial K dilaporkan telah membunuh bayi yang baru saja dilahirkannya. Tindakan mengerikan ini diduga didorong oleh rasa takut pelaku akan ketahuan hamil dan dipecat oleh majikannya.
Menurut Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Rina Shanty, pelaku diduga dengan sengaja mengakhiri nyawa buah hatinya. “Meninggal dunia diduga karena henti napas paksa pada mulut bayi,” ujar Rina pada Sabtu, 3 Januari 2025, menjelaskan modus operandi yang diduga digunakan.
Peristiwa ini terungkap berkat kecurigaan majikan K. Pemilik rumah tempat K bekerja merasa janggal dengan sebuah kotak styrofoam yang hendak dibuang oleh asisten rumah tangganya. Majikan kemudian memerintahkan K untuk membuka kotak tersebut. “Sang majikan lalu mendapati kalau ada mayat bayi laki-laki di dalamnya,” ungkap Rina.
Penemuan jenazah bayi yang tak bernyawa ini segera dilaporkan oleh pemilik rumah kepada pihak Polrestabes Surabaya. Tim kepolisian bergerak cepat, mengamankan pelaku dari lokasi kejadian dan menetapkan K sebagai tersangka dalam kasus ini.
Motif di Balik Tindakan Keji
Hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengindikasikan motif utama pelaku adalah rasa takut. “Dia menghabisi nyawa bayi yang baru dilahirkannya karena takut ketahuan hamil dan dipecat oleh majikan,” jelas Rina dalam keterangan tertulisnya. Ketakutan akan hilangnya pekerjaan dan kemungkinan menghadapi konsekuensi sosial menjadi pemicu tindakan tragis ini.
Proses Investigasi dan Hasil Autopsi
Tim identifikasi dari Polrestabes Surabaya segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan. Sementara itu, jenazah bayi malang tersebut segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya untuk menjalani proses autopsi guna memastikan penyebab kematiannya secara medis.
Hasil autopsi yang dilakukan oleh tim medis memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kekejaman yang dialami oleh bayi tersebut. Ditemukan adanya luka memar pada beberapa bagian tubuh bayi, termasuk:
- Ujung lidah
- Langit rongga mulut
- Leher sisi depan
Lebih lanjut, hasil autopsi juga mengungkapkan adanya tanda-tanda kekerasan yang lebih serius. “Selain itu, ada alur jerat pada leher depan hingga belakang, dan resapan darah pada otot leher yang diakibatkan benda tumpul,” papar Rina, menegaskan bahwa bayi tersebut menjadi korban penganiayaan yang disengaja. Luka-luka ini sangat mengindikasikan adanya upaya penekanan pada saluran pernapasan dan leher bayi.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan sosial dan psikologis bagi para pekerja rumah tangga, terutama mereka yang mungkin menghadapi situasi rentan. Peristiwa ini juga menyoroti kompleksitas masalah kehamilan di luar nikah dan stigma sosial yang terkadang masih melekat, yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan ekstrem karena keputusasaan. Pihak berwajib terus mendalami kasus ini untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi.
















