Tradisi Unik Salat Id: Membawa Tikar Sendiri di Kolaka Timur
KOLAKA TIMUR, SULAWESI TENGGARA – Menjelang pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah atau Id 2026 pada Sabtu, 21 Maret 2026, warga Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, menunjukkan sebuah tradisi unik yang telah mengakar kuat. Alih-alih mengandalkan fasilitas masjid, jamaah membawa tikar sendiri dari rumah untuk mengamankan saf salat mereka. Fenomena ini menjadi pemandangan yang lazim di berbagai masjid di wilayah tersebut, termasuk Masjid Nurul Yaqin di Kelurahan Atula.
Tradisi ini bukan sekadar soal kenyamanan pribadi, melainkan sebuah strategi kolektif untuk mendapatkan tempat salat yang layak di tengah membludaknya jamaah pada momen hari raya. Kapasitas Masjid Nurul Yaqin, seperti banyak masjid lainnya, seringkali tidak mampu menampung seluruh umat yang hadir, terutama warga yang datang dari berbagai penjuru.
Masjid Nurul Yaqin, yang memiliki ciri khas arsitektur berwarna putih dan hijau, umumnya menyediakan ruang salat di bagian dalam masjid khusus untuk jamaah laki-laki. Sementara itu, jamaah perempuan melaksanakan ibadah di area luar masjid yang telah disiapkan oleh panitia, seringkali dengan pemasangan tenda. Kondisi ini mengharuskan jamaah perempuan untuk membawa alas salat mereka sendiri, karena panitia tidak menyediakan tikar secara khusus. Meskipun demikian, tenda biru yang terpasang memberikan perlindungan dari teriknya matahari, terutama bagi mereka yang tiba lebih awal.
Setibanya di lokasi salat, jamaah terlihat langsung menggelar tikar yang mereka bawa. Aktivitas ini berfungsi ganda: sebagai penanda tempat dan upaya mengamankan saf salat. Kebiasaan ini telah berlangsung secara turun-temurun, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual Salat Id di masjid tersebut.
Kebersamaan di Atas Tikar: Simbol Solidaritas Warga
Lebih dari sekadar urusan logistik, fenomena membawa tikar sendiri ini juga menjadi cerminan kuatnya rasa kebersamaan dan solidaritas antarwarga. Di tengah hiruk pikuk pencarian tempat, tidak jarang terlihat warga yang dengan sukarela berbagi ruang di atas tikar mereka. Mereka mempersilakan jamaah lain, bahkan yang tidak saling mengenal, untuk bergabung, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
Indri, salah seorang warga Kelurahan Atula, menjelaskan bahwa membawa tikar dari rumah sudah menjadi kebiasaan yang sangat lumrah baginya dan seluruh warga di daerahnya setiap kali Salat Id. “Keterbatasan kapasitas Masjid Nurul Yaqin memang membuat kami harus berinisiatif sendiri agar tetap bisa beribadah dengan nyaman,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa inisiatif ini juga sejalan dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan masjid.
Solusi Ramah Lingkungan dan Efisien
Kebiasaan membawa tikar dari rumah tidak hanya mengatasi masalah ketersediaan tempat, tetapi juga menjadi solusi cerdas untuk mengurangi penggunaan alas salat sekali pakai seperti koran bekas atau kardus. Dengan membawa tikar sendiri, pengurus masjid maupun jamaah tidak perlu lagi repot membersihkan sisa-sisa koran atau kardus yang dibuang setelah salat. Halaman masjid pun tetap terjaga kebersihannya.
“Kalau bawa tikar sendiri itu lebih rapi juga, tidak banyak sampah kardus yang dibuang setelah salat,” jelas Indri, menyoroti aspek kepraktisan dan kebersihan dari tradisi ini. Kebiasaan ini secara tidak langsung mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi limbah.
Kelurahan Atula sendiri berjarak sekitar 123 kilometer dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Perjalanan menuju lokasi ini dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan sepeda motor atau mobil, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan. Meskipun jaraknya cukup jauh, antusiasme warga untuk melaksanakan Salat Id dengan khidmat dan nyaman, serta menjaga tradisi yang telah ada, tetap tinggi. Tradisi membawa tikar ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dan menciptakan solusi kreatif demi menjalankan ibadah, sekaligus mempererat tali silaturahmi.




