Tragedi Maut di Minahasa Selatan: Aksi Saling Kejar Sopir Berujung Maut
Perjalanan yang seharusnya aman dan nyaman berubah menjadi mimpi buruk di jalur Trans Sulawesi, Sulawesi Utara. Insiden tragis di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, telah merenggut nyawa dua kakak beradik asal Gorontalo. Penyebab utama kecelakaan yang mengerikan ini terungkap bukan karena faktor teknis kendaraan atau kondisi jalan semata, melainkan dipicu oleh perilaku emosional oknum sopir bus penumpang yang terlibat dalam aksi “baku panas” atau saling kejar dengan kendaraan dari perusahaan otobus lain.
Kecelakaan ini menjadi saksi bisu bagaimana emosi yang tidak terkendali di balik kemudi dapat berujung pada konsekuensi fatal. Berdasarkan kesaksian para penumpang yang selamat, ketegangan di dalam kendaraan mulai meningkat ketika sopir terlibat dalam persaingan tidak sehat dengan kendaraan dari PO yang berbeda. Situasi yang awalnya kondusif perlahan berubah menjadi mencekam seiring dengan meningkatnya intensitas kejar-mengejar di antara para sopir.
Salah satu saksi mata, yang merupakan keluarga korban bernama Reza Mustaki (32), menceritakan kronologi kejadian yang dihimpun dari saksi kunci di lokasi. Menurutnya, seorang penumpang yang duduk di kursi depan telah menyadari potensi bahaya yang mengintai. Penumpang tersebut sempat meminta sopir untuk mengurangi kecepatan dan mengingatkan bahwa ada penumpang lain yang sedang tertidur pulas di bagian belakang. Namun, peringatan tersebut tampaknya tidak diindahkan, sebab situasi di jalan sudah terlampau panas dengan persaingan antar sopir.
Detik-detik Hilang Kendali dan Manuver Maut
Ketegangan mencapai puncaknya ketika sopir berusaha melakukan manuver menyalip dari sisi kanan. Diduga, kendaraan di depannya sengaja menutup jalur dan tidak memberikan ruang gerak yang cukup. Dalam kondisi terjepit, dengan kecepatan yang terus meningkat, situasi semakin genting ketika sebuah sepeda motor muncul dari arah berlawanan.
Kepanikan melanda sopir. Dalam upaya putus asa untuk menghindari tabrakan frontal dengan sepeda motor, sopir membanting setir ke kanan secara ekstrem. Manuver mendadak dan berbahaya ini justru berakibat fatal. Kendaraan oleng, keluar dari jalur, terguling, dan akhirnya menghantam sebuah pohon serta bangunan rumah makan yang berada di pinggir jalan dengan kekuatan yang sangat dahsyat.
Benturan keras tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan parah pada kendaraan, tetapi juga merenggut nyawa dua kakak beradik yang menjadi penumpang. Selain korban meninggal dunia, beberapa penumpang lainnya, termasuk sopir yang bernama Ismail Zees, mengalami luka-luka serius dan harus segera mendapatkan perawatan medis.
Tanggung Jawab dan Bantahan Pihak PO Garuda
Menyikapi tragedi yang menimpa penumpang dari perusahaan otobusnya, pihak PO Garuda menunjukkan itikad baik dengan mengunjungi rumah duka di Gorontalo. Geovano, perwakilan dari PO Garuda, hadir langsung dalam prosesi takziah hingga pemakaman kedua korban sebagai bentuk empati dan tanggung jawab.
“Iya tadi malam (datang), tadi pagi juga saat penguburan,” ujar Geovano, mengonfirmasi kehadirannya.

Terkait isu yang sempat beredar mengenai adanya anggota keluarga korban yang mengamuk di kantor PO Garuda, Geovano memberikan bantahan yang tegas. Ia menegaskan bahwa situasi di kantor PO Garuda tetap kondusif dan tidak ada aksi anarkis maupun kericuhan yang terjadi dari pihak keluarga korban. “Namun hal itu tidak pernah terjadi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan pada Minggu siang, aktivitas di kantor PO Garuda yang berlokasi di Jalan Prof. John Ario Katili terpantau berjalan normal. Sejumlah pelanggan terlihat masih berdatangan untuk mengambil paket atau barang kiriman mereka, menandakan bahwa operasional perusahaan tetap berjalan seperti biasa di tengah duka yang menyelimuti.
Kecelakaan ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran dan kedewasaan dalam berkendara. Persaingan bisnis di sektor transportasi sebaiknya tidak mengorbankan keselamatan penumpang. Edukasi dan penegakan aturan yang lebih ketat terhadap perilaku sopir yang membahayakan perlu terus ditingkatkan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama di setiap perjalanan.












