Gempa 7,6 SR di Indonesia: Dampak dan Solusi Tahan Gempa
Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter (SR) yang terjadi di wilayah timur Indonesia menimbulkan duka mendalam sekaligus memicu pertanyaan tentang keamanan bangunan saat menghadapi bencana alam. Gempa yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), dan Maluku Utara (Malut) terjadi pada hari Kamis, 2 April 2026, pukul 06.48 WITA atau 05.48 WIB.
Koordinat gempa berada di 1,25 Lintang Utara (LU) – 126,27 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 62 km. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kekuatan gempa awalnya diukur sebesar 7,3 SR, namun kemudian diperbarui menjadi 7,6 SR.
Potensi Tsunami dan Kerusakan Bangunan
Dalam keterangan resminya, BMKG menyebutkan bahwa potensi tsunami berpeluang terjadi di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Peringatan dini segera disampaikan kepada masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan pesisir, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjauhi pantai.
Sejumlah bangunan terpantau mengalami kerusakan. Salah satunya adalah Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sario di Kota Manado, Sulut. Mirisnya, runtuhan bangunan ini juga memakan korban jiwa.
Indonesia, yang berada di kawasan cincin api (ring of fire), memang harus selalu siaga menghadapi berbagai kemungkinan bencana termasuk gempa. Keberadaan fondasi tahan gempa sangat krusial untuk melindungi nyawa, meminimalisir kerusakan struktural bangunan, dan mencegah bangunan roboh saat terjadi guncangan gempa.
Peran Fondasi Tahan Gempa
“Pada dasarnya, gempa tidak membunuh, tapi reruntuhan bangunan yang sebenarnya bisa membunuh,” terang Direktur PT Cipta Anugerah Indotama (CAI), Hadi Wardoyo.
Maka, sangat penting memperhatikan konstruksi fondasi sebuah bangunan. Kuncinya adalah kekuatan dan fleksibilitas fondasi dalam menahan goncangan gempa. Fondasi yang kokoh dan fleksibel mampu menyalurkan energi gempa secara merata ke tanah seperti Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB).
PT Cipta Anugerah Indotama adalah perusahaan pemegang paten eksklusif fondasi Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB). “Fondasi KJRB yang merupakan penyempurnaan dari fondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) ini sangat tepat untuk digunakan di daerah rawan gempa seperti di Manado Sulut,” terang Hadi.
Sejarah dan Pengembangan Fondasi KSLL
Fondasi KSLL ditemukan tahun 1976 di Surabaya oleh Ir Ryantori dan Ir Sutjipto. Didesain untuk gedung bertingkat tanggung (2 hingga 8 lantai) duduk di atas tanah lunak. Fondasi ini sudah digunakan pada ratusan bangunan di seluruh wilayah Indonesia, yakni Gedung Perkantoran, Mall, Rumah Sakit, Kampus, Terminal Bandara, Pabrik dan Gudang, Container Yard, Konstruksi Jalan Raya, Emplasemen, Apron dan Taxiway.
Hadi menjelaskan, pada saat gempa berkekuatan besar, permukaan bumi akan bergolak seperti laut yang sedang terkena badai. Gedung yang mempergunakan KJRB akan berperilaku seperti kapal di tengah badai.
“Pada 26 Desember 2004 silam, fondasi KSLL telah teruji gempa besar dan tsunami 9,3 SR di Aceh, 32 gedung masih berdiri kokoh dan gempa 8,7 SR di Padang tahun 2009, 68 gedung masih bisa dioperasikan dengan baik,” kata Hadi.
Fondasi ini juga sudah digunakan di Manado pada tahun 2010 pada Gedung RSUP Kandou dan Gedung CTI Centre (Coral Triangle Initiative) Manado Sulut.
Perkembangan Teknologi Fondasi
Tahun 2004, KSLL disempurnakan, ditemukan novelty baru dengan nama Perbaikan Konstruksi Sarang Laba-Laba (PKSLL) dan tahun 2016 disempurnakan lagi ditemukan novelty baru dengan nama Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB). PT CAI secara khusus ditunjuk oleh penemu untuk mengembangkan, memasyarakatkan, menggunakan dan melaksanakan fondasi KJRB.
Pada 6 November 2020, Ir Ryantori selalu penemu meninggal dunia. PT CAI menjadi penerus pengembangan fondasi ini. Hadi selanjutnya menggandeng sejumlah tokoh dan akademisi.
“Saya sampaikan bahwa teknologi ini harus terus hidup. Karena bagaimanapun ini adalah ilmu pengetahuan. Meskipun penemu fondasi KJRB sudah meninggal, tapi teknologinya tidak boleh mati,” tegasnya.
Teknologi ini telah menyelamatkan ribuan nyawa pada saat gempa dan menyelamatkan aset negara senilai triliunan rupiah di Aceh dan Padang.















