Potensi Penyesuaian Harga Tiket Pesawat Menyusul Penurunan Harga Avtur
PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penurunan harga avtur domestik hingga 10% di seluruh bandar udara di Indonesia, efektif mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini disambut baik oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), yang mendesak adanya penyesuaian harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik.
Harapan Konsumen: Tiket Pesawat yang Lebih Terjangkau
Ketua Pengurus Harian YLKI, Niti Emiliana, menekankan bahwa penurunan harga avtur berpotensi mengurangi biaya operasional maskapai penerbangan. YLKI berharap imbas positif ini akan dirasakan oleh konsumen melalui penurunan harga tiket pesawat yang saat ini cenderung tinggi.
“Jangan sampai harga avtur turun namun tidak dibarengi dengan penurunan harga tiket. Konsumen berhak menikmati tarif yang lebih terjangkau,” ujar Niti, menegaskan pentingnya pengawasan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terhadap implementasi kebijakan ini.
Senada dengan YLKI, Ketua FKBI, Tulus Abadi, juga mendorong penyesuaian harga tiket pesawat. Menurutnya, penurunan harga avtur domestik merupakan kabar baik, mengingat lonjakan harga avtur sebelumnya menjadi salah satu pemicu kenaikan tarif pesawat.
Tinjauan Ulang Kebijakan Fuel Surcharge
FKBI secara spesifik meminta pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan fuel surcharge pada tiket pesawat. Kenaikan fuel surcharge yang dilaporkan mencapai 50% dianggap memberatkan konsumen.
“Kami minta agar pemerintah atau Kemenhub menurunkan persentase kenaikan fuel surcharge, agar harga tiket pesawat domestik lebih terjangkau,” tegas Tulus.
Tulus berpendapat bahwa penurunan harga tiket pesawat memiliki potensi besar untuk meningkatkan jumlah penumpang yang sebelumnya mengalami penurunan sekitar 20%. Ia menduga penurunan penumpang ini merupakan dampak langsung dari melambungnya harga tiket pesawat domestik.
Mekanisme Penyesuaian Harga Avtur
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga avtur domestik merupakan bagian dari mekanisme yang transparan dan mengikuti dinamika pasar energi global. Sepanjang Mei 2026, tren penurunan harga energi global tercermin pada harga avtur untuk periode Juni 2026.
Secara rata-rata nasional, harga avtur pada Juni 2026 mengalami penurunan hingga 10% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Beberapa contoh penyesuaian harga di bandar udara utama meliputi:
- Aviation Fuel Terminal (AFT) Soekarno-Hatta (CGK): Harga turun dari Rp 24.580 per liter menjadi Rp 22.190 per liter.
- AFT Ngurah Rai (DPS): Harga turun dari Rp 26.190 per liter menjadi Rp 23.480 per liter.
- AFT Kualanamu (KNO): Harga turun dari Rp 25.720 per liter menjadi Rp 23.090 per liter.
Besaran penurunan harga di setiap bandar udara dapat bervariasi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh formula yang berlaku serta pertimbangan faktor distribusi dan logistik di masing-masing lokasi.
Dasar Perhitungan dan Referensi Harga
Penyesuaian harga avtur dilakukan secara berkala setiap bulan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Perhitungan didasarkan pada rata-rata harga publikasi internasional dalam satu periode. Referensi utama yang digunakan adalah Mean of Platts Singapore (MOPS) Kerosene/Jet sebagai benchmark kawasan.
“Penyesuaian harga avtur ini dilakukan dengan mengacu pada formula yang ditetapkan regulator, dalam hal ini Kementerian ESDM, serta mempertimbangkan perkembangan harga energi global. Ketika harga energi global bergerak turun, maka penyesuaian tersebut akan terefleksikan pada harga avtur sesuai mekanisme yang berlaku,” jelas Roberth dalam rilisnya.
Dukungan Terhadap Industri Penerbangan dan Ekonomi Nasional
Roberth menambahkan, kebijakan ini merupakan upaya Pertamina Patra Niaga untuk menjaga keseimbangan antara aspek komersial, keberlanjutan pasokan, dan keandalan layanan bagi seluruh pengguna jasa aviasi. Penyesuaian harga ini diharapkan memberikan dampak positif bagi aktivitas penerbangan domestik.
Lebih lanjut, kebijakan ini diharapkan dapat:
- Mendukung pengembangan pariwisata nasional.
- Meningkatkan konektivitas antarwilayah.
- Mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Dengan harga yang lebih kompetitif, diharapkan industri penerbangan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Roberth.
Strategi Penetapan Harga Avtur Internasional
Untuk segmen penerbangan internasional, harga avtur mengikuti perkembangan pasar dan tingkat kompetisi di kawasan regional. Tujuannya adalah untuk menjaga daya saing nasional, sembari tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan penerbangan domestik dalam pengelolaan pasokan energi penerbangan.
Jaminan Pasokan Avtur Nasional
Saat ini, Pertamina Patra Niaga melayani kebutuhan avtur nasional melalui 72 Aviation Fuel Terminal (AFT) yang tersebar di seluruh Indonesia. Jaringan ini mencakup bandar udara utama yang strategis hingga bandar udara perintis.
“Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Avtur tetap dalam kondisi aman dan andal di seluruh jaringan Aviation Fuel Terminal guna mendukung kelancaran operasional penerbangan domestik maupun internasional,” tutup Roberth.










