Teror Pocong Bersenjata di Bangkalan Terungkap: Motif Konten dan Permohonan Maaf Pelaku
Keresahan masyarakat di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, yang disebabkan oleh beredarnya video teror pocong bersenjata tajam, akhirnya menemui titik terang. Aksi yang terekam kamera CCTV ini, memperlihatkan sosok misterius berpakaian pocong mengetuk pintu dan jendela rumah warga sambil membawa celurit, sempat memicu kepanikan dan simpang siur informasi mengenai lokasi kejadian.
Awalnya, narasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa aksi mengerikan tersebut terjadi di beberapa desa di Kecamatan Kamal, Bangkalan. Ada yang menyebutkan kejadian itu berlokasi di Desa Kebun, sementara yang lain menunjuk Desa Binajuh. Namun, semua rumor tersebut telah dibantah tegas oleh pihak kecamatan.
Kronologi dan Kebingungan Awal
Ketika video-video teror pocong pertama kali muncul, kebingungan melanda masyarakat. Informasi yang simpang siur mengenai lokasi kejadian membuat warga resah. Narasi awal video tersebut seolah mengarahkan penonton bahwa kejadian terjadi di salah satu rumah warga di Desa Kebun, Kecamatan Kamal. Tak lama kemudian, muncul pula klaim dari sebagian warga yang menyebutkan bahwa video pocong bersenjata celurit itu berlokasi di Desa Binajuh, yang juga masih berada di Kecamatan Kamal.
Perbedaan informasi ini semakin memperkeruh suasana dan menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat. Banyak yang mulai merasa tidak aman, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah yang dikabarkan menjadi lokasi kejadian.
Bantahan Tegas dari Pihak Kecamatan
Menanggapi keresahan yang meluas, Camat Kamal, Ainul Yaqin, memberikan bantahan tegas. Pada Senin, 1 Juni 2026, usai mengikuti gelaran Upacara Hari Kelahiran Pancasila di Kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan, beliau menyatakan dengan gamblang bahwa kejadian teror pocong di wilayahnya adalah hoaks.
“Kejadian (teror pocong) di Kamal itu tidak benar, hoaks semua itu, tidak ada yang namanya pocong,” tegas Camat Yaqin.
Beliau menjelaskan bahwa pihak kecamatan, bersama dengan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kamal, telah melakukan penelusuran mendalam ke sejumlah desa di wilayah mereka setelah beredarnya video-video tersebut. Namun, hasil penelusuran tersebut nihil. Tidak ada satupun laporan atau bukti yang mengkonfirmasi bahwa peristiwa teror pocong bersenjata itu benar-benar terjadi di Kecamatan Kamal.
“Hoaks semua karena setiap malam kami bersama muspika selalu koordinasi. Masyarakat jangan percaya karena itu ingin mengadu domba, biar masyarakat takut untuk keluar rumah,” pungkas Camat Yaqin, menekankan bahwa penyebaran informasi palsu ini bertujuan untuk menakut-nakuti masyarakat dan menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan.
Pelaku Muncul dan Ungkap Motif: Demi Konten
Di tengah kebingungan dan keresahan yang masih menyelimuti masyarakat, sebuah titik terang muncul. Pelaku di balik aksi teror pocong tersebut akhirnya teridentifikasi dan muncul ke publik. Sosok berinisial SF, seorang pemuda yang diketahui merupakan warga Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, Bangkalan, akhirnya angkat bicara.
SF menyampaikan permohonan maaf terbuka atas aksinya yang telah meresahkan banyak pihak. Melalui sebuah video yang beredar, ia mengakui bahwa seluruh aksi teror pocong tersebut dilakukan murni demi pembuatan konten yang viral.
Berikut adalah kutipan pernyataan permohonan maaf dari SF:
“Sehubungan dengan adanya konten pocong yang viral di Desa Mrandung, Kecamatan Klampis, kami selaku pemeran utama teror pocong memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Kepala Desa Mrandung, warga Mrandung, serta masyarakat Bangkalan. Kami tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.”
Video permohonan maaf yang berdurasi sekitar 43 detik ini menunjukkan SF tidak sendirian. Ia didampingi oleh beberapa tokoh masyarakat setempat dan juga personel dari Polsek Klampis. Kehadiran mereka menandakan bahwa kasus ini telah ditangani oleh pihak berwenang dan pelaku telah memberikan pengakuan serta penyesalan atas perbuatannya.
SF juga menambahkan bahwa mereka tidak akan lagi membuat konten yang dianggap tidak bermutu dan meresahkan. Pernyataan tersebut dibuat tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, yang diperkuat dengan adanya surat pernyataan yang ditandatanganinya.
Selain SF yang berperan sebagai pemeran utama pocong, diduga masih ada dua pemuda lain yang terlibat dalam pembuatan konten teror ini. Inisial KD disebut sebagai pihak yang mengatur rekaman CCTV, sementara ZH diduga sebagai otak atau perencana di balik aksi tersebut.
Terungkapnya motif pembuatan konten ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan etika dalam bermedia sosial. Meskipun tujuan awalnya adalah untuk mencari popularitas atau sekadar iseng, dampak negatif yang ditimbulkan dapat sangat luas, mulai dari kepanikan massal hingga potensi perpecahan antarwarga akibat informasi palsu. Pihak kepolisian diharapkan dapat terus menindaklanjuti kasus ini untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.












