Kontroversi Kolaborasi Anime Seret Detective Conan ke Pusaran Boikot di China
Ketegangan hubungan diplomatik antara China dan Jepang kembali merambah ke ranah industri hiburan. Kali ini, sejumlah acara hiburan di China dilaporkan telah memberlakukan larangan terhadap penggunaan kostum cosplay dan penjualan merchandise bertema Detective Conan. Keputusan ini diambil setelah anime populer tersebut kedapatan melakukan kolaborasi dengan My Hero Academia. Kolaborasi ini menuai kritik tajam karena My Hero Academia sebelumnya pernah dikecam karena dianggap menyinggung sejarah kelam Jepang pada masa perang.
Boikot ini dilaporkan telah diberlakukan di beberapa acara yang diselenggarakan di kota-kota besar seperti Beijing, Chongqing, dan Lanzhou. Keputusan tersebut muncul setelah banyak pihak mengkritik dan menuduh kedua karya anime tersebut telah melakukan penghinaan terhadap rakyat China.
Akar Kontroversi yang Memicu Boikot
Kolaborasi antara Detective Conan dan My Hero Academia awalnya diciptakan untuk merayakan momen spesial kedua seri anime tersebut. Detective Conan merayakan ulang tahunnya yang ke-30, sementara My Hero Academia merayakan dekade pertamanya, yang keduanya jatuh pada tahun ini. Para kreator dari kedua manga bahkan telah merilis ilustrasi khusus untuk proyek kemitraan ini. Namun, kontroversi yang sempat menjerat My Hero Academia di masa lalu kini turut menyeret Detective Conan ke dalam pusaran masalah yang sama.
Kecaman besar terhadap My Hero Academia pertama kali muncul pada tahun 2020. Anime ini dihapus dari berbagai platform video di China setelah terungkapnya makna di balik nama salah satu tokoh antagonisnya, Maruta Shiga. Nama “Maruta Shiga” dinilai merujuk pada Unit 731, sebuah unit operasi rahasia Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang terkenal pada era perang. Unit ini diketahui telah melakukan eksperimen manusia yang keji untuk penelitian perang biologis dan kimia di wilayah timur laut China.
Istilah “Maruta” sendiri memiliki arti “kayu gelondongan” dan merupakan nama sandi yang digunakan untuk korban eksperimen manusia di unit tersebut. Sementara itu, nama “Shiga” diambil dari nama seorang ahli bakteriologi Jepang yang terkenal karena penemuan bakteri penyebab penyakit pada tahun 1897. Gabungan nama ini dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap sejarah kekejaman Jepang di China.
Larangan Cosplay Bertema Jepang yang Meluas
Akibat kontroversi ini, panitia penyelenggara acara di Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu di barat laut China, secara tegas menyatakan bahwa mereka yang mengenakan kostum seperti kimono, alas kaki tradisional Jepang (geta/zori), dan pakaian yang diasosiasikan dengan militerisme Jepang akan dilarang masuk. Alasan di balik larangan ini adalah karena unsur-unsur tersebut dianggap dapat menyinggung perasaan masyarakat China saat ini, mengingat luka sejarah yang belum sepenuhnya pulih.
Lebih lanjut, panitia penyelenggara pameran di Beijing juga menjelaskan bahwa larangan terhadap cosplay dan penjualan merchandise dari kedua anime tersebut semata-mata bertujuan untuk menciptakan suasana acara yang baik dan nyaman bagi seluruh pengunjung. Mereka menekankan pentingnya menghormati sensitivitas sejarah dan budaya dalam penyelenggaraan acara publik.
Sejarah Larangan Terhadap Anime Jepang di China
Perlu dicatat bahwa boikot terhadap anime dan sektor hiburan Jepang di China bukanlah fenomena baru. Sejak memanasnya hubungan diplomatik antara kedua negara, larangan serupa telah tercatat beberapa kali terjadi di berbagai kota besar di China.
Sebagai contoh, pada bulan Desember tahun lalu, sebuah pameran komik terbesar di China juga pernah mengambil langkah serupa dengan melarang segala sesuatu yang berbau Jepang. Kemudian, pada bulan Januari, beberapa kota dilaporkan menunda penyelenggaraan festival manga dan anime di tengah isu-isu yang semakin memanas antara kedua negara.
Baru-baru ini, nasib serupa juga dialami oleh Pokemon, salah satu game Jepang yang sangat populer. Penjualan merchandise Pokemon turut dilarang hadir dalam pameran anime mendatang di Chongqing. Larangan ini muncul sebagai respons atas kemarahan publik China yang meluas di media sosial. Kemarahan tersebut dipicu oleh rencana penyelenggaraan acara permainan kartu Pokemon di Kuil Yasukuni, Tokyo. Kuil ini memiliki konotasi yang sangat sensitif dan kontroversial bagi masyarakat China karena keterkaitannya yang erat dengan agresi militer Jepang selama Perang Dunia Kedua.





















