Wacana Perubahan Nama Kota Sungai Penuh Menjadi Kota Kerinci: Momentum Penguatan Identitas dan Strategi Pembangunan Jangka Panjang
Diskusi publik mengenai kemungkinan perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci kembali mencuat, memicu perdebatan yang mendalam di masyarakat. Isu ini tidak hanya berhenti pada pergantian nomenklatur administratif semata, melainkan merambah ke dimensi yang lebih fundamental, yaitu soal identitas wilayah, arah pembangunan jangka panjang, serta posisi strategis kawasan Kerinci dalam lanskap ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata di tingkat nasional.
Di era persaingan pembangunan daerah yang kian sengit, nama sebuah wilayah memegang peranan krusial. Ia berfungsi sebagai representasi identitas kolektif masyarakat, sekaligus menjadi gerbang awal bagi persepsi publik, calon investor, hingga para wisatawan. Oleh karena itu, gagasan untuk mengubah nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci dinilai perlu dikaji secara cermat dan komprehensif, bukan sekadar direspons secara emosional atau sporadis.
Penting untuk digarisbawahi sejak awal bahwa wacana ini tidak bertujuan untuk menghapus identitas Kota Sungai Penuh. Sungai Penuh akan tetap dipertahankan sebagai ibu kota, pusat administrasi pemerintahan, serta menjadi poros utama aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Perubahan nama justru diarahkan untuk memperkuat posisi Sungai Penuh dalam kerangka identitas kawasan Kerinci yang lebih luas dan terintegrasi.
Perspektif Tokoh Masyarakat dan Akademisi
Dr. Zulherman, S.T., M.Sc., seorang tokoh masyarakat Kerinci sekaligus Wakil Rektor Universitas Bung Hatta, memandang perubahan nama wilayah sebagai sebuah strategi identitas jangka panjang. Menurutnya, langkah ini bukanlah bentuk penghapusan sejarah, melainkan penegasan posisi wilayah dalam menghadapi tantangan pembangunan modern.
“Perubahan nama wilayah harus dipahami sebagai strategi identitas jangka panjang. Perubahan tersebut bukan penghapusan sejarah, melainkan penegasan posisi wilayah dalam konteks pembangunan modern,” ujar Dr. Zulherman.
Ia menekankan bahwa nama “Kerinci” memiliki resonansi historis, kultural, dan ekonomi yang telah dikenal luas di kancah nasional. Selama ini, Kerinci identik dengan kekayaan alamnya yang melimpah, keunikan budayanya, serta potensi pariwisata yang sangat kuat. Dengan mengadopsi identitas Kerinci sebagai nama kota, Dr. Zulherman berpendapat bahwa narasi pembangunan kawasan akan menjadi lebih kohesif dan mudah diterima oleh khalayak luas.
“Ketika pusat pemerintahan dan aktivitas kawasan menggunakan identitas Kerinci, maka nilai ekonomi, sosial, dan pariwisata akan bergerak dalam satu narasi yang utuh dan lebih mudah dipahami publik,” tambahnya.
Dampak Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Dari perspektif ekonomi, penguatan identitas Kerinci dipandang mampu mendongkrak daya saing wilayah. Nama yang sudah memiliki pengenalan kuat di tingkat nasional, bahkan internasional, akan memfasilitasi promosi produk-produk lokal, memperkokoh citra (branding) daerah, serta meningkatkan kepercayaan para investor. Dalam skenario ini, Sungai Penuh, sebagai ibu kota, akan berperan sebagai etalase utama yang menampilkan berbagai aktivitas ekonomi dan layanan unggulan di kawasan Kerinci.
Secara sosial dan budaya, masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci sejatinya hidup dalam satu ekosistem yang saling terkait erat dengan akar sejarah yang kuat. Penyesuaian identitas wilayah ini berpotensi untuk mempererat rasa memiliki dan kohesi sosial di antara masyarakat, asalkan prosesnya dilakukan secara inklusif dan tetap menempatkan Sungai Penuh sebagai pusat pemerintahan dan denyut kehidupan masyarakat.
Potensi Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata juga menjadi salah satu pertimbangan vital dalam wacana perubahan nama ini. Konsep Kota Kerinci dengan Sungai Penuh sebagai ibu kota diprediksi akan memperjelas posisi kawasan sebagai gerbang utama menuju destinasi wisata Kerinci. Kejelasan identitas ini diyakini akan sangat membantu dalam merumuskan strategi promosi yang lebih efektif, meningkatkan daya saing pariwisata, serta menarik minat lebih banyak wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pentingnya Pendekatan Partisipatif
Meskipun demikian, para pemangku kepentingan secara tegas menekankan bahwa wacana perubahan nama ini harus melalui proses pembahasan yang transparan, objektif, dan partisipatif. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, para akademisi, tokoh adat, serta pemerintah daerah menjadi kunci utama agar kebijakan yang diambil benar-benar mewakili kepentingan bersama dan terhindar dari potensi kesalahpahaman di kalangan publik.
Pada akhirnya, perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci harus dipandang sebagai sebuah langkah strategis jangka panjang, bukan sekadar formalitas administratif. Dengan Sungai Penuh yang tetap kokoh sebagai ibu kota, perubahan ini diharapkan dapat memperkuat integrasi wilayah, meningkatkan daya saing daerah secara keseluruhan, serta menghadirkan pembangunan yang lebih berakar kuat pada identitas lokal masyarakat Kerinci.
















