Emas Meraih Puncak Tiga Pekan di Tengah Ketidakpastian Global dan Penguatan Dolar AS
Harga emas kembali menunjukkan tren penguatan yang signifikan, bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu pada Senin, 23 Februari 2026. Penguatan ini terjadi di tengah kombinasi faktor global yang kompleks, termasuk pelemahan dolar Amerika Serikat, keputusan penting dari Mahkamah Agung AS, dan ketegangan geopolitik yang masih membayangi pasar.
Pergerakan Harga Emas yang Menggairahkan
Harga emas spot tercatat melonjak 1,2% menjadi US$ 5.163,60 per ounce pada pukul 02.10 Waktu Setempat. Angka ini tidak hanya menembus rekor tertinggi dalam tiga minggu terakhir, tetapi juga mengindikasikan minat investor yang kembali tumbuh terhadap aset safe haven ini. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April menunjukkan lonjakan yang lebih agresif, naik 2% ke angka US$ 5.184,90 per ounce.
Para analis menilai bahwa pelemahan dolar AS menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga emas. Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang membatalkan sebagian besar tarif yang sebelumnya diterapkan oleh Presiden Donald Trump, dipandang sebagai langkah yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi global. Namun, di sisi lain, pasar masih dihantui oleh risiko konflik yang meningkat di Timur Tengah, yang menyebabkan pergerakan pasar secara keseluruhan cenderung terbatas namun tetap volatil.
Situasi pasar semakin diperumit oleh penutupan pasar Tiongkok daratan untuk perayaan Tahun Baru Imlek. Minimnya volume perdagangan dari salah satu pasar ekonomi terbesar di dunia ini berpotensi meningkatkan volatilitas pada aset-aset yang diperdagangkan secara global. Perdagangan di Tiongkok dijadwalkan akan kembali dibuka pada hari Selasa.
Dampak Keputusan Mahkamah Agung AS dan Ketegangan Geopolitik
Keputusan Mahkamah Agung AS ini memberikan batasan yang lebih jelas terhadap kemampuan Presiden Trump untuk memberlakukan tarif secara mendadak. Meskipun demikian, ketidakpastian bagi para mitra dagang dan perusahaan yang beroperasi secara internasional masih tetap ada. Juru bicara Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada negara mitra dagang yang secara resmi mengumumkan rencana penarikan diri sebagai respons terhadap putusan tersebut.
Secara domestik, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan pertumbuhan yang lebih besar dari perkiraan pada kuartal keempat. Penurunan terbesar dalam pengeluaran pemerintah sejak tahun 1972, yang sebagian besar disebabkan oleh penutupan pemerintahan sebelumnya, turut berkontribusi pada angka ini. Meskipun demikian, sektor pengeluaran konsumen dan bisnis dilaporkan tetap stabil, menunjukkan adanya ketahanan dalam fondasi ekonomi AS. Saat ini, pasar keuangan secara luas memperkirakan bahwa Federal Reserve akan melakukan penurunan suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, sepanjang tahun ini.
Di tengah dinamika ekonomi dan politik tersebut, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama. Iran dikabarkan telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan konsesi terkait program nuklirnya dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat. Tawaran ini datang sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium, sebuah langkah yang diharapkan dapat mencegah potensi serangan dari Amerika Serikat.
Komoditas Logam Lainnya Ikut Menguat
Penguatan tidak hanya terbatas pada emas. Komoditas logam mulia lainnya juga menunjukkan tren kenaikan yang positif. Harga perak spot melonjak 3,1% menjadi US$ 87,10 per ounce. Platinum spot juga mengalami peningkatan 1,2% menjadi US$ 2.182,60 per ounce. Palladium, meskipun peningkatannya tidak sebesar komoditas lain, tetap mencatat kenaikan 0,5% menjadi US$ 1.753,75 per ounce.
Agenda Ekonomi yang Dinanti
Beberapa data ekonomi penting dijadwalkan akan dirilis pada hari ini, yang berpotensi memberikan pandangan lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi global. Di antaranya adalah Indeks Ifo Jerman yang mencakup iklim bisnis, kondisi saat ini, dan ekspektasi baru untuk bulan Februari. Selain itu, data pesanan pabrik AS untuk bulan Desember juga akan dirilis, memberikan gambaran mengenai aktivitas industri di Amerika Serikat.


