Ketegangan Meningkat: Pakistan Kembali Lancarkan Serangan ke Afghanistan
Pada Jumat malam, 13 Maret 2026, waktu setempat, Pakistan dilaporkan kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Afghanistan. Ibu kota Kabul serta beberapa provinsi yang berbatasan langsung dengan Pakistan, seperti Kandahar, Paktia, dan Paktika, menjadi sasaran serangan tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan yang kian memanas antara kedua negara tetangga dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut keterangan seorang petugas kepolisian bernama Khalil Zadran, serangan di Kabul mengakibatkan korban jiwa. Sebanyak empat orang dilaporkan tewas, sementara 15 lainnya mengalami luka-luka. Hingga berita ini ditulis, Zadran belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai jumlah korban di Provinsi Kandahar, Paktia, dan Paktika.
Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons terhadap keberadaan milisi Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang berada di wilayah-wilayah tersebut. Pakistan menganggap TTP sebagai kelompok teroris yang kerap melancarkan aksi teror di daerah perbatasan kedua negara.
Rangkaian Serangan Pakistan ke Afghanistan
Serangan terbaru ini bukanlah kali pertama Pakistan melancarkan aksi militer ke Afghanistan. Sebelumnya, pada tanggal 27 Februari 2026, Pakistan juga telah melancarkan serangan serupa.
Menyusul serangan pada akhir Februari tersebut, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara terbuka mendeklarasikan status “Perang terbuka” dengan Afghanistan. Asif menilai bahwa waktu tersebut adalah momen yang tepat untuk melancarkan serangan balasan. Pernyataan keras ini disampaikan melalui media sosial, mengindikasikan eskalasi konflik yang serius.
Target Serangan: Milisi TTP
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi bahwa serangan pada Februari lalu juga ditujukan kepada pasukan milisi TTP. Markas mereka dilaporkan berada di Kabul, Kandahar, dan Paktia, yang menjadi sasaran serangan Pakistan.
Tarar mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil menewaskan setidaknya 133 personel TTP, termasuk beberapa komandan lapangan yang diduga kuat berada di balik serangkaian serangan di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan. “Target pertahanan Taliban Afghanistan menjadi sasaran di Kabul, Provinsi Paktia, dan Kandahar,” jelas Tarar saat itu.

Konflik yang Semakin Memanas
Selama beberapa bulan terakhir di tahun 2026, konflik antara Pakistan dan Afghanistan telah menunjukkan peningkatan intensitas yang signifikan. Kedua negara saling melancarkan serangan di daerah perbatasan, yang berakibat pada jatuhnya banyak korban jiwa.
Pakistan mengklaim telah berupaya menempuh jalur diplomatik dan damai dengan Afghanistan demi menghentikan perang dan menstabilkan situasi di perbatasan. Namun, upaya tersebut diklaim tidak mendapatkan respons kooperatif dari Afghanistan, yang justru terus melancarkan serangan terhadap pasukan Pakistan. Hal ini membuat Pakistan merasa tidak memiliki pilihan selain melakukan serangan balasan.
Dampak Kemanusiaan
Dampak dari konflik ini terasa begitu berat bagi masyarakat sipil. Menurut data dari Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (UNAMA), sepanjang Februari hingga Maret 2026, telah tercatat 56 orang tewas akibat serangan Pakistan di Afghanistan.
Situasi kemanusiaan semakin memburuk dengan adanya gelombang pengungsian. Badan PBB untuk Pengungsi (UN Refugee) melaporkan bahwa sekitar 115.000 warga Afghanistan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan-serangan yang terjadi.

Akar Permasalahan
Konflik yang terus berlanjut antara Pakistan dan Afghanistan ini berakar dari beberapa faktor. Salah satu penyebab utamanya adalah sengketa wilayah yang belum terselesaikan. Selain itu, tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan memberikan dukungan kepada kelompok TTP dalam melancarkan aksi teror di wilayah Pakistan juga memperparah situasi. Ketidakpercayaan dan tudingan saling menyalahkan terus menjadi bumbu yang memperdalam jurang konflik antara kedua negara.
Situasi ini juga menarik perhatian internasional, mengingat potensi destabilisasi yang lebih luas di kawasan Asia Selatan. Upaya mediasi dari pihak ketiga, termasuk organisasi internasional, diharapkan dapat meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat menimbulkan kerugian lebih besar lagi.




















