Peran Jusuf Kalla dalam Karier Politik Joko Widodo
Pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, yang menyebut perannya dalam mengantarkan Joko Widodo menjadi Presiden RI, memicu respons dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Polemik ini muncul setelah Jusuf Kalla secara terbuka menyatakan bahwa keberhasilan Jokowi menapaki kursi kepresidenan tidak lepas dari jasanya sejak awal karier politik di tingkat nasional.
Menanggapi hal tersebut, politikus PDIP, Guntur Romli, memberikan pernyataan yang menyoroti dinamika hubungan politik antara Jokowi dan sejumlah tokoh yang dianggap berjasa dalam perjalanan kariernya. Ia menegaskan bahwa partainya sebenarnya sudah tidak ingin lagi membahas sosok Jokowi setelah keputusan pemecatan yang terjadi pada akhir 2024.
Di sisi lain, pernyataan tersebut juga mengangkat kembali istilah-istilah populer di ranah politik, termasuk “termul” yang disebut oleh Jusuf Kalla. Istilah ini merupakan akronim dari “Ternak Mulyono”, yang kerap digunakan untuk menyebut kelompok relawan pendukung Jokowi di berbagai momentum politik.
PDIP Tegaskan Sudah “Tutup Buku” dengan Jokowi
Dalam keterangannya, Guntur Romli menyatakan bahwa PDIP telah mengakhiri segala keterkaitan politik dengan Jokowi. Hal ini merujuk pada keputusan partai yang memecat Jokowi sebagai kader pada 16 Desember 2024, bersama dengan putranya, Gibran Rakabuming Raka, serta menantunya, Bobby Nasution. Ia menegaskan bahwa sejak keputusan tersebut, PDIP tidak lagi memiliki kepentingan untuk mengaitkan diri dengan Jokowi dalam berbagai isu politik.
“PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi,” ujar Guntur. Meski demikian, ia menilai bahwa pernyataan JK mengandung makna tersirat terkait hubungan personal dan politik antara JK dan Jokowi. Menurutnya, pernyataan tersebut bisa diartikan sebagai bentuk kekecewaan.
“Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya,” lanjutnya.
Daftar Tokoh yang Disebut Berjasa dalam Karier Jokowi
Guntur kemudian memaparkan sejumlah nama yang dianggap memiliki kontribusi besar dalam perjalanan politik Jokowi. Nama-nama tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang memiliki peran penting dalam mengusung Jokowi dalam berbagai kontestasi politik. Selain itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, juga disebut sebagai sosok yang turut berkontribusi.
Nama lain yang disebut antara lain Pramono Anung dan FX Hadi Rudyatmo, yang memiliki kedekatan dengan Jokowi sejak awal karier politik di Solo. Tidak hanya dari PDIP, Guntur juga menyebut tokoh di luar partai seperti Anies Baswedan dan Tom Lembong. Keduanya diketahui pernah terlibat dalam pemerintahan Jokowi pada periode pertama.
“Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan (Jokowi dianggap berkhianat), juga pada Pak Anies Baswedan, dan Pak Tom Lembong, yang semuanya pernah membantu Jokowi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kontribusi para tokoh tersebut sangat signifikan dalam membangun karier politik Jokowi hingga mencapai posisi tertinggi di pemerintahan.
“Nama-nama yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan,” katanya.
Pernyataan Jusuf Kalla soal Perannya dalam Karier Jokowi
Sebelumnya, Jusuf Kalla menyampaikan pandangannya terkait perjalanan politik Jokowi, khususnya sejak Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012. Dalam pernyataannya, Jusuf Kalla mengklaim memiliki peran penting dalam memperkenalkan Jokowi ke panggung politik nasional. Ia menyebut bahwa dirinya yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta dan meyakinkan Megawati untuk mengusungnya sebagai calon gubernur.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, ‘Ibu ini ada calon baik orang PDIP’. (Megawati menjawab) ‘Ah jangan’. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur,” kata JK. Lebih lanjut, Jusuf Kalla menegaskan bahwa langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi perjalanan Jokowi menuju kursi presiden.
“Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?” tegasnya.
Peran Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014
JK juga mengungkapkan bahwa dalam Pemilihan Presiden 2014, dirinya memiliki posisi strategis sebagai calon wakil presiden yang mendampingi Jokowi. Ia menyebut bahwa Megawati Soekarnoputri sempat enggan mengusung Jokowi jika tidak didampingi oleh dirinya.
“2 tahun dia gubernur (DKI Jakarta), oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, eh belum cukup pengalaman jangan, nanti rusak negeri ini. Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya,” kata Jusuf Kalla. Menurutnya, keputusan tersebut didasari oleh pertimbangan pengalaman yang dimilikinya untuk mendampingi Jokowi dalam memimpin negara.
“Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, ‘Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf’ Ya bukan saya minta, bukan,” ujarnya. “Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya,” imbuh Jusuf Kalla.



















