Konsep Kedai Retro yang Menghadirkan Rasa Rumah
Omahe Mbah Giyo adalah sebuah tempat nongkrong yang memiliki konsep unik dengan nuansa rumah retro tahun 1950-an. Tempat ini dirintis oleh pasangan suami istri, Johanes Budi dan Yayuk Purba Lie sejak tahun 2017. Mereka memanfaatkan rumah keluarga mereka sebagai tempat usaha, sehingga menciptakan suasana yang homey dan nyaman bagi pengunjung.
Interior kedai ini dipenuhi barang-barang lawas yang masih terawat, seperti mesin jahit, setrika arang, hingga meja antik. Semua benda tersebut tidak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga memberikan kesan nostalgia yang kental. Setiap sudut ruangan terasa penuh dengan cerita dan kehangatan masa lalu.
Lokasi dan Awal Berdirinya Omahe Mbah Giyo
Omahe Mbah Giyo terletak di Jalan Gubeng Kertajaya I Raya No 15, Gubeng, Kota Surabaya. Konsep rumah dan kedai kopi ini dihadirkan oleh Johanes Budi dan Yayuk Purba Lie, yang mengubah rumah tahun 1950-an menjadi sebuah kedai kopi yang berada di tengah pemukiman warga.
Keduanya mengaku bahwa awal berdirinya kedai ini sempat menjadi perhatian warga. Saat itu, banyak orang yang belum terbiasa dengan adanya tempat ngopi di tengah lingkungan kampung. Namun, hal ini justru menjadi tantangan yang menantang bagi mereka untuk membuktikan bahwa usaha ini bisa bertahan.
“Saya ingin kalau orang ke sini serasa pulang, konsepnya rumah. Kami juga memanfaatkan space karena masih tinggal di sini. Ini rumah dari orang tua, rumah induk, yang kami tempati berdua,” ujar Johanes Budi.
Nama “Mbah Giyo” diambil dari almarhum bapak mereka, yang menjadi inspirasi utama dalam mendirikan kedai ini. Nama tersebut menjadi simbol perjuangan dan semangat yang terus diteruskan.
Desain Arsitektur dan Interior yang Unik
Bangunan Omahe Mbah Giyo memiliki desain khas tahun 1950-an dengan dominasi lampu kuning yang memberikan kesan hangat dan romantis. Jendela lebar ganda yang terbuat dari kayu dan besi berwarna menjadi ventilasi utama di ruangan ini. Arsitektur ini sering disebut sebagai gaya jengki, yang diambil dari kata Yankee.
Johanes dan Yayuk mengubah ruang tamu keluarga menjadi ruang utama kedai. Sementara itu, ruang kamar yang dahulunya digunakan sebagai tempat tidur diubah menjadi bar terbuka. Di bagian samping, terdapat koleksi barang lawas seperti setrika arang, penggiling daging, dan beberapa aksesoris lainnya.
“Barang lama masih terpakai itu banyak, ada pernak pernik, meja tulis almarhum bapak. Dua meja saya jadikan satu, ada mesin jahit. Kaki mesin jahit saya buat jadi meja, ada meja buffet,” tambah Johanes.
Perjalanan Menuju Kesuksesan
Yayuk Purba Lie menceritakan bahwa dalam merintis sebuah usaha, mental sangat penting. Keduanya pernah mengalami masa sulit saat memulai usaha Omahe Mbah Giyo. Namun, keyakinan terhadap produk yang dijual serta perkembangan menu menjadi strategi utama dalam menjaga ketahanan usaha.
“Dulu empat bulan saya pura-pura mencatat di meja depan, supaya kelihatan sibuk. Karena warung di dalam kampung. Tidak biasa. Butuh mental. Kalau mau memulai usaha, bukan hanya modal tapi mental,” tutup Yayuk.
Keunikan dan Pesona yang Tak Terlupakan
Omahe Mbah Giyo tidak hanya menjadi tempat nongkrong yang nyaman, tetapi juga menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi pecinta kopi dan penggemar nuansa retro. Dengan kombinasi desain interior yang khas dan suasana yang homey, kedai ini berhasil menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat-tempat lain.
Setiap pengunjung akan merasa seperti kembali ke masa lalu, di mana setiap detail di dalam kedai menghadirkan kenangan dan kehangatan. Dengan begitu, Omahe Mbah Giyo bukan hanya sekadar kedai kopi, tetapi juga sebuah tempat yang penuh makna dan pesona.

















