Eko Patrio: Romantisme di Pasar Tradisional dan Rahasia Harmoni Rumah Tangga
Di balik citranya sebagai artis papan atas dan politisi senior yang kerap disibukkan dengan berbagai agenda, Eko Patrio rupanya menyimpan sisi lain yang tak banyak diketahui publik. Ia adalah sosok suami yang sangat romantis dan tak ragu menunjukkan rasa sayangnya kepada sang istri, Viona Rosalina. Di tengah kesibukannya yang padat, Eko mengaku selalu menyempatkan waktu khusus untuk dinikmati berdua dengan Viona.
Uniknya, bentuk perhatian Eko bukan berupa kencan mewah di mal-mal ternama atau santapan di restoran bintang lima. Sebaliknya, Eko justru merasa bangga dan tak gengsi ketika harus berperan sebagai “asisten pribadi” bagi sang istri saat mereka berbelanja di pasar tradisional. Bagi Eko, keharmonisan rumah tangga yang telah terjalin puluhan tahun adalah prioritas utama. Ia bahkan menciptakan sebuah akronim unik untuk menggambarkan peran multifungsinya dalam kehidupan sang istri.
“Ya, buat saya siapa lagi yang nemenin istri kalau bukan suami. Saya itu PBSI, Pacar Bisa Suami Iya. Pembantu bisa, suami iya,” ujar Eko Patrio saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat (6/7/2026). Ungkapan ini menggambarkan komitmennya untuk selalu ada bagi sang istri dalam berbagai peran, bahkan yang paling sederhana sekalipun.
Minggu Pagi: Waktu Sakral untuk Sang Istri
Eko memiliki pandangan tersendiri mengenai pembagian waktu dalam keluarganya. Hari Minggu baginya adalah waktu yang sangat sakral, yang didedikasikan sepenuhnya untuk kebersamaan dengan Viona. Sementara malam Minggu biasanya dihabiskan bersama anak-anak untuk membangun kedekatan keluarga, pagi hari di hari Minggu adalah jadwal wajib bagi Eko untuk “mengabdi” pada keinginan dan kebutuhan Viona.
Aktivitas ini menjadi semacam ritual yang menjaga api asmara dan keintiman di antara mereka, terlepas dari kesibukan masing-masing di hari-hari biasa. Momen-momen sederhana inilah yang menurut Eko menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Menjadi Sopir Pribadi dan Saksi Kehebatan Istri Menawar Harga
Eko menceritakan berbagai pengalamannya saat menemani Viona beraktivitas. Mulai dari sekadar berburu sarapan bubur ayam di pagi hari, hingga melakukan “blusukan” ke pasar tradisional yang ramai seperti Pasar Petak Sembilan di Glodok. Dalam setiap kesempatan tersebut, Eko lebih memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Keputusan ini bukan tanpa alasan.
“Karena mungkin faktor usia juga ya, bawa mobil sendiri (berdua istri) itu nikmat gitu ya. Menikmati saat-saat berdua,” tuturnya. Baginya, mengemudikan mobil sendiri sambil ditemani sang istri memberikan sensasi kenikmatan tersendiri. Ini adalah bentuk “me time” yang ia nikmati, sekaligus kesempatan untuk merefleksikan kebahagiaan dalam kebersamaan.
Selain menikmati perjalanan, Eko mengaku sering kali dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan kehebatan Viona dalam urusan menawar harga di pasar. Perbedaan gaya berbelanja antara dirinya dan sang istri seringkali menjadi bahan cerita lucu di antara mereka.
“Wah, kalau masalah nawar, Viona jagonya. Harga 3.800 bisa dia tawar dibuletin jadi 3.000. Kalau saya, 3.800 malah saya buletin jadi 4.000,” ungkap Eko sambil tersenyum, menggambarkan betapa berbanding terbaliknya kebiasaan mereka dalam hal tawar-menawar. Hal ini menunjukkan bahwa Viona memiliki keahlian khusus dalam mendapatkan harga terbaik, sementara Eko mungkin lebih cenderung untuk tidak berdebat panjang.
Tetap Merakyat dan Rendah Hati di Tengah Keramaian
Keberadaan sosok Eko Patrio, seorang figur publik yang dikenal luas, di tengah pasar tradisional tentu saja menarik perhatian warga. Tak jarang ia menjadi pusat perhatian, bahkan tak segan berdesakan atau dicubit oleh ibu-ibu yang merasa gemas melihatnya. Namun, komedian yang juga dikenal sebagai anggota grup lawak Patrio ini justru menunjukkan sikap yang rendah hati.
“Ya karena saya mah emang orang susah dulu ya, jadi udah biasa hadepin yang kayak gitu,” ucapnya dengan penuh kerendahan hati. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Eko tidak melupakan akar dan masa lalunya. Pengalaman hidup sebagai orang yang pernah merasakan kesulitan membuatnya tetap membumi dan tidak merasa canggung atau terganggu dengan interaksi langsung dengan masyarakat, bahkan dalam situasi yang paling sederhana sekalipun.
Sikapnya ini menegaskan bahwa popularitas dan status sosial yang ia raih tidak membuatnya lupa diri. Ia tetap menjadi Eko yang merakyat, yang mampu berbaur dengan siapa saja, dan yang menghargai setiap momen kebersamaan dengan sang istri di tengah kesederhanaan.


















