Keberagaman dalam Pendidikan: Kisah Inspiratif dari Pulau Buru
Di tengah pesatnya arus globalisasi dan tantangan zaman, konsep keberagaman seringkali menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Namun, di sudut timur Indonesia, tepatnya di Pulau Buru, Maluku, keberagaman bukan sekadar wacana, melainkan sebuah realitas yang terjalin erat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. SMK Alhilaal di Namlea, Pulau Buru, telah membuktikan komitmennya dalam merangkul semua anak bangsa tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Tiga Murid Penghayat Kepercayaan di Lingkungan Sekolah Formal
Kepala SMK Alhilaal Namlea, Megaria, menceritakan sebuah kisah yang mengharukan tentang tiga muridnya yang berasal dari Desa Danau Rana, Pulau Buru. Ketiga murid ini adalah penganut kepercayaan animisme, sebuah aliran kepercayaan yang telah mengakar kuat di beberapa wilayah Indonesia. Desa mereka berjarak sekitar 60 kilometer dari Namlea, sebuah perjalanan yang tidak singkat dan penuh tantangan.
“Mereka kalau pergi ke sekolah harus menyebrang danau,” ungkap Megaria saat ditemui usai mengikuti Seminar Literasi Keagamaan dan Lintas Budaya (LKLB) yang diselenggarakan oleh Institut Leimena di Ambon, Maluku. Perjalanan menuju sekolah yang biasanya memakan waktu 1 hingga 1,5 jam menggunakan sepeda motor, kini telah dipermudah. Untuk memastikan para murid ini dapat menempuh pendidikan dengan nyaman dan tanpa hambatan berarti, sekolah telah menyediakan fasilitas asrama yang berlokasi dekat dengan SMK Alhilaal.
Komitmen Tanpa Diskriminasi Sejak 2007
Semangat inklusivitas di SMK Alhilaal bukanlah hal baru. Sejak tahun 2007, sekolah ini telah membuka pintunya lebar-lebar bagi murid-murid yang menganut kepercayaan penghayat. Megaria menegaskan bahwa komitmen ini didasari oleh kesadaran akan hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, sebagaimana dijamin oleh konstitusi. “Tidak boleh ada diskriminasi. Bahkan saya sangat menyayangi mereka,” tegasnya, menunjukkan betapa besar perhatian dan kepedulian sekolah terhadap seluruh siswanya.
Tahun ini, SMK Alhilaal menjadi rumah bagi sekitar 282 murid dengan beragam latar belakang agama. Rinciannya adalah sebagai berikut:
* 178 murid beragama Islam.
* 42 murid beragama Kristen.
* 9 orang penghayat Hindu Adat.
* 3 orang penghayat kepercayaan animisme.
Keberagaman ini menciptakan sebuah ekosistem belajar yang kaya, di mana setiap individu dapat belajar dan berkembang tanpa merasa terasing.
Fleksibilitas dalam Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, SMK Alhilaal memberikan keleluasaan bagi para murid penghayat kepercayaan, terutama saat mata pelajaran agama. Menyadari bahwa tidak ada guru khusus yang mengajar materi penghayat kepercayaan, sekolah justru mendorong mereka untuk mengikuti pelajaran agama yang disampaikan oleh guru agama yang ada. “Mereka ingin mendengarkan materi yang disampaikan guru agama. Tidak ada pemaksaan,” jelas Megaria. Hal ini menunjukkan pendekatan yang humanis, di mana keinginan murid untuk belajar dihargai dan difasilitasi.
Meskipun demikian, para guru tetap melakukan penilaian terhadap kemampuan agama para murid penghayat kepercayaan. Penilaian ini tidak hanya berfokus pada aspek kognitif keagamaan, tetapi juga mencakup kehadiran, tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan mereka dalam berkolaborasi dengan teman-teman sekelas. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa perkembangan siswa dinilai secara menyeluruh.
Kolaborasi Budaya Melalui Seni Tari
Keberagaman di SMK Alhilaal juga terlihat jelas dalam kegiatan ekstrakurikuler, khususnya seni tari. Banyak murid penghayat kepercayaan yang aktif mengikuti kegiatan ini. Puncak dari partisipasi mereka seringkali terlihat saat pementasan tari, di mana murid penghayat kepercayaan animisme menampilkan Tari Cakalele, sebuah tarian khas Pulau Buru yang sangat sakral dan digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.
Tari Cakalele memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat Pulau Buru dan hanya bisa dibawakan oleh mereka yang memegang teguh tradisi. “Mereka menggunakan parang dan tombak asli sebagai bagian dari tradisi,” ujar Megaria, menyoroti kekayaan budaya yang ditampilkan.
Setelah pementasan Tari Cakalele, suasana semakin meriah dengan penampilan Tari Sawat Buru yang dibawakan oleh siswa muslim. Kolaborasi antara kedua tarian ini, yang dibawakan oleh siswa dari latar belakang keyakinan yang berbeda, menciptakan sebuah pertunjukan yang harmonis dan memukau. “Mereka berkolaborasi dengan indah,” puji Megaria, menggarisbawahi bagaimana seni dapat menjadi jembatan pemersatu.
Dukungan Finansial dan Bantuan Pendidikan
Untuk memastikan bahwa semua siswa, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu atau latar belakang keyakinan yang berbeda, dapat terus bersekolah, SMK Alhilaal berupaya memberikan dukungan finansial. Megaria mengklaim bahwa banyak murid penghayat kepercayaan yang berhasil mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP). Bagi yang belum beruntung mendapatkan PIP, sekolah memprioritaskan mereka untuk menerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Maluku, seperti Beasiswa Miskin/Bantuan Siswa Miskin dan Kartu Maluku Cerdas.
Terkait fenomena beberapa murid penghayat kepercayaan yang ingin pindah keyakinan, Megaria menegaskan bahwa hal tersebut merupakan pilihan pribadi mereka dan bukan dipicu oleh kesulitan administrasi kependudukan untuk mempermudah akses bantuan. “Itu pilihan mereka,” tegasnya, menghormati otonomi individu dalam menentukan keyakinan.
Maluku: Laboratorium Kehidupan Beragam
Pengalaman positif di SMK Alhilaal ini menarik perhatian Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong. Ia memandang praktik baik yang diterapkan di sekolah tersebut sebagai contoh yang layak direplikasi di daerah lain di Indonesia. Maluku, menurutnya, telah membuktikan bahwa kehidupan dalam keragaman bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah kenyataan yang tumbuh subur dalam keseharian masyarakatnya.
“Maluku ini memang contoh baik untuk kehidupan bersama. Kami akan selalu angkat Maluku untuk penghidupan nilai-nilai ini,” ujar Farid F. Saenong di Ambon, seraya menekankan pentingnya terus mempromosikan dan melestarikan nilai-nilai kebersamaan tersebut.
Penguatan Regulasi dan Ruang Ekspresi
Meskipun regulasi mengenai penghayat kepercayaan sudah terakomodasi di bawah kewenangan Kementerian Kebudayaan, Farid F. Saenong mengakui bahwa masih diperlukan ruang yang lebih luas agar para penghayat kepercayaan dapat mengekspresikan keyakinan mereka secara lebih leluasa. Hal ini menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk menyempurnakan kerangka hukum dan sosial demi inklusi yang lebih baik.
Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Fondasi Kerukunan
Seminar Literasi Keagamaan dan Lintas Budaya (LKLB) yang diselenggarakan oleh Institut Leimena di Ambon merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Megaria, sebagai salah satu pendidik yang mengikuti program ini, turut menyaksikan langsung bagaimana LKLB bertujuan membekali para pendidik dengan kompetensi untuk membangun relasi dan kolaborasi yang harmonis dengan individu dari berbagai agama dan kepercayaan.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan bahwa Program LKLB yang dimulai sejak akhir tahun 2021 telah menjangkau lebih dari 10.000 pendidik melalui 72 kelas pelatihan dasar. Program ini tidak hanya terbatas pada sekolah dan madrasah, tetapi juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan.
Matius Ho menambahkan bahwa Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan yang efektif dalam membangun kohesi sosial. Pengakuan ini bahkan tercermin dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, di mana LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Inovasi Pedagogi Berbasis Budaya
Keberhasilan program LKLB juga terlihat dari kunjungan delegasi Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina ke Ambon pada November lalu. Mereka datang untuk belajar dari implementasi Program LKLB di kota tersebut.
Khusus di Ambon, program LKLB telah dimodifikasi dengan pendekatan yang sangat relevan dengan konteks budaya lokal. Dengan memanfaatkan musik sebagai pedagogi, Ambon yang telah ditetapkan sebagai “UNESCO City of Music” menjadi laboratorium yang ideal untuk membangun perdamaian melalui seni. Pendekatan inovatif ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai persatuan dan toleransi.
Kisah dari SMK Alhilaal dan berbagai inisiatif yang diuraikan di atas memberikan gambaran optimis tentang bagaimana Indonesia, melalui pendidikan dan dialog lintas budaya, terus berupaya membangun masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif, di mana setiap anak bangsa memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang.



















