Hutan Kayu Lara: Kunci Penting untuk Pendidikan dan Konservasi
Hutan Penelitian dan Wisata Kayu Lara yang terletak di wilayah Simoma, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, telah menjadi lokasi penting bagi penelitian dan kegiatan akademik. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini aktif digunakan oleh mahasiswa dan peneliti dari berbagai universitas sebagai tempat melakukan riset dan kegiatan perkemahan ilmiah.
Meskipun rencana pembangunan Sekolah Terintegrasi Nasional sedang dipertimbangkan di sebagian kawasan tersebut, sejumlah pihak menilai bahwa keberadaan Hutan Kayu Lara memiliki nilai strategis, baik sebagai investasi akademik maupun sebagai ruang riset jangka panjang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu, Muhammad Iqbal Alwi, mengungkapkan bahwa kawasan Hutan Kayu Lara sering dikunjungi oleh mahasiswa dan peneliti dari berbagai kampus. Namun, hingga saat ini DLH belum memiliki data rinci terkait jumlah peneliti atau hasil penelitian yang dilakukan di dalam kawasan tersebut.
Menurut Iqbal, aktivitas penelitian umumnya dilakukan secara mandiri tanpa adanya pelaporan resmi ke pemerintah daerah. Hal ini disebabkan karena kurangnya sarana atau media front office yang tersedia.
“Perkiraan jumlah peneliti yang masuk mandiri selama setahun berkisar 100 orang. Karena yang camp penelitian biasanya belasan hingga puluhan orang,” tambah Iqbal.
Ia menyebut contoh, pada tahun 2025 lalu, ada mahasiswa dari salah satu universitas di Palopo yang melapor sebelum melakukan penelitian di kawasan Hutan Penelitian dan Wisata Kayu Lara. Menurut Iqbal, hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki fungsi strategis sebagai ruang belajar lapangan dan laboratorium alam.
Perlu Kajian Mendalam Sebelum Pengambilan Keputusan
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, Hadijah Azis Karim, menilai bahwa aspek ekologis harus dipertimbangkan sebelum adanya alih fungsi kawasan. Menurutnya, di dalam kawasan Hutan Kayu Lara terdapat habitat Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi.
“Saya menyayangkan jika kawasan tersebut diubah fungsinya karena lahan itu punya fungsi konservasi, yaitu TSL yang ada di sana, walaupun keduanya untuk tujuan pendidikan,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa keputusan terkait pemanfaatan kawasan tetap berada di tangan pemerintah daerah karena status lahan merupakan aset Pemda Luwu dan bukan kawasan hutan negara.
Ia menyarankan agar pemerintah terlebih dahulu melakukan kajian mendalam sebelum mengambil keputusan terkait pembangunan di kawasan tersebut. Studi kelayakan penting dilakukan untuk melihat dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang mungkin muncul.
Penolakan terhadap Pembangunan Sekolah Terintegrasi
Aktivis lingkungan, Kamal Khatib, menilai bahwa lokasi pembangunan sekolah tidak tepat karena berada di kawasan yang telah ditetapkan sebagai hutan penelitian dan wisata dalam aturan tata ruang daerah. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Luwu seharusnya lebih mendalami informasi terkait fungsi ekologis kawasan tersebut sebelum menetapkan lokasi pembangunan.
Kamal juga menyebut bahwa Hutan Kayu Lara menjadi habitat berbagai flora dan fauna endemik Sulawesi Selatan, termasuk satwa dilindungi. Ia menegaskan bahwa penolakan yang dilakukan adalah bentuk upaya menjaga kawasan hutan yang dinilai memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan pendidikan.
Spesies Endemik yang Terancam Punah
Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makassar, Isna Radianah Aziz, mengungkap bahwa Hutan Kayu Lara merupakan rumah bagi spesies endemik Sulawesi yang kini berada di ambang kepunahan. Dalam riset yang dibawa hingga ke laboratorium di Inggris, Isna menggunakan metode identifikasi environmental DNA (eDNA) untuk memetakan kekayaan hayati Kayu Lara.
Salah satu temuan utamanya adalah keberadaan tanaman Dillenia sp. atau Dengen, yang merupakan spesies kunci (keystone species) bagi ekosistem setempat. “Kami menemukan Dillenia serrata dan mengidentifikasi adanya Dillenia celebica. Ini adalah tumbuhan yang hanya ada di Sulawesi. Statusnya dalam Redlist IUCN adalah endangered atau terancam punah,” ungkap Isna.
Selain flora, Isna juga mendokumentasikan keberadaan monyet Sulawesi (Macaca tonkeana) yang memiliki ciri khas ischial callosities putih. Satwa ini, kata dia, kini berstatus rentan (vulnerable).
Isna meminta agar Bupati Luwu, Patahudding, bersedia memindahkan lokasi pembangunan Sekolah Terintegrasi Nasional tersebut. “Visi yang luar biasa untuk Luwu, namun saya berharap pemerintah setempat bersedia memindahkan lokasi ke lahan alternatif, terbuka atau lahan non-produktif lainnya yang tidak memiliki nilai biodiversitas tinggi,” bebernya.


















