PT Ifishdeco Tbk (IFSH) berhasil mencatatkan kinerja finansial yang solid pada tahun 2025, dengan penjualan yang menembus angka Rp 1 triliun. Pencapaian ini merupakan peningkatan sebesar 2,90% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 972,70 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk peningkatan produksi dan penjualan silica yang merupakan kontribusi signifikan dari anak perusahaan, PT Hangtian Nur Cahaya.
Corporate Secretary Ifishdeco, Rivka Rotua Natasya, menjelaskan bahwa pada tahun 2025, perusahaan memfokuskan strategi pada penguatan fundamental bisnis inti. Upaya ini meliputi peningkatan sinergi antar manajemen serta optimalisasi keunggulan operasional yang dimiliki. Pendekatan ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika industri pertambangan nikel yang terus berkembang.
Meskipun penjualan mengalami peningkatan, beban pokok penjualan IFSH juga tercatat meningkat sebesar 5,76% secara tahunan, mencapai Rp 709,69 miliar. Peningkatan beban pokok penjualan ini berdampak pada laba bruto perusahaan yang mengalami penyusutan sebesar 3,46%, dari Rp 301,69 miliar menjadi Rp 291,25 miliar.
Setelah memperhitungkan beban umum dan administrasi yang mencapai Rp 141,94 miliar, IFSH membukukan laba usaha sebesar Rp 149,31 miliar pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan sedikit penurunan sebesar 1,53% dibandingkan dengan capaian laba usaha pada tahun 2024 yang sebesar Rp 151,63 miliar.
Pengelolaan Beban dan Pendapatan
Salah satu area yang menunjukkan perbaikan signifikan adalah pengelolaan beban bunga. IFSH berhasil memangkas beban bunga sebesar 41,7% secara tahunan, dari jumlah yang sebelumnya tercatat menjadi hanya Rp 4,39 miliar. Selain itu, perusahaan juga mampu membalikkan tren beban lain-lain yang pada tahun 2024 tercatat sebesar Rp 6,68 miliar, menjadi pendapatan lain-lain sebesar Rp 5,72 miliar di tahun 2025.
Laba Periode Berjalan dan Laba Bersih
Secara keseluruhan, IFSH membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 106,51 miliar pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,39% jika dibandingkan dengan laba periode berjalan pada tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 100,11 miliar.
Namun, jika dilihat dari sisi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, IFSH mencatatkan laba sebesar Rp 72,14 miliar pada tahun 2025. Angka ini mengalami penyusutan sebesar 13,77% dibandingkan dengan raihan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 83,66 miliar.
Rivka Rotua Natasya menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri, seperti fluktuasi harga komoditas, biaya produksi yang bervariasi, serta dinamika regulasi yang terus berubah, kinerja IFSH pada tahun 2025 mencerminkan ketahanan perusahaan. Kinerja ini menunjukkan kemampuan Perseroan dalam menghadapi kompleksitas fundamental bisnis di tengah industri nikel yang dinamis.
Penguatan Struktur Keuangan
Di sisi lain neraca keuangan, IFSH menunjukkan penguatan struktur modal yang signifikan. Hingga akhir tahun 2025, total liabilitas perusahaan berhasil dipangkas sebesar 13,12%, menurun dari Rp 169,93 miliar menjadi Rp 147,62 miliar. Seiring dengan penurunan liabilitas, total ekuitas IFSH mengalami kenaikan sebesar 8,96%, bertambah dari Rp 838,03 miliar menjadi Rp 913,16 miliar.
Total aset IFSH juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan sekitar 5% secara tahunan, dari Rp 1,01 triliun menjadi Rp 1,06 triliun. Saldo laba perusahaan turut menguat sebesar 6,85% menjadi Rp 733,55 miliar, yang menjadi indikator akumulasi profitabilitas yang berkelanjutan.
Arus Kas dan Likuiditas
Posisi arus kas dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp 79,99 miliar. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, IFSH tetap mampu menjaga posisi likuiditas yang sehat. Saldo kas dan setara kas di akhir tahun tercatat sebesar Rp 109,29 miliar, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Prospek dan Optimisme Menuju 2026
Menyongsong tahun 2026, IFSH menunjukkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan permintaan nikel global. Permintaan ini diperkirakan akan terus didorong oleh ekspansi sektor penyimpanan energi dan kendaraan listrik. Selain itu, meningkatnya risiko geopolitik yang mempengaruhi industri minyak juga semakin memperkuat dorongan terhadap energi bersih dan kemandirian energi.
Perusahaan juga terus memantau pergerakan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang menunjukkan tren positif. Hal ini berpotensi memperkuat sentimen positif di sektor nikel nasional. Dengan struktur permodalan yang semakin solid dan tingkat liabilitas yang terus menurun, IFSH optimistis dapat mempertahankan stabilitas operasional sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka panjang yang ada.



















