Pergerakan IHSG yang Fluktuatif di Awal Perdagangan
Pada awal perdagangan hari Selasa (12/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan fluktuatif dan cenderung melemah. Hal ini terjadi seiring dengan ketidakpastian mengenai nasib kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memengaruhi sentimen pasar saham di kawasan Asia.
Berdasarkan data RTI pada pukul 09.08 WIB, IHSG turun sebesar 0,43% atau 29,46 poin, berada di level 6.876,15. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 240 saham mengalami penurunan, sementara 258 saham menguat dan 201 saham bergerak stagnan. Total volume perdagangan mencapai 2,8 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,2 triliun.
Delapan indeks sektoral mengalami pelemahan dan berkontribusi pada penurunan IHSG. Tiga sektor dengan penurunan terdalam adalah IDX-Industry yang turun 1,90%, IDX-Non Cyclical melemah 0,83%, serta IDX-Health terkoreksi 0,61%.
Beberapa saham top losers di indeks LQ45 antara lain:
* PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 4,38% ke Rp 1.420
* PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 2,52% ke Rp 1.935
* PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkoreksi 2,44% ke Rp 600
Sementara itu, saham-saham top gainers LQ45 meliputi:
* PT Indosat Tbk (ISAT) naik 5,50% ke Rp 2.300
* PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 3,64% ke Rp 1.850
* PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 2,19% ke Rp 9.350
Pergerakan Bursa Asia yang Beragam
Di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa bergerak mixed setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi “massive life support” atau sangat rapuh. Trump meragukan keberlangsungan kesepakatan damai tersebut setelah Iran memberikan respons yang dinilai tidak dapat diterima terhadap proposal AS untuk mengakhiri konflik.
Dari pasar regional, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,19%, sedangkan Topix menguat 0,27%. Namun, indeks Kospi Korea Selatan berbalik melemah lebih dari 3% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru pada Senin (11/5/2026). Indeks saham kecil Kosdaq juga turun lebih dari 4%.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,82%. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 1997, menyusul risalah rapat Bank of Japan (BOJ) yang menunjukkan sejumlah anggota dewan mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Adapun indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,47%, sedangkan indeks CSI 300 China dibuka cenderung datar. Pergerakan bursa di kawasan Asia terlihat sangat dipengaruhi oleh situasi geopolitik dan kebijakan moneter yang sedang berlangsung.


















