Militer Iran mengklaim telah mempersiapkan diri secara matang untuk menghadapi potensi invasi darat yang mungkin dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Para pengamat militer menilai bahwa upaya semacam itu akan menjadi langkah yang sangat berisiko, bahkan setara dengan “aksi bunuh diri massal” bagi tentara AS. Jika invasi darat benar-benar terjadi, diperkirakan akan menghadapi medan yang sangat sulit di wilayah Persia, dengan delapan lapis pertahanan darat yang siap mencegat setiap gerakan pasukan musuh, bahkan sebelum mereka berhasil mendarat.
Struktur Pertahanan Delapan Lapis Iran
Seorang pejabat militer Iran, dalam sebuah wawancara pada Sabtu, 28 Maret 2026, menjelaskan bahwa pertahanan darat Iran dirancang dalam delapan lapisan yang terpisah namun terkoordinasi dengan baik. Setiap lapisan memiliki misi dan fungsi spesifik, yang semuanya beroperasi di bawah kendali intelijen penuh terhadap pergerakan musuh. “Apa yang menanti para penyerang jika terjadi kesalahan perhitungan adalah memasuki lapisan pertahanan yang telah kita buat mustahil untuk dilewati,” ujar pejabat tersebut.
Berikut adalah rincian dari delapan lapisan pertahanan tersebut:
Pasukan Khusus (Nuhed)
Pasukan ini merupakan garda terdepan pertahanan Iran, terdiri dari personel militer paling profesional dengan tingkat peralatan dan pelatihan tertinggi. Tugas utama mereka adalah melakukan kontak pertama dengan ancaman canggih dan operasi khusus musuh, serta mengidentifikasi dan menghancurkan inti dari pasukan invasi. Pasukan Nuhed ini meliputi Pasukan Khusus Angkatan Laut IRGC (SNSF), Korps Marinir Angkatan Darat (SBS), dan Brigade ke-65 Pasukan Khusus Lintas Udara Iran. Mereka juga dikenal sebagai brigade anti-helikopter, yang secara khusus bertugas melawan ancaman udara dari helikopter musuh, dan ditempatkan di pulau-pulau Teluk Persia, di sepanjang pantai teritorial, serta di dalam wilayah Iran.Pasukan Fatiheen
Lapisan ini terdiri dari Brigade Lintas Udara ke-25, ke-35, ke-45, dan Brigade ke-55 Angkatan Darat (AD). Selain itu, juga mencakup Divisi Lintas Udara ke-23, Divisi Ranger ke-58, serta Divisi Infanteri Gunung AD. Unit-unit ini dirancang sebagai pasukan penyerang yang mampu melakukan operasi ofensif jauh ke dalam zona pertempuran musuh. Mereka akan dikerahkan di berbagai wilayah strategis di seluruh negeri dan beroperasi dengan kecepatan tinggi untuk mengejutkan dan mengganggu formasi musuh.Brigade Infanteri Mekanis AD dan AD IRGC
Ini adalah pasukan darat yang terlatih dengan jumlah besar, dilengkapi dengan kendaraan lapis baja dan mendapatkan dukungan dari unit penerbangan Angkatan Darat (AD) dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Mereka juga akan didukung oleh artileri berat yang mampu memberikan tembakan dukungan secara terus-menerus untuk menghancurkan posisi musuh dan membuka jalan bagi pasukan darat.Korps Provinsi – Unit Polisi Khusus
Pasukan ini memiliki tanggung jawab krusial untuk menghadapi pasukan musuh dan kelompok bersenjata yang mencoba menyusup atau beroperasi di pinggiran kota serta di dalam wilayah perkotaan. Mereka adalah personel yang terampil dan berpengalaman, terorganisir secara khusus untuk menangani situasi krisis yang kompleks dan ancaman infiltrasi. Unit Pasukan Dukungan dan Operasi Khusus (NOPO) juga termasuk dalam lapisan ini, yang akan memberikan dukungan tempur dan operasi garis depan di wilayah perkotaan Iran untuk menetralkan ancaman spesifik di lingkungan perkotaan.Batalyon Imam Hussein
Unit ini berperan sebagai pasukan penyerang yang dilengkapi dengan persenjataan berat dan semi-berat. Tugas utama mereka adalah menstabilkan garis pertahanan yang mungkin terancam oleh serangan musuh. Selain itu, mereka juga akan memberikan dukungan tembakan yang berkelanjutan untuk membantu unit-unit lain yang berada di garis depan.Batalyon Imam Ali (Operasi Khusus)
Unit ini memiliki peran yang sangat spesifik dan penting. Anggotanya adalah pasukan elit yang sangat terampil, dirancang untuk melakukan operasi lapangan yang kompleks dalam situasi kritis dan bertekanan tinggi. Kemampuan adaptasi dan keahlian mereka sangat vital dalam menghadapi tantangan tak terduga di medan perang.Mobilisasi Veteran
Lapisan ini terdiri dari para pejuang berpengalaman dari masa “Pertahanan Suci” (perang Iran-Irak), veteran Garda Revolusi, dan anggota Basij. Mereka telah menerima pelatihan dan organisasi khusus, serta memiliki pengalaman tempur selama delapan tahun dalam peperangan yang tidak seimbang. Menurut pejabat militer Iran, pasukan ini merupakan aset yang tak ternilai, tidak hanya karena taktik mereka tetapi juga karena pengalaman mendalam dalam mengelola medan pertempuran yang sulit dan taktis.Mobilisasi Rakyat
Iran telah mempersenjatai dan mengorganisir sejumlah besar sukarelawan rakyat, terutama di daerah perbatasan yang rentan di wilayah barat dan selatan negara. Lapisan ini secara signifikan menambah kapasitas dukungan rakyat dan memperkuat pertahanan secara keseluruhan, sekaligus menepis anggapan musuh tentang keterbatasan jumlah personel militer Iran. Diperkirakan, jumlah personel dalam lapisan kedelapan ini saat ini telah mencapai lebih dari satu juta orang, dan diprediksi akan meningkat hingga lebih dari 10 juta orang ketika panggilan umum dilakukan.
Koordinasi Strategis dan Kesiapan Tempur
Pejabat militer Iran menekankan bahwa yang menjadikan struktur delapan lapis ini sebagai ancaman strategis bukanlah semata-mata jumlah pasukan, melainkan koordinasi yang unik dan terintegrasi di antara setiap lapisan. “Dari Pasukan Khusus Nuhed hingga Mobilisasi Rakyat, setiap lapisan bukanlah garis pertahanan pasif, melainkan kompleks ofensif independen yang dirancang untuk menghancurkan musuh dan menangkap tawanan dari pihak agresor,” jelasnya. Seluruh lapisan pasukan ini dilaporkan telah berada pada tingkat kesiapan tempur tertinggi.
Perlu dicatat, AS bersama Israel dikabarkan pernah melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menembakkan rudal ke Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah. Laporan lebih lanjut menyebutkan bahwa AS mempertimbangkan opsi invasi darat untuk merebut Pulau Kharg di Iran, sebagai upaya menekan Teheran agar membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Laporan dari Axios pada 20 Maret mengindikasikan kesiapan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih pulau strategis tersebut.
Untuk mendukung potensi operasi tersebut, pejabat AS menyatakan bahwa sekitar 5.000 personel Marinir dan Angkatan Laut AS sedang menuju Timur Tengah, dengan rencana tambahan pengiriman 10.000 personel lagi oleh Pentagon. Pertanyaan yang tersisa adalah, seberapa siap pasukan AS untuk menembus lapisan pertahanan berlapis yang telah disiapkan Iran? Jawabannya, hanya waktu dan realitas pertempuran yang akan menentukannya.



















