🔥 TERKINI

Iran Bombardir 20 Fasilitas Militer AS: Citra Satelit Ungkap Skala Serangan

Luna Oleh: Luna
2 dilihat
Jumat, 05 Juni 2026 - 02:22 WIB • Waktu baca: 6 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Iran Gempur Fasilitas Militer AS di Timur Tengah: Kerusakan Meluas Jauh Lebih Besar dari Pengakuan Resmi

Analisis mendalam terhadap citra satelit dan rekaman video mengungkap skala serangan Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah jauh melampaui apa yang diakui secara publik. Sejak awal konflik pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan telah menghantam setidaknya 20 fasilitas militer AS yang tersebar di delapan negara. Angka ini bahkan diperkirakan bisa mencapai 28 titik jika merujuk pada perkiraan beberapa analis. Serangan-serangan terkoordinasi ini telah menyebabkan kerugian jutaan dolar pada sistem pertahanan udara canggih, pesawat-pesawat vital, dan infrastruktur radar milik AS.

Serangan Iran ini merupakan respons balasan terhadap serangkaian serangan yang dilancarkan AS dan Israel di Iran serta Lebanon selama tiga bulan terakhir. Kondisi ini menciptakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan. Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pada Selasa (26/05) menegaskan bahwa Timur Tengah tidak lagi menjadi “tempat yang aman” bagi pangkalan militer Amerika. Klaim ini memperkuat gambaran bahwa Iran semakin berani dalam melancarkan serangan balasan.

Meskipun Departemen Pertahanan AS, Pentagon, mengklaim telah menghancurkan lebih dari 13.000 target di Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury, dan Gedung Putih berulang kali menyatakan militer Iran hampir lumpuh, temuan dari analisis independen menunjukkan narasi yang berbeda. Kerusakan yang terlihat pada fasilitas militer AS mengindikasikan bahwa serangan balasan Iran lebih presisi dan luas daripada yang diakui oleh pejabat Amerika.

Para pejabat pertahanan AS sendiri menolak berkomentar mengenai temuan BBC Verify ini, dengan alasan “keamanan operasional”. Upaya AS untuk membatasi penyebaran citra satelit dan analisisnya di wilayah konflik juga semakin memperkuat dugaan adanya kerahasiaan mengenai dampak serangan. Penyedia citra satelit utama, Planet, diminta untuk melakukan pembatasan “tanpa batas waktu” terhadap gambar-gambar baru dari Iran dan sebagian besar Timur Tengah. Planet membenarkan langkah ini dengan alasan AS tidak ingin citranya digunakan oleh pihak lawan untuk menargetkan personel dan warga sipil sekutu serta mitra NATO. Dalam konteks ini, BBC Verify menggunakan citra satelit dari penyedia internasional lain, dikombinasikan dengan arsip gambar dari Planet, untuk melacak kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Iran.

Perangkat Kritis AS yang Menjadi Sasaran

Serangan Iran tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga merusak perangkat-perangkat penting yang menjadi tulang punggung pertahanan AS di kawasan. Kerusakan signifikan terlihat pada beberapa aset vital, termasuk:

  • Sistem Peluncur Rudal THAAD: Tiga sistem peluncur rudal anti-balistik canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dilaporkan rusak di pangkalan udara Al Ruwais dan Al Sader di Uni Emirat Arab (UEA), serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

    • AS diketahui hanya mengoperasikan delapan sistem THAAD di seluruh dunia.
    • Biaya produksi setiap unit THAAD diperkirakan mencapai US$1 miliar (sekitar Rp17,8 triliun).
    • Pengoperasian setiap peluncur membutuhkan sekitar 100 personel.
    • Setiap rudal yang ditembakkan berharga sekitar US$12,7 juta (sekitar Rp226,1 miliar).
      Laksamana Madya Mark Mellett, mantan kepala staf Angkatan Bersenjata Irlandia, menekankan bahwa sistem peluncur rudal ini adalah inti dari jaringan pertahanan regional yang “sangat kompleks” dan tidak dapat “digantikan dengan cepat atau mudah”.
  • Pesawat Pengisian Bahan Bakar dan Pengintai: Serangan Iran juga menghantam secara signifikan pesawat pengisian bahan bakar dan pengintai milik AS di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Analisis ahli terhadap citra satelit menunjukkan kerusakan yang jelas pada pesawat-pesawat ini.

    • Salah satu pesawat yang teridentifikasi adalah pesawat pengintai E-3 Sentry.
    • Biaya penggantian pesawat seperti ini dilaporkan bisa mencapai US$700 juta.
  • Infrastruktur di Kuwait: Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait turut menjadi sasaran serangan Iran. Analis mengidentifikasi kerusakan luas pada:

    • Bunker penyimpanan bahan bakar.
    • Hanggar pesawat.
    • Akomodasi pasukan.
    • Perangkat komunikasi satelit di Camp Arifjan.

Estimasi Kerugian dan Dampak Finansial

Meskipun tingkat kerusakan pada fasilitas AS secara keseluruhan masih sulit diukur secara pasti, laporan Pentagon pada bulan Mei mengalokasikan total biaya Operasi Epic Fury sebesar US$29 miliar. Sebagian besar anggaran ini kemungkinan besar dialokasikan untuk “biaya perbaikan atau penggantian peralatan” yang hancur dalam konflik. Namun, para politisi Partai Demokrat berpendapat bahwa angka tersebut merupakan perkiraan yang terlalu rendah. Laporan yang sama juga mencatat kehancuran atau kerusakan setidaknya 42 pesawat, termasuk jet tempur F-15 dan F-35, 24 drone MQ-9 Reaper, dan sebuah pesawat serang A-10 sejak Februari.

Evolusi Taktik Iran dan Kerentanan AS

Di sisi lain, Iran dilaporkan menggunakan drone murah yang mudah diganti dalam serangannya di seluruh Timur Tengah. Para ahli mencatat bahwa taktik Iran telah berkembang selama perang. Alih-alih mengandalkan rentetan rudal besar-besaran yang menargetkan kota dan pangkalan secara luas, Iran kini lebih mengutamakan serangan yang lebih tepat sasaran.

Dr. Kelly Grieco, seorang analis dari Stimson Center, menjelaskan bahwa “Serangan awal [Iran] dirancang mengandalkan gelombang massal yang bertujuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara dan rudal melalui jumlah yang sangat besar. Namun, dalam beberapa hari, Iran beralih ke rentetan yang lebih kecil dan lebih tepat sasaran. Mereka menghemat rudal dan drone yang tersisa untuk target bernilai tinggi serta memusatkan serangan di lokasi-lokasi yang bahkan serangan nyaris meleset pun bisa menimbulkan kerusakan parah.”

Analis di MAIAR berpendapat bahwa militer AS “tampaknya merasa bersalah atas kelengahan pada tahap awal perang” karena gagal mengalihkan pesawat agar terhindar dari jangkauan drone dan rudal Iran seiring berkembangnya taktik mereka. Kasus Pangkalan Udara Prince Sultan menunjukkan bahwa fasilitas tersebut telah diserang sebelum pesawat-pesawat penting di sana dihancurkan.

Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang bersumpah bahwa “bangsa-bangsa dan wilayah di kawasan ini tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan Amerika” dan bahwa “AS tidak akan lagi memiliki tempat aman di kawasan ini, bahkan untuk mendirikan pangkalan militer,” muncul di tengah ketegangan yang kembali meningkat pasca gencatan senjata. Pada Kamis (28/05), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan AS di kawasan tersebut sebagai respons atas serangan baru AS di wilayah selatan Iran.

Dr. Grieco memberikan peringatan keras: jika gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran runtuh dan pertempuran kembali berkobar, kerusakan yang telah terjadi pada pangkalan-pangkalan AS menunjukkan bahwa fasilitas-fasilitas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sangat rentan. “Konflik saat ini telah menghabiskan stok pertahanan udara AS dan sekutunya dalam jumlah besar,” katanya. “Tidak ada cara cepat untuk mengisi kembali persediaan tersebut, artinya serangan baru dari Iran akan dihadapi dengan hanya sebagian kecil dari jumlah pertahanan yang tersedia saat konflik dimulai.”

Laporan tambahan disusun oleh Barbara Metzler dan Tom Gould.

Perkembangan Terkini dan Analisis Lanjutan

  • AS melancarkan serangan terhadap situs radar Iran, sementara Kuwait menghadapi serangan rudal dan drone.
  • AS kembali menyerang target di Iran untuk kedua kalinya dalam tiga hari, yang dikecam Teheran sebagai “Pelanggaran serius atas gencatan senjata”.
  • Armada “nyamuk” Iran menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
  • Analisis mendalam mengenai bagaimana Iran mengembangkan persenjataan drone sejak tahun 1980-an.
  • Perdebatan mengenai siapa yang akan kehabisan amunisi lebih dulu antara AS-Israel dan Iran, serta apakah stok amunisi akan menentukan pemenang perang.
  • Laporan mengenai rudal Iran yang berhasil menembus pertahanan udara Israel dan menggempur dua kota dekat fasilitas nuklir.

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →