Musim hujan seringkali membawa perubahan dalam ekosistem di sekitar kita, salah satunya adalah kemunculan hewan-hewan tertentu yang menjadi lebih sering terlihat. Di antara hewan-hewan tersebut, siput tanpa cangkang menjadi salah satu yang paling sering ditemukan merayap masuk ke dalam rumah, menimbulkan rasa geli bahkan kekhawatiran bagi sebagian orang. Hewan berwarna gelap ini, yang gerakannya menyerupai ulat dan ukurannya bisa melebihi jari manusia, terkadang dianggap sebagai makhluk yang lemah. Namun, sebuah kekhawatiran muncul dari unggahan di media sosial yang menyebutkan bahwa hewan ini ternyata bisa berbahaya bahkan menyebabkan kematian. Pertanyaannya kemudian, benarkah siput tanpa cangkang ini membawa ancaman bagi manusia, dan bagaimana cara efektif untuk mengatasinya jika mereka mulai memenuhi ruang pribadi kita?
Mengenal Siput Tanpa Cangkang: ‘Res-respo’ dari Kalangan Mollusca
Dosen Biologi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sebelas Maret (UNS), Agung Budiharjo, menjelaskan bahwa siput tanpa cangkang yang sering kita jumpai ini memiliki nama ilmiah Filicaulis bleekeri. “Di Indonesia, terdapat beberapa jenis siput tanpa cangkang. Salah satu yang paling umum ditemukan di lingkungan sekitar kita adalah jenis Filicaulis bleekeri,” ujarnya. Dalam percakapan sehari-hari, hewan ini sering disebut dengan istilah ‘respo’ atau ‘res-respo’ oleh masyarakat lokal.
Secara taksonomi, siput tanpa cangkang ini merupakan anggota dari kelompok mollusca, tepatnya dari kelas gastropoda. Kelompok ini dikenal karena memiliki satu cangkang (pada umumnya), namun pada jenis ini, cangkang tersebut telah mengalami reduksi atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga hanya menyisakan tubuh lunak yang dilindungi oleh lendir.
Mengapa Mereka Suka Masuk ke Dalam Rumah Saat Hujan?
Kehadiran siput tanpa cangkang di dalam rumah saat musim hujan bukanlah kebetulan semata. Agung Budiharjo memaparkan bahwa habitat alami hewan ini adalah tempat yang lembap, memiliki intensitas cahaya rendah, terlindungi dari paparan langsung, dan yang terpenting, tidak tergenang air.
“Contohnya, siput tanpa cangkang sering ditemukan di celah tumpukan batu bata, di balik pot tanaman, sudut tembok yang lembap, di bawah vegetasi yang rimbun, serta di sekitar area kolam,” jelas Agung.
Ketika musim hujan tiba, banyak area yang sebelumnya kering menjadi tergenang air. Kondisi ini memaksa siput tanpa cangkang untuk mencari tempat perlindungan baru yang memenuhi kriteria habitatnya, yaitu lembap namun tidak tergenang. Rumah manusia, dengan berbagai sudut dan celah yang menawarkan kelembapan dan perlindungan, menjadi salah satu tujuan mereka. “Siput tanpa cangkang akan menghindari genangan air karena kulit mereka, yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan, tidak dapat bekerja dengan baik di dalam air,” tambahnya.
Potensi Bahaya: Mitos dan Fakta
Kekhawatiran mengenai bahaya siput tanpa cangkang seringkali muncul, terutama dipicu oleh informasi yang beredar di media sosial. Namun, Agung Budiharjo menegaskan bahwa siput tanpa cangkang tidak berbahaya bagi manusia secara langsung.
“Siput tanpa cangkang hingga saat ini tidak berbahaya bagi manusia secara langsung. Siput tidak menggigit tubuh manusia dan tidak mengeluarkan racun,” tegasnya.
Namun demikian, ada satu aspek yang perlu menjadi perhatian: lendir yang menyelimuti tubuh siput. Lendir ini berfungsi untuk menjaga kelembapan tubuhnya, namun seringkali tidak steril. “Lendir tubuh siput tanpa cangkang seringkali tidak steril, berpotensi mengandung parasit, virus, atau bakteri yang mungkin bersifat patogen, serta menjadi sumber penyakit lainnya,” ungkap Agung.
Oleh karena itu, jika lendir tersebut terkontaminasi oleh parasit, virus, atau bakteri patogen, maka kontak langsung dengan manusia berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Hal ini menekankan pentingnya kebersihan, terutama jika menemukan siput ini di dalam rumah.
Meskipun tidak beracun, Agung juga menambahkan bahwa siput tanpa cangkang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan. Selain itu, hewan ini justru dapat menimbulkan masalah di lingkungan pertanian dan perkebunan. “Hewan ini dapat memakan batang lunak atau daun, terutama pada tanaman sayur atau tanaman budidaya lainnya, menjadikannya sebagai hama,” katanya.
Pada periode tertentu, terutama menjelang akhir musim penghujan, populasi siput tanpa cangkang dapat mengalami ledakan. Kondisi lingkungan yang lembap, ketersediaan sumber pakan yang melimpah, serta curah hujan yang mulai berkurang menciptakan ekosistem yang ideal bagi perkembangbiakan mereka.
Strategi Efektif Mengusir Siput Tanpa Cangkang
Mengetahui habitat dan perilakunya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi siput tanpa cangkang yang masuk ke dalam rumah atau lingkungan sekitar:
Menjaga Lingkungan Tetap Kering dan Terkena Cahaya Matahari:
Siput tanpa cangkang menyukai tempat yang lembap dan gelap. Dengan mengupayakan agar area di sekitar rumah tetap kering, meminimalkan genangan air, dan membiarkan sinar matahari masuk ke sudut-sudut yang lembap, kita dapat membuat lingkungan tersebut kurang menarik bagi mereka. Membersihkan area di bawah pot tanaman, di sela-sela tembok, dan di area yang sering tergenang air secara rutin dapat membantu.Penggunaan Garam:
Garam adalah salah satu metode tradisional yang cukup efektif. Menaburkan garam pada area yang lembap di mana siput tanpa cangkang ditemukan dapat membantu. Garam akan menyerap kelembapan dari tubuh siput, menyebabkan kulit atau mantel mereka menjadi kering dan rusak. Hal ini membuat siput cenderung menghindari area yang ditaburi garam. Namun, perlu diperhatikan penggunaannya agar tidak merusak tanaman di sekitarnya.Menghindari Penggunaan Mollusida Kimia:
Meskipun mollusida kimia dapat membunuh siput, Agung Budiharjo tidak merekomendasikan penggunaan bahan kimia ini karena potensi dampak negatifnya terhadap lingkungan. Penting untuk mencari solusi yang lebih ramah lingkungan.
Membedakan Siput Tanpa Cangkang dengan Lintah
Seringkali terjadi kekeliruan dalam mengidentifikasi siput tanpa cangkang dengan lintah. Agung Budiharjo menjelaskan perbedaan mendasar di antara keduanya.
Siput Tanpa Cangkang:
- Termasuk dalam kelompok Mollusca.
- Tubuh tidak bersegmen.
- Memiliki sepasang ‘antena’ kecil di bagian kepala.
- Bergerak dengan cara merayap menggunakan otot perutnya.
Lintah:
- Bukan anggota Mollusca, melainkan kelompok Annelida dari kelas Hirudinea.
- Memiliki tubuh yang bersegmen.
- Pada ujung tubuhnya terdapat bagian yang disebut disc.
- Dianggap berbahaya bagi manusia karena kemampuannya menempel pada kulit dan mengisap darah.
Memahami perbedaan ini penting agar kita dapat mengambil tindakan yang tepat dan tidak salah mengategorikan ancaman yang mungkin ada di sekitar kita. Dengan pengetahuan yang benar, kita dapat mengelola kehadiran siput tanpa cangkang di lingkungan kita dengan lebih bijak dan aman.



















