Belasan Jemaat Gereja Mawar Sharon Manado Dirawat Akibat Dugaan Keracunan Makanan
Manado – Serangkaian gejala serupa dialami oleh belasan jemaat Gereja Mawar Sharon (GMS) Manado yang diduga mengalami keracunan makanan. Keluhan umum yang dilaporkan meliputi sakit kepala hebat, pusing, mual, hingga muntah-muntah. Peristiwa ini terjadi setelah para jemaat mengikuti kegiatan Prayer Conference pada Jumat sore, 16 Januari 2025.
Direktur RS GMIM Pancaran Kasih Manado, dr. Maria Koagow, M.Kes., mengonfirmasi bahwa kondisi para korban yang sedang menjalani perawatan menunjukkan perkembangan yang membaik secara bertahap.
Kronologi Kejadian dan Gejala yang Muncul
Dugaan keracunan makanan ini menimpa setidaknya 94 orang jemaat GMS Manado. Gereja Mawar Sharon sendiri berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Bahu, Kota Manado, Sulawesi Utara. Sebagian besar korban segera dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan di Manado, termasuk RSUP Kandou, RS Pancaran Kasih, RSUD Provinsi Sulut (ODSK), dan RS Siloam.
Menurut dr. Maria Koagow, para korban menunjukkan gejala yang seragam. “Mereka mengaku sakit kepala hebat, pusing, mual, dan muntah-muntah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa di RS Pancaran Kasih sendiri, pada saat kejadian, sebanyak 44 orang dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Namun, hanya 14 orang yang kemudian memerlukan perawatan inap.
“Sebagian besar meminta pulang. Setelah diperiksa dan diberi obat, mereka diizinkan pulang,” ujar dr. Koagow. Sementara itu, 14 pasien yang dirawat inap menunjukkan perbaikan kondisi yang signifikan. Mereka ditempatkan di beberapa ruangan berbeda di Paviliun Ribka, Ester, Sara, dan Filipi. “Kemungkinan besar hari ini sudah ada yang diperbolehkan pulang,” tambahnya.
Pengalaman Pasien di Rumah Sakit
Suasana di Paviliun Ester, lantai dua RS Pancaran Kasih Manado, pada Sabtu sore (17 Januari) tampak tenang. Koridor yang sejuk, dilapisi keramik putih di lantai dan sebagian dinding, menambah kesan damai. Di salah satu ruang perawatan terbuka, terdapat dua tempat tidur yang semuanya terisi pasien.
Salah satunya adalah AV, yang akrab disapa Avil. Ia telah menjalani hari kedua perawatan setelah merasakan gejala keracunan pada hari sebelumnya. Di tempat tidur seberang, seorang mahasiswi yang ditemani ibunya juga sedang menjalani infus. Keduanya dirawat karena sakit yang sama.
Meskipun wajahnya tampak pucat dan matanya lelah, mahasiswi Fakultas Teknik Unsrat ini bersedia berbagi cerita. “Syukur hari ini sudah lebih baik. Semoga bisa segera pulang,” harapnya. AV menceritakan bahwa ia dan jemaat lainnya mengikuti Prayer Conference sejak Jumat pagi. Peristiwa tidak menyenangkan ini terjadi setelah makan siang yang sedikit terlambat, sekitar pukul satu siang.
Panitia kegiatan menyediakan “nasi kotak” untuk para jemaat. Menu yang disajikan bervariasi, ada nasi dengan lauk daging sapi dan acara, serta nasi dengan lauk tuna, sayur kacang panjang, dan tahu tempe. Setelah menyantap hidangan tersebut, acara dilanjutkan.
Tidak lama setelah makan, AV mulai merasakan ada yang tidak beres. Ia merasakan pusing dan sakit kepala yang hebat. Awalnya, ia menduga bahwa asam lambungnya kambuh, mengingat ia sedang menjalani ritual doa dan puasa. Namun, rasa sakit itu semakin tak tertahankan. “Saya kemudian muntah-muntah,” ungkapnya.
Tak lama kemudian, teman-temannya mulai merasakan gejala serupa. Suasana di ruang konferensi menjadi gaduh karena semakin banyak jemaat yang jatuh sakit. Semua mengalami pusing dan muntah-muntah. Dalam kondisi darurat, para jemaat yang mengalami gejala keracunan segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Manado.
Penanganan dan Tindakan Lanjutan
Pihak kepolisian, melalui Polresta Manado, telah mencatat total korban dugaan keracunan mencapai 94 orang. Penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab pasti keracunan makanan ini kemungkinan akan dilakukan oleh pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Pihak rumah sakit terus memantau kondisi para pasien yang masih menjalani perawatan. Pemberian obat-obatan, infus, dan pemantauan ketat menjadi prioritas utama untuk memastikan pemulihan para jemaat. Dukungan moral dari keluarga juga berperan penting dalam proses penyembuhan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam penyajian makanan, terutama dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang. Kebersihan, kualitas bahan baku, dan proses pengolahan makanan harus menjadi perhatian utama untuk menjamin kesehatan dan keselamatan para peserta.
Para jemaat yang telah pulih diharapkan dapat segera kembali beraktivitas normal setelah mendapatkan perawatan medis yang memadai. Kejadian ini, meskipun menimbulkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran, diharapkan dapat menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak terkait.



















