Lala Wee: Dedikasi Tanpa Henti pada Pendidikan untuk Pertumbuhan Bisnis
Perjalanan seorang pemimpin bisnis seringkali diwarnai dengan keputusan-keputusan strategis yang membentuk arah perusahaan. Namun, bagi Lala Wee, CEO MSS Group, komitmen terhadap pendidikan menjadi fondasi utama dalam setiap langkahnya. Di tengah kesibukan mengelola bisnis dan tanggung jawab sebagai ibu dari dua orang anak, Lala memilih untuk terus menimba ilmu di bangku kuliah. Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang gelar, melainkan sebuah proses fundamental untuk mematangkan pola pikir dan meningkatkan kapabilitas dalam menjalankan roda bisnis.
Kisah Lala dalam dunia profesional dimulai setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Januari 2012. Periode awal kariernya dihabiskan dengan bekerja sebagai konsultan di Jakarta hingga September 2012. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali dan bergabung dengan bisnis keluarga, di mana ia terlibat secara aktif hingga tahun 2016. Pada tahun yang sama, Lala mengambil langkah berani dengan mendirikan usahanya sendiri dari nol.
Namun, seperti halnya perjalanan wirausaha pada umumnya, jalan yang dilalui Lala tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari persoalan internal yang kompleks dalam perusahaan hingga tekanan eksternal yang tak terduga, termasuk dampak dahsyat dari pandemi COVID-19.
Pandemi COVID-19 membawa pukulan telak bagi bisnisnya, bahkan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Kondisi krisis ini justru menjadi titik balik yang mendorong Lala untuk mencari perspektif baru dan bimbingan dari mentor yang berpengalaman. Ia menyadari bahwa untuk bangkit dan berkembang, ia membutuhkan bekal pengetahuan yang lebih mendalam dan sudut pandang yang lebih segar.
“Waktu itu saya merasa ini saatnya berkembang. Saya mengambil kuliah daring dan merasa pembelajaran di UC sangat relevan dengan bisnis yang saya jalankan,” ungkap Lala mengenai momen penting tersebut. Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang Magister Manajemen di Universitas Ciputra diambil sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan peningkatan kapasitas diri sebagai seorang wirausaha.
Program Magister Manajemen di Universitas Ciputra dipilih karena relevansinya yang tinggi dengan tantangan yang dihadapi Lala dalam dunia bisnis. Selama dua tahun menempuh pendidikan pascasarjana ini, Lala merasakan betapa metode pembelajaran yang diterapkan sangat terhubung langsung dengan praktik bisnis yang ia jalankan sehari-hari. Berbagai tugas kuliah tidak hanya bersifat akademis semata, tetapi menuntutnya untuk melakukan analisis mendalam dan mencari solusi konkret atas permasalahan nyata yang dihadapi perusahaannya.
“Setelah kuliah, pengambilan keputusan menjadi lebih sistematis dan berdasarkan akar masalah. Tidak lagi hanya mengandalkan intuisi atau pengalaman,” jelas Lala, menyoroti perubahan signifikan dalam cara ia memandang dan menyelesaikan persoalan bisnis.
Transformasi pola pikir ini memberikan dampak langsung yang positif pada kinerja perusahaan. Saat itu, bisnisnya tengah berada dalam fase krusial untuk peningkatan kapasitas, yang membutuhkan inovasi berkelanjutan dan keberanian dalam mengambil risiko yang terukur. Dengan strategi yang lebih terarah dan berdasarkan analisis yang matang, perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan hingga tiga kali lipat. Selain itu, Lala juga berhasil memperluas portofolio produk dan menerapkan strategi pemasaran yang lebih fokus, yang pada akhirnya menopang pertumbuhan omzet yang stabil hingga saat ini.
Meskipun telah merasakan manfaat besar dari pendidikan S2, Lala tidak pernah berhenti untuk belajar dan bertumbuh. Atas saran dari para mentornya, ia kembali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu Program Studi Doktor Manajemen dan Entrepreneurship (DME) di universitas yang sama. Saat ini, Lala tercatat sebagai mahasiswa semester dua di program doktor tersebut.
Awalnya, Lala memiliki persepsi bahwa program doktor hanya diperuntukkan bagi mereka yang bercita-cita menjadi akademisi. Namun, seiring berjalannya waktu dan pengalaman selama menjalani program, ia menyadari bahwa jenjang pendidikan doktoral justru membentuk cara berpikir yang jauh lebih strategis, komprehensif, dan visioner.
“Program doktor bukan soal titel. Yang paling terasa adalah perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan strategis dan operasional,” tegasnya, menekankan nilai fundamental dari pendidikan doktor yang ia rasakan.
Menjalani peran ganda sebagai pemimpin perusahaan yang sibuk sekaligus sebagai mahasiswa doktoral tentu bukanlah tugas yang mudah. Lala harus menerapkan disiplin waktu yang ketat, seringkali harus mengorbankan waktu tidur dengan tidur lebih larut dan bangun lebih pagi. Selain itu, ia juga belajar pentingnya mendelegasikan tanggung jawab kepada timnya agar operasional perusahaan tetap berjalan lancar.
Dukungan dari keluarga dan para rekan kuliahnya menjadi sumber semangat yang tak ternilai. Mayoritas rekan sesama mahasiswa doktoralnya adalah para wirausaha dan profesional dari berbagai daerah, yang menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan inspiratif.
Lala menilai bahwa lingkungan akademik di Universitas Ciputra memiliki budaya kekeluargaan yang kuat. Hubungan yang terjalin selama masa studi terbukti tetap terjaga bahkan setelah para lulusan menyelesaikan program mereka.
“Dukungan teman sangat mempengaruhi kesuksesan studi. Teman-teman magister di angkatan saya saling support dan mereka semua ternyata tidak ada yang menjadi tenaga pendidik. Semuanya entrepreneur dan professional, domisilinya bukan cuma di Surabaya, tapi juga Jakarta bahkan Timor Leste,” kenangnya dengan hangat, menggambarkan betapa berharganya jejaring yang ia bangun.
Ke depannya, Lala memiliki harapan besar agar riset disertasinya dapat memberikan kontribusi yang lebih luas, khususnya bagi para pelaku usaha di sektor ritel yang semakin hari semakin kompetitif. Baginya, pendidikan pascasarjana adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya bertujuan untuk memperkuat fondasi perusahaan, tetapi juga untuk membentuk kepemimpinan yang lebih visioner dan adaptif terhadap perubahan.
“Belajar adalah proses seumur hidup. Selama kita mau bertumbuh, selalu ada ruang untuk berkembang,” tutup Lala, menggarisbawahi filosofi hidupnya yang tak pernah berhenti belajar dan berevolusi.



















