Fokus Pemerintah pada Penghapusan Kemiskinan Ekstrem
Saat ini, pemerintah Indonesia menempatkan penghapusan kemiskinan ekstrem sebagai prioritas utama dengan target mencapai angka 0 persen pada tahun 2026. Hal ini menjadi salah satu agenda besar yang dijalankan dalam beberapa tahun ke depan. Dengan upaya yang terus digencarkan, pemerintah berupaya untuk memastikan masyarakat yang berada di lapisan paling bawah dapat segera terbantu dan keluar dari jerat kemiskinan.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat kelas menengah. Ia meminta kelompok ini untuk bersabar di tengah upaya pemerintah yang saat ini tengah memprioritaskan pengentasan kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem.
Cak Imin menjelaskan bahwa fokus pemerintah saat ini memang diarahkan untuk memastikan masyarakat yang paling miskin bisa segera mendapatkan bantuan. Oleh karena itu, perhatian dan alokasi kebijakan masih diprioritaskan ke sektor tersebut. Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa pemerintah tidak mengabaikan kondisi kelas menengah. Ia hanya meminta adanya pengertian dan kesabaran dari kelompok ini, mengingat situasi dan tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini membutuhkan penanganan yang bertahap.
Peran Kelas Menengah dalam Stabilitas Ekonomi Nasional
Meski bukan prioritas utama saat ini, pemerintah menegaskan bahwa kondisi dan peran kelas menengah tetap menjadi perhatian ke depan. Kelas menengah memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Oleh sebab itu, keseimbangan kebijakan ke depan diharapkan dapat tetap memperhatikan seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Cak Imin menyampaikan bahwa permasalahan kelas menengah menjadi topik lain yang akan ditangani oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menambahkan bahwa pemerintahan yang baru belajar satu setengah tahun ini membutuhkan waktu untuk bergerak mengatasi permasalahan satu per satu.
“Kita akan terus bekerja keras, tetapi yang paling pokok kita tuntaskan dulu yang miskin ekstrem,” kata Cak Imin. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan melepas tanggung jawab mereka untuk menuntaskan permasalahan ini.
Kinerja Pemerintah dalam Mengurangi Kemiskinan Ekstrem
Sebelumnya, Cak Imin mengungkapkan bahwa kemiskinan ekstrem berhasil turun dari 1,26 persen pada Maret 2024 menjadi 0,78 persen pada September 2025. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk miskin ekstrem kini berjumlah 2,2 juta orang dari sebelumnya 3,56 juta orang. Ini patut disyukuri, namun pemerintah masih memiliki tanggungan untuk membantu 2,2 juta orang tersebut.
Namun, Cak Imin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu segera diatasi pemerintah. Ribuan keluarga kelompok desil 1 atau miskin ekstrem belum tersentuh bantuan. Lebih dari 774 ribu keluarga pada kelompok desil 1 masih belum menerima program bantuan, terutama di wilayah seperti Kulonprogo, Garut, Bogor, Cirebon, dan Cianjur.
Selain itu, masih terdapat 8,1 persen keluarga yang belum menerima bantuan, serta 60,2 persen keluarga desil 1 yang baru menerima satu hingga dua program. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Harapan untuk Keseimbangan Kebijakan
Dengan target ambisius mencapai 0 persen pada tahun 2026, pemerintah terus mengembangkan berbagai program sosial dan pemberdayaan agar mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan. Di sisi lain, kondisi kelas menengah juga menjadi perhatian, mengingat perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Cak Imin menegaskan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras, tetapi yang paling pokok adalah menuntaskan masalah kemiskinan ekstrem terlebih dahulu. Ia berharap masyarakat kelas menengah dapat memberikan pengertian dan kesabaran, karena penanganan masalah ini memerlukan waktu dan langkah-langkah yang bertahap.
















