Pencegahan Risiko Menjelang Lebaran Topat: Polisi Sita Meriam Lodong di Mataram
Menjelang perayaan Lebaran Topat yang selalu dinanti, aparat kepolisian di Mataram mengambil langkah proaktif dengan menyita sejumlah meriam lodong berukuran besar dari tangan warga. Tindakan ini dilakukan pada Sabtu dini hari, 30 Maret 2026, sebagai upaya pencegahan dini untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat. Penertiban ini dipimpin oleh Bhabinkamtibmas Kelurahan Punia, Aiptu I Made Mita, dari jajaran Kepolisian Sektor Mataram.
Meriam lodong, yang kerap kali diisi dengan spiritus dan menghasilkan suara dentuman keras, telah menjadi fenomena yang cukup populer di kalangan warga selama bulan Ramadan. Alat yang umumnya terbuat dari kaleng bekas atau pipa paralon ini, meskipun dianggap sebagai bagian dari hiburan tradisional, ternyata menyimpan potensi bahaya yang signifikan.
Ancaman Tersembunyi di Balik Dentuman Keras
Suara dentuman yang dihasilkan oleh meriam lodong memang sering kali menjadi bagian dari kemeriahan suasana Ramadan bagi sebagian masyarakat. Namun, di balik suara yang menggelegar tersebut, terdapat risiko nyata yang mengintai. Kapolsek Mataram, AKP Mulyadi, secara tegas menyatakan bahwa pengamanan meriam lodong ini merupakan bagian integral dari upaya preventif kepolisian. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang mungkin timbul, terutama menjelang momen penting seperti Lebaran Topat.
“Pengamanan ini kami lakukan sebagai bentuk pencegahan,” ungkap AKP Mulyadi. “Selain suara ledakan yang bisa mengganggu kenyamanan publik, petasan spiritus ini juga memiliki potensi untuk menimbulkan cedera serius seperti luka bakar, bahkan dapat memicu kebakaran jika tidak ditangani dengan hati-hati.”
Meriam Lodong: Tradisi yang Berisiko Tinggi
Permainan meriam lodong, yang memanfaatkan prinsip uap dari spiritus yang dibakar untuk menghasilkan suara ledakan, memang memiliki daya tarik tersendiri. Proses pembuatannya yang relatif sederhana menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti kaleng bekas atau pipa paralon, menjadikannya aksesibel bagi banyak kalangan. Namun, kesederhanaan ini tidak sebanding dengan kompleksitas risiko yang ditimbulkannya.
Beberapa potensi bahaya yang terkait dengan penggunaan meriam lodong meliputi:
- Risiko Luka Bakar: Percikan spiritus yang mudah terbakar dapat menyebabkan luka bakar serius pada pengguna maupun orang di sekitarnya. Jarak aman seringkali diabaikan dalam kegembiraan bermain, meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
- Bahaya Kebakaran: Spiritus adalah cairan yang sangat mudah terbakar. Penggunaan meriam lodong di area yang dekat dengan material mudah terbakar, seperti rumput kering, bangunan kayu, atau bahkan pakaian, dapat dengan cepat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
- Gangguan Ketertiban Umum: Suara dentuman yang sangat keras dapat mengganggu kenyamanan warga, terutama bagi mereka yang sedang beristirahat, sakit, atau anak-anak. Hal ini dapat menimbulkan keresahan dan menurunkan kualitas lingkungan hidup bermasyarakat.
- Potensi Kerusakan Properti: Meskipun jarang terjadi, ledakan yang sangat kuat dari meriam lodong yang dibuat secara tidak standar atau digunakan di lokasi yang sempit dapat berpotensi merusak benda-benda di sekitarnya.
Langkah Pencegahan demi Kenyamanan Bersama
Kepolisian Sektor Mataram, melalui upaya Bhabinkamtibmas yang aktif menjangkau masyarakat di tingkat kelurahan, berupaya menanamkan kesadaran akan pentingnya keselamatan. Penyitaan meriam lodong ini bukan semata-mata untuk menghilangkan tradisi, melainkan untuk mengarahkan kembali semangat perayaan ke arah yang lebih aman dan positif.
Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para pemuda, untuk menghentikan aktivitas bermain meriam lodong. Alih-alih mencari hiburan yang berisiko, masyarakat diajak untuk merayakan momen Lebaran Topat dengan cara-cara yang lebih positif dan konstruktif, yang tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Lebaran Topat sendiri merupakan tradisi unik di Lombok yang menandai akhir dari bulan Ramadan, di mana masyarakat biasanya merayakannya dengan berbagai kegiatan seperti berkumpul, makan bersama, dan mengunjungi tempat-tempat wisata. Menjaga agar perayaan ini berjalan lancar dan aman adalah tanggung jawab bersama. Dengan adanya langkah pencegahan seperti ini, diharapkan seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan khidmat, aman, dan penuh kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Mataram.


















