Mojtaba Khamenei Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Ketiga, Meneruskan Estafet Kepemimpinan
Iran kini memiliki pemimpin tertinggi baru. Setelah sepuluh hari mengalami kekosongan kepemimpinan pascagugurnya Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026, Majelis Pakar secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang ketiga. Penetapan ini dilakukan dalam sidang luar biasa pada Senin, 9 Maret 2026, di tengah situasi genting yang diwarnai perang dan ancaman keamanan, demi menjaga stabilitas politik dan konstitusi negara.
Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, adalah seorang ulama bergelar hojatoleslam. Ia memiliki latar belakang militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan dikenal sebagai sosok yang jarang tampil di publik. Penunjukannya ini menandai babak baru dalam lanskap kepemimpinan Iran, meneruskan estafet dari ayahnya yang telah memimpin negara selama bertahun-tahun.
Peran Krusial Majelis Pakar dalam Penunjukan Pemimpin Tertinggi
Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan oleh Majelis Pakar, sebuah lembaga keagamaan-politik yang memegang peranan paling vital dalam sistem Republik Islam Iran. Lembaga ini beranggotakan 88 orang ulama senior yang bertugas menjalankan fungsi krusial: memilih, mengawasi, dan secara teoritis, memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader).
Keputusan Majelis Pakar ini tertuang dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan tepat setelah tengah malam waktu Teheran. “Dengan suara yang menentukan, Majelis Pakar menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Profil Mojtaba Khamenei: Dari Latar Belakang Militer hingga Hierarki Ulama
Mojtaba Khamenei lahir di kota Mashhad, Iran, pada 8 September 1969. Perjalanan hidupnya mencakup pendidikan di Sardasht dan Mahabad, serta menyelesaikan pendidikan menengah atas di Teheran. Ia kemudian mendalami teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan ulama terkemuka lainnya, Mahmoud Hashemi Shahroudi.
Titik balik penting dalam kariernya terjadi pada tahun 1987 ketika ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan turut serta dalam Perang Iran-Irak. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom untuk memperdalam ilmunya sebagai ulama dan kemudian menjadi pengajar di Seminari Qom.
Saat ini, Mojtaba menyandang gelar hojatoleslam, sebuah tingkatan ulama menengah dalam hierarki Syiah. Status ini sempat memicu perdebatan, mengingat posisi pemimpin tertinggi Iran umumnya dijabat oleh ulama dengan gelar ayatollah yang lebih tinggi. Kendati demikian, Majelis Pakar tampaknya telah mempertimbangkan berbagai faktor dalam keputusannya.
Mojtaba Khamenei sendiri dikenal sebagai sosok yang tertutup. Ia jarang sekali tampil di depan publik, nyaris tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka. Banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya, meski namanya kerap disebut dalam lingkaran kekuasaan.
Pernyataan Resmi Majelis Pakar Iran: Menegaskan Stabilitas dan Kepemimpinan
Setelah proses penunjukan selesai, Majelis Pakar mengeluarkan pernyataan resminya yang merinci proses dan alasan di balik keputusan tersebut. Pernyataan ini diawali dengan basmalah dan salam kepada rakyat Iran.
Majelis Ahli Kepemimpinan menyampaikan belasungkawa atas “syahidnya pemimpin besar Yang Mulia Ayatullah Imam Khamenei (semoga Allah menyucikan jiwanya yang murni)” dan para korban lainnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Majelis tidak ragu sedikit pun dalam proses pemilihan dan pengenalan kepemimpinan sistem Islam.
“Meskipun negara tengah menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen lembaga untuk tetap menjalankan fungsinya meski dalam situasi yang sangat menantang.
Pernyataan tersebut juga menggarisbawahi bahwa negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan, sesuai dengan konstitusi yang mengatur pembentukan dewan sementara. Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) dan pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam. Mereka juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang berlandaskan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.
Proses Pemilihan dan Ajakan Kesetiaan
Melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, Majelis Ahli dalam sidang luar biasa tersebut secara bulat mengangkat Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran.
Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara dan mengundang seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual dari seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru. Majelis juga menyerukan persatuan di sekitar poros Kepemimpinan, seraya memohon rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa bagi bangsa dan rakyat Iran.
Pernyataan resmi ini ditutup dengan salam, rahmat, dan berkah Allah, serta ditandatangani oleh Majelis Ahli Kepemimpinan dengan penanggalan 17/12/1404 dalam kalender Iran.
Sekilas tentang Majelis Ahli Iran
Majelis Ahli Iran, atau Assembly of Experts (dalam bahasa Persia: Majles-e Khobregan-e Rahbari), merupakan pilar fundamental dalam struktur kekuasaan Iran. Lembaga ini lahir pasca Revolusi Iran tahun 1979, seiring dengan penggantian rezim monarki Shah oleh negara teokrasi yang dipimpin oleh ulama Syiah. Konsep Wilayat al-Faqih (kepemimpinan ulama) yang diperkenalkan oleh Ruhollah Khomeini menjadi dasar pembentukan Majelis Ahli.
Latar Belakang dan Sejarah Pembentukan
Setelah Revolusi Iran 1979, konsep kepemimpinan ulama yang diusung oleh Ruhollah Khomeini menuntut adanya sebuah badan yang berwenang menentukan siapa yang layak memegang posisi tertinggi sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Konstitusi Iran kemudian membentuk Majelis Ahli untuk menjalankan tugas tersebut.
Komposisi dan Keanggotaan
Majelis Ahli terdiri dari para ulama Syiah senior yang memiliki keahlian mendalam dalam hukum Islam (fiqh).
- Jumlah Anggota: 88 orang.
- Masa Jabatan: 8 tahun.
- Proses Pemilihan: Dipilih melalui pemilihan umum langsung oleh rakyat Iran.
- Kualifikasi Kandidat: Calon haruslah seorang ulama yang memiliki kemampuan ijtihad, yaitu kemampuan untuk menafsirkan hukum Islam secara mendalam.
Tugas Utama Majelis Ahli
Konstitusi Iran secara spesifik memberikan dua kewenangan utama kepada Majelis Ahli:
- Memilih Supreme Leader: Ketika posisi Rahbar mengalami kekosongan, misalnya karena wafat, Majelis Ahli memiliki wewenang untuk:
- Mengidentifikasi kandidat ulama yang memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan.
- Melakukan pembahasan mendalam mengenai para kandidat dalam forum tertutup.
- Memilih satu orang untuk menduduki posisi Pemimpin Tertinggi melalui pemungutan suara mayoritas.




















