Janji-Janji Besar Presiden Prabowo di Hari Buruh 2026
Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang digelar di Monumen Nasional, Jakarta, Jumat (1/5/2026), mengumumkan berbagai program besar yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam pidatonya, ia menjanjikan pembangunan 1 juta rumah subsidi bagi buruh di dekat kawasan industri, lengkap dengan fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, dan daycare. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pekerja, terutama yang tinggal di daerah perkantoran atau industri.
Selain itu, Prabowo juga menyatakan bahwa pemerintah akan membagikan pendapatan bagi pengemudi ojek online (ojol) sebesar minimal 92 persen dari hasil kerja, dengan potongan hanya 8 persen, turun dari sebelumnya 20 persen. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah meneken Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online. Aturan ini menjamin pengemudi ojol mendapatkan jaminan kecelakaan kerja melalui BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya.
Prabowo juga mendorong percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan agar segera disahkan tahun ini, dengan tetap berpihak pada kepentingan buruh. Selain itu, ia menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan perlindungan bagi rakyat berpenghasilan rendah senilai Rp500 triliun. Hal ini dilengkapi dengan peningkatan upah minimum dan penyediaan rumah bersubsidi.
Tidak hanya itu, Prabowo juga menandatangani Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2026 tentang ratifikasi konvensi International Labour Organization Nomor 188 untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan kaum nelayan. Pada 2026 ini, pemerintah juga akan meresmikan 1.386 kampung nelayan sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas maritim.
Pengamat Meragukan Realisasi Janji-Janji tersebut
Meski janji-janji yang diberikan oleh Presiden Prabowo terdengar menjanjikan, banyak pengamat merasa pesimis bahwa semua program tersebut bisa terealisasi. Salah satunya adalah Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik. Ia menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat tertekan, sehingga sulit untuk menjalankan berbagai program besar yang dijanjikan.
Agus menilai bahwa semua pos keuangan di Indonesia sudah tergerus hingga tinggal Rp120 triliun. Ia mengkhawatirkan bahwa tidak ada dasar kebijakan atau regulasi yang cukup untuk mendukung janji-janji yang dikeluarkan oleh Presiden. “Saya sih ragu ya dari sisi panel and support. Kita sudah kegerus ini sekarang semua pos keuangan. Cadangan tinggal 120 triliun,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa beberapa program yang diumumkan oleh Prabowo sejak masa kampanye telah memakan anggaran besar. Namun, dengan sisa dana yang ada saat ini, Agus merasa tidak yakin bahwa janji-janji tersebut bisa direalisasikan. “Ya, personalnya, kita kekurangan dana, terserah Pak Prabowo. Kan dananya semua habis ke program-program dia, baik program-program kampanye maupun program-program dadakan,” katanya.
Selain itu, Agus menilai bahwa tekanan fiskal yang terjadi, mulai dari merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga melemahnya nilai tukar Rupiah, membuat situasi semakin sulit. “Saya ragu itu ada andanya. Dan lagi yang kedua saya katakan tadi underlying semua yang disebutkan Pak Prabowo itu belum ada. Nah, itu harus dibereskan dulu, mau tahun ini saya ragu terus terang.”
Masa Depan Janji-Janji Presiden
Dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil dan dana negara yang terbatas, pertanyaan besar muncul tentang kemampuan pemerintah dalam merealisasikan janji-janji yang diumumkan. Meskipun Presiden Prabowo memiliki visi besar untuk kesejahteraan rakyat, tantangan yang dihadapi sangat berat.
Pengamat seperti Agus Pambagio menyarankan agar pemerintah lebih realistis dalam membuat kebijakan. Mereka menekankan pentingnya adanya dasar regulasi yang kuat sebelum menciptakan program baru. Tanpa landasan yang jelas, risiko kegagalan dan bahaya bagi tata kelola negara menjadi lebih besar.
Seiring dengan hal tersebut, masyarakat dan para ahli ekonomi tetap menantikan bagaimana pemerintah akan mengelola anggaran dan prioritas kebijakan di masa depan. Apakah janji-janji besar yang diumumkan dapat diwujudkan atau hanya menjadi harapan belaka, masih menjadi pertanyaan besar yang belum memiliki jawaban pasti.
















