Serangan Gabungan TNI-Polri Berhasil Rebut Markas KKB di Nabire, Satu Prajurit Terluka
Nabire, Papua Tengah – Upaya penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Papua Tengah kembali membuahkan hasil. Tim gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil menguasai sebuah markas yang diduga kuat milik KKB di kawasan Kali Nabarua, Nabire, pada Minggu, 1 Maret. Operasi yang melibatkan tiga satuan tugas (satgas) ini tidak berjalan tanpa hambatan, diwarnai kontak tembak yang menyebabkan seorang prajurit TNI mengalami luka ringan.
Wakil Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Koops) TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa prajurit yang terluka terkena serpihan proyektil akibat pantulan atau rekoset di bagian betis kanan. Kendati demikian, kondisi prajurit tersebut dipastikan tidak mengancam jiwa dan telah mendapatkan penanganan medis segera.
“Korban tertembak ada satu anggota kita yang terkena rekoset di betis kanan. Antisipasi kami tentu apabila sudah terjadi perdarahan harus segera dilakukan evakuasi. Anggota tersebut langsung dievakuasi dan saat ini sudah tertangani. Kondisinya tidak terlalu serius karena hanya serpihan proyektil,” ujar Brigjen TNI Riyanto.
Operasi penyerbuan markas KKB, yang juga kerap diidentifikasi sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM), ini merupakan hasil kolaborasi antara Satgas Rajawali, Koops TNI Habema, dan Satgas Operasi Damai Cartenz 2026. Tindakan tegas ini diambil setelah aparat keamanan mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan dari kelompok bersenjata di wilayah Kali Nabarua.
Menurut Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua Tengah, Kombes Pol Gustav Robby Urbinas, operasi gabungan tersebut dilandasi oleh laporan polisi Nomor: B/119/II/2026 yang diajukan oleh Polres Nabire. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa KKB yang beraktivitas di Kali Nabarua tengah merencanakan serangkaian aksi yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Kronologi Penemuan dan Penindakan
Berdasarkan hasil penyelidikan mendalam dan pengumpulan informasi intelijen, terungkap bahwa kelompok KKB tersebut telah berpindah dari wilayah Kimi menuju Nabarua. Di lokasi Nabarua, mereka diketahui menempati sebuah kamp yang menjadi pusat aktivitas mereka. Di markas inilah, kelompok tersebut diduga kuat menggelar pertemuan internal, melakukan penggalangan dukungan logistik, serta merumuskan strategi untuk melancarkan aksi gangguan keamanan di Nabire dan sekitarnya.
Menyikapi informasi tersebut, Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 bersama dengan Satgas Rajawali segera menyusun rencana operasi dan strategi penindakan yang matang. Langkah-langkah taktis pun disusun, termasuk penempatan titik-titik penyekatan strategis dan pelaksanaan pengamatan intensif di sekitar area Kali Nabarua untuk memantau pergerakan para terduga.
“Saat tim mendekati lokasi camp, terjadi kontak tembak antara aparat keamanan dan kelompok kriminal bersenjata. Tim bantuan turut disiagakan untuk memperkuat personel di lapangan,” jelas Kombes Pol Gustav Robby Urbinas.
Hasil Operasi dan Pengejaran
Setelah serangkaian tindakan penegakan hukum yang dilakukan secara terukur, aparat gabungan berhasil menguasai sepenuhnya lokasi kamp yang diduga menjadi markas KKB. Situasi di area tersebut berhasil diamankan. Namun, para anggota KKB yang berada di dalam kamp dilaporkan berhasil melarikan diri ke dalam hutan belantara. Hingga berita ini diturunkan, upaya pengejaran terhadap mereka masih terus dilakukan oleh aparat keamanan.
Operasi ini tidak hanya berhasil mengamankan lokasi, tetapi juga berbuah manis dengan ditemukannya sejumlah barang bukti yang signifikan. Barang bukti tersebut antara lain:
- 561 butir amunisi dari berbagai kaliber.
- Sepuluh unit magasin senjata.
- Dua belas unit telepon genggam.
- Lima unit alat komunikasi.
- Uang tunai dalam jumlah puluhan juta rupiah.
- Sejumlah bendera yang diduga berkaitan dengan KKB.
- Berbagai perlengkapan lainnya yang mendukung aktivitas kelompok tersebut.
Pihak kepolisian dan TNI menegaskan komitmen mereka untuk terus menjaga stabilitas keamanan di Papua Tengah. Upaya pengejaran terhadap anggota KKB yang melarikan diri akan terus digalakkan demi memastikan keselamatan dan ketenteraman masyarakat.
“Kami menegaskan bahwa aparat gabungan masih terus melakukan pengejaran dan berkomitmen menjaga stabilitas keamanan serta keselamatan masyarakat,” tegas Brigjen TNI Riyanto.
Operasi ini menjadi bukti nyata keseriusan TNI dan Polri dalam memberantas aktivitas kelompok bersenjata yang mengganggu ketertiban umum dan mengancam keselamatan warga di Bumi Cenderawasih. Upaya penindakan ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan mengembalikan kedamaian di wilayah Papua Tengah.




















